Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2009

ECCLESIA REFORMATA SEMPER REFORMANDA

7 Dilema, 7 Keseimbangan, 7 Prinsip Pembaruan & 7 Strategi Pembaruan

GEJALA BELAKANGAN DALAM TUBUH PROTESTANTISME

Pergumulan yang berawal dari beberapa kenyataan yang amat jelas terpampang di depan mata. Saya ingin memberi dua contoh paling penting.

1. Heterogenisasi dan Homogenisasi

Pertama, di satu sisi, kita menyaksikan terjadinya heterogenisasi, pemajemukan, pemer­kayaan warna teologis gereja-gereja reformatoris, baik dengan segi ajaran, ibadah maupun etika. Saya memahami ini memang sudah menjadi konsekuensi dari salah satu prinsip utama Protestant­isme, yaitu sola scriptura (hanya oleh Alkitab), yang sejak zaman Luther membuat umat bisa membaca Alkitabnya sendiri dan memberikan refleksi pribadi atasnya. Otoritas hirarki gerejawi (Paus) ditentang dan terjadilah demokratisasi pembacaan Alkitab. Alhasil, orang-orang Protestan tak memiliki hirarki legal yang memiliki otoritas untuk mengawasi dan mengontrol ajaran yang berkembang. Selama ratusan tahun hingga kini kemudian terbentuklah keberagaman cara dan isi penafsiran Alkitab. Dan ketika keberagam­an ini tidak bisa diakomodasi, maka terjadilah perpe­cahan dan perpisahan. Maka tak heran jika dalam bagan gereja sedunia, pihak Protestanlah yang paling banyak memiliki anak-anak cabang yang independen.

Di sisi lain, sebagai reaksi atas kenyataan di atas, saya melihat adanya usaha untuk justru melakukan homogenisasi, standardisasi, pemutlakan teologi tunggal oleh banyak pihak di kalangan gereja-gereja Protestan. Tak jarang kita mendengar ungkapan, “Inilah doktrin yang paling benar, paling alkitabiah!” dan segera dibarengi dengan ungkapan lain, “Apa yang tidak sesuai dengan ajaran ini berarti sesat dan tidak alkitabiah!” Gejala ini dalam skala ekstrim memunculkan fundamentalisme, yaitu suatu cara pandang yang mengabsolut­kan satu perspektif dengan cara mengkafirkan perspektif lain yang tidak sesuai dengan dirinya.

Pertengkaran antargereja yang terjadi di lapisan para pejabat maupun umat akhir-akhir ini, terbuka atau hanya saling sindir, sebenarnya menunjukkan adanya ketegangan dan dilema antara ortodoksi dan heterodoksi, antara kelurusan ajaran dan kewarna-warnian ajaran. Di sisi mana kita harus berdiri?

2. Pelembagaan dan Revivalisasi-Sepotong

Kedua, saya mengamati pula kecenderungan adanya ketegangan antara pelembagaan gereja reformatoris arus utama (mainstream churche) di satu sisi dan pembangkitan kemba­li gereja secara sepotong dalam dimensi-dimensi yang amat terbatas di sisi lain.

Gereja-gereja arus utama, terlalu disibukkan dengan usaha mengorganisasi diri dan dengan demikian kehilangan semangat mula-mula. Segala sesuatu yang terjadi di gereja diukur dari kecocokannya dengan peraturan dan sistem organisasi. Dengan demikian gereja sebagai organisme berubah menjadi organisasi. Gerakan menjadi lembaga. Pada titik ini apa yang sudah menjadi warisan masa lalu menjadi baku, beku dan baka

Di sisi lain, cabang Protestantisme yang dimulai oleh Pentakostalisme dan bergerak menu­ju neo-Pentakostalisme (Kharismatisisme) dan bahkan neo-neo-Pentakostalisme (neo-Kharis­matis­isme) mengalami kebangunan rohani besar-besaran, yang sayangnya terlalu timpang menekan­kan pengalaman rohani (spiritual experiences) dan cenderung meng­abaikan hal-hal penting lain, seperti doktrin dan etika. Dalam hal ajaran (doktrin), terjadi ketidakteraturan teologis. Seorang pemimpin bisa memiliki pandangan apa saja, seaneh apapun, asal mendukung pengalaman rohaninya dan didukung oleh umat yang mengidola­kannya secara fanatik. Dalam hal etika, kita melihat gerakan ini amat miskin dalam paham dan praktik teologi sosialnya (peran gereja di dalam masyarakat – etika sosial), maupun dalam paham dan praktik teologi ekumenenya (kebersamaan antargereja). Dalam hal etika sosial, mereka cenderung melarikan diri dari tugas kenabian. Sedang dalam hal etika ekumene, mereka tampak kurang peduli pada perasaan gereja-gereja lain.

TUJUH MASALAH UTAMA

Dua gejala di atas hanyalah contoh tentang apa yang tengah terjadi di tubuh gereja-gereja Protestantisme. Sebuah buku bagus berjudul The Re-forming Tradition, karangan Milton J. Coalter, John M. Mulder dan Louis B. Weeks, menunjukkan bahwa gejala-gejala ini bisa dike­lom­pokkan menjadi tujuh masalah utama. Namun ketujuh masalah tersebut mungkin tidak semuanya relevan untuk konteks Indonesia. Saya berusaha untuk menyesuaikannya dalam konteks kita kini dan di sini.

1. Penafsiran Alkitab

Ada dilema antara tugas mempertahankan otoritas Alkitab yang dipandang kekal di satu sisi dan tuntutan untuk memberi penafsiran yang lebih kontekstual di sisi lain. Tekanan berlebihan pada sisi pertama memunculkan fundamentalisme dengan prinsip ineransi (Alkitab tak mungkin salah pada naskah asli dalam segala hal), yang tidak peka dan terlalu konfrontatif serta over-reaktif pada isu-isu aktual. Tekanan berlebihan pada sisi kedua dapat memunculkan keraguan pada otoritas Alkitab karena semua teks harus ditafsir secara baru. Yang pertama membuat gereja sekedar mempertahankan teologi para reformator abad ke-16, sebagaimana ditunjuk­kan misalnya oleh kelompok reformed. Sedang yang kedua dimun­culkan oleh banyak teolog lulusan STT yang didukung Gereja.

2. Tugas pada Dunia

Ada dilema antara tugas melakukan pekabaran Injil secara pribadi kepada dunia dan tugas melakukan pelayanan sosial untuk memperbarui masyarakat. Yang satu bisa menjurus pada sikap terlalu menekankan aspek individual-rohani, yang lain pada sikap terlalu menekankan aspek sosial-jasmani.

3. Kuasa dan Otoritas

Ada dilema antara prinsip bahwa setiap orang bertanggung jawab atas keputusan pribadinya dan prinsip bahwa gereja memegang tugas dan tanggung jawab untuk mengatur dan menyeragamkan pemahaman teologis. Yang satu membuat kekristenan jadi agama personal, yang lain membuat kekristenan sekedar menjadi agama komunal.

4. Ekumenisme dan Denominasionalisme

Ada dilema antara tugas mempersatukan gereja-gereja menjadi satu tubuh secara organi­satoris dan tugas untuk menghargai kepelbagaian denominasi yang ada. Yang satu menjurus pada penyeragaman, yang lain menjurus pada pengkotak-kotakan yang terpisah-pisah.

5. Katolisitas dan Kontekstualitas

Ada dilema antara tugas memperjuangkan sifat am (katolik) dari gereja sehingga dasar bersama amat ditekankan dan tugas menerjemahkan iman dalam konteks yang khusus di mana gereja hadir.

6. Doktrin dan Pengalaman Rohani

Ada dilema antara tugas menjaga sistem ajaran di satu sisi dan tugas untuk mengem­bangkan kesempatan umat mengalami pengalaman rohani yang berarti. Yang pertama ditekankan secara berlebihan oleh kelompok yang mengaku diri injili, yang lain terlalu ditekankan secara berlebihan oleh gereja-gereja yang beraliran pentakostal dan kharismatik.

7. Eksklusivisme dan Universalisme

Ada dilema antara tugas mempertahankan prinsip keselamatan di dalam Kristus di satu sisi dan tugas mempertahankan pesan universal keselamatan yang Allah berikan. Yang satu bisa memunculkan eksklusivisme yang kemudian mengabsolutkan prinsip “keselamatan di dalam Kristus” menjadi doktrin “keselamatan sati-satunya melalu Kristus.” Yang lain me­mun­­culkan paham universalisme yang menghargai jalan keselamatan dalam agama-agama lain.

KEMBALI PADA SEMANGAT MULA-MULA

Dilema dan persoalan di atas membuat kehidupan gereja-gereja Prostestant tak pernah sepi dari perdebatan, konflik dan pertikaian. Di mana posisi gereja arus utama? Di mana gereja-gereja arus utama ketika terjadi konflik antara fundamentalisme-liberalisme, antara kesaksian rohani dan pelayanan sosial, antara eku­me­n­isme dan denominasionalisme, antara ortodoksi dan ortopietas, antara eksklusivisme dan universalisme?

Saya semakin berkeyakinan bahwa di tengah banyak dilema di atas ada dua prinsip penting yang bisa diperankan oleh Gereja. Yang pertama adalah prinsip keseimbangan (equilibrium principle) dan prinsip pembaruan (reforming principle). Rasanya kedua hal ini adalah semangat dari gerakan Protestant mula-mula.

Yang pertama, prinsip keseimbangan sebenarnya ingin menghindarkan gereja untuk menja­di ekstrim dan sektarian. Kata sektarian sebenarnya berarti “penekanan pada sektor tertentu saja.” Sebuah kelompok menjadi sektarian jika mereka sekedar memberi tekanan secara berat sebelah pada satu sektor dan mengabaikan sektor lainnya. Dan ketika kelompok sektarian ini kemudian memisahkan diri dari arus utama, maka ia disebut sekte. Prinsip keseimbangan mem­buat kita mengutuhkan seluruh dilema kita menjadi satu. Dilema itu tetap muncul dan akan selalu memunculkan ketegangan. Namun bergereja berarti menciptakan suatu ketegangan yang kreatif, ketegangan yang senantiasa membawa arah baru bagi masa depan kita. Maka dengan prinsip keseimbangan ini kita ingin menjadi gereja yang sama-sama menekankan:

«1. Otoritas Alkitab dan relevansinya senantiasa»

«2. Tugas pemberitaan Injil dan tugas pelayanan kasih»

«3. Tanggung jawab pribadi dan wewenang gerejawi»

«4. Kebersamaan dengan semua gereja sedunia dan keunikan masing-masing denominasi»

«5. Sifat katolik gereja dan karakter kontekstual gereja»

«6. Doktrin yang benar (ortodoksi) dan pengalaman rohani yang benar (ortopietas), dan malah karya yang benar (ortopraksis

«7. Keyakinan pada Kristus sebagai penyelamat kita dan keyakinan bahwa Allah berkarya di semua tempat, budaya dan agama»

Dalam hal ini benar apa yang dikatakan oleh Milton J. Coalter, John M. Mulder dan Louis B. Weeks, dalam buku yang disebut di atas,

Memelihara keseimbangan di semua rentangan tanggung jawab yang paralel jauh lebih dari sekedar bersikap netral. Sebaliknya sikap ini merupakan sebuah usaha yang keras dan penuh kehati-hatian untuk mempertahankan sebuah ketegangan terus-menerus antara penekanan yang bersaing dari iman Kristen ...

Jadi memang dibutuhkan usaha yang menggabungkan kreativitas, kebijaksanaan dan sekaligus keberanian untuk dari hari ke hari semakin menjadi gereja yang seimbang, utuh dan setia pada semua tugasnya.

Yang kedua adalah prinsip pembaruan terus-menerus. Yang menjadi pertanyaan utama kita sebenarnya, apa yang membuat kita sebenarnya menjadi sebuah gereja reformatoris? Apakah sistem organisasi presbiterial, luterial kita? Apakah kumpulan doktrin kita (predestinasi, tiga sola dan sebagainya)? Apakah sistem liturgi kita? Sebenarnya bukan! Apa yang membuat kita tetap menjadi gereja reformatoris sebenanya adalah semangat reformasi itu sendiri. Semangat yang diungkapkan dalam sebuah pameo Latin, ecclesia reformata semper reformanda, gereja yang sudah direformasi perlu direformasi terus. Di balik semangat ini terkandung beberapa kaidah teologis yang penting.

1. Movement, bukan monument

Apa yang diusahakan oleh Luther, Zwingli, Calvin dan tokoh lainnya pada abad ke-16 bukanlah sebuah tonggak (monumen) saja, namun lebih dari itu, sebuah gerakan (movement), hulu dari sebuah sungai yang bergerak terus sampai pada saatnya mencapai lautan lepas. Sekali ia berhenti ia menjadi rawa yang menyimpan kematian. Gereja yang sejati justru adalah gereja yang bersedia meninggalkan kekakuannya dan menemukan terus secara baru jatidirinya.

2. Proses, bukan masa lalu

Semangat ini menyadarkan kita bahwa reformasi adalah sebuah proses (reforming) tanpa henti dan bukan sekedar menjadi sebuah peristiwa tunggal masa lalu (reformed) yang harus dibakukan dan dibekukan sepanjang zaman. Maka dari itu amat menggelikan – juga bagi Calvin tentu! – jika ada saja kelompok protestant tertentu yang mengklaim diri sebagai penerus/pewaris terlengkap ajaran Calvin.

3. Relevansi sebagai pendorong

Gerakan reformasi yang terus-menerus mengandaikan adanya tuntutan untuk merele­van­sikan iman kristiani dalam konteks zaman yang senantiasa berubah. “New occasions teach new duties.”

4. Gereja tidak pernah sempurna

Semangat ini juga menunjukkan keyakinan kita bahwa gereja tidak pernah sempurna. Tak pernah ada doktrin yang sempurna dan timeless. Hanya Allah yang sempurna. Justru di dalam ketidaksempurnaan ini kita terus berlari dan berproses, dengan cara mengakui keter­ba­tasan kita kini di sini dan mencoba menemukan celah dan jalan baru menggereja ke masa depan.

5. Penghargaan pada kepelbagaian

Karena konteks yang berubah itu majemuk, maka harus disadari bahwa reformasi di setiap konteks bisa memunculkan hasil yang beragam dan majemuk pula. Maka kepelba­gaian memang sebuah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Menyangkal kepelbagaian dengan cara mengkafirkan hasil reformasi di konteks yang berbeda dengan kita sama halnya dengan menyangkal semangat ini.

6. Firman Allah sebagai tuntunan

Firman Allah memang tak berubah, namun cara memandang dan menafsirkannya harus selalu berubah. Sayang banyak gereja reformasi yang mengklaim diri sebagai pengem­ban amanat Firman Allah yang terbenar. Padahal mereka tak menyadari apa yang mereka sebut sebagai “Firman Allah” sebenarnya adalah “interpretasi mereka tentang Firman Allah.”

7. Pentingnya otokritik

Semangat ini menunjukkan penting otokritik, kritik terhadap diri sendiri. Sama seperti Luther sebagai bagian dari gereja Roma saat itu melakukan otokritik terhadap gerejanya, maka kita sekarang juga perlu melakukan otokritik terhadap gereja kita sendiri. Paul Tillich mengatakan bahwa prinsip reformasi ini merupakan “penghakiman profetis melawan kecongkakan religius dan arogansi gerejawi.”

Prinsip-prinsip di atas membuat kita sadar bahwa gereja memang bisa berubah. Perubahan itu justru didorong oleh dasar iman yang tidak bisa berubah, yaitu Allah Tritunggal yang menyatakan diri dalam Firman-Nya dan sejarah. Ini yang tidak bisa berubah! Selebih bisa dan harus selalu mengalami pembaruan.

BEBERAPA LANGKAH STRATEGIS

Berdasarkan kedua prinsip di atas, maka saya mencoba menawarkan beberapa langkah stra­te­gis bagi Anda semua. Artinya, memang tidak ada tip dan resep praktis untuk memberlaku­kan kedua prinsip ini. Anda sendiri yang musti menerjemahkannya dalam konteks khusus Anda.

1. Menyeimbangkan doktrin, perasaan beragama dan praksis

Dalam sejarah gereja-gereja reformed (Calvinisme) sebenarnya terdapat tiga kelompok gereja yang memiliki nuansa berbeda-beda. Kelompok pertama adalah kelompok dok­trin­alis, yaitu mereka yang kebanyakan berasal dari Amerika Serikat, yang mewarisi semangat mempertahankan kebenaran doktrin (ortodoks) dari sebagian kelompok yang sama di Belan­da. Kedua adalah kelompok kulturalis yang muncul di sebagian besar gereja Belanda yang berhadapan dengan soal-soal sosial yang memperjuangkan peran kristiani dalam dunia sosial (ortopraksi). Ketiga adalah kelompok pietis yang ada di Amerika Serikat yang berakar pada tradisi Inggris, yang menekankan kesalehan hati (ortopietas). Ini semua membuat kita sadar bahwa memang tugas pembaruan kita adalah menyeimbangkan ketiga dimensi ini bersama-sama: doktrin, kesalehan dan praksis; ortodoksi, ortopietas dan ortopraksis.

2. Mengupayakan perubahan secara bijaksana dan kreatif agar isi iman kita makin relevan dengan situasi dan panggilan zaman

Perubahan harus berlangsung dalam semua aspek hidup gereja: ajaran, ibadah-liturgi, organisasi, teologi, dan sebagainya. Yang pasti perubahan tersebut tidak bisa seketika terjadi dan tidak bisa dilakukan asal-asalan. Perlu refleksi dan usaha belahar secara mendalam. Umat harus dididik untuk memiliki semangat semper reformanda ini.

3. Secara sadar menolak pengaruh ajaran yang pro-status-quo dan fundamentalistis

Fundamentalisme sekalipun menarik, ternyata amat merusak. Dr. Eka Darmaputera menyatakan bahwa memberi peluang pengaruh fundamentalisme ke dalam gereja ternyata lebih banyak ruginya daripada untungnya.

4. Mengupayakan perubahan dengan mulai dari visi akhir

Perubahan yang dilakukan tanpa arah sama sekali justru akan merusak tata hidup bersama. jangan melakukan perubahan secara sporadis, hanya karena ketertarikan pada praktik bergereja lain. Namun, mulailah dengan menancapkan visi gereja mendatang dan kemudian merancang strategi-startegi perubahan yang lebih sehat.

5. Mengupayakan perubahan dengan tetap memelihara kesatuan dalam kepelbagaian

Perubahan harus makin mengarahkan seluruh umat untuk “berdamai dengan gerejanya.” Artinya, umat harus selalu menyadari identitas Gerejanya serta bangga dengan identitas itu. Lebih dari itu, perubahan yang diusahakan harus tetap menjaga kesatuan, sambil juga menjaga agar keberagaman dan kemajemukan di dalam umat terjaga.

6. Mengupayakan perubahan dengan belajar dari tradisi lain

Perubahan dapat dilakukan hanya jika kita bersedia belajar dari tradisi gerejawi lain. namun harus disadari bahwa sumbangan tradisi lain tidak bisa dengan mudah diadaptasi ke dalam kehidupan gereja kita tanpa pengujian kritis (critical discernment) dan tanpa pendekatan sistemik (systemic approach). Pengujian kritis berarti bahwa semua yang kita pelajari dari tradisi lain harus diuji kebenarannya dan bukan sekedar atas dasar ketertarikan yang superfisial. Pendekatan sistemik berarti bahwa apa yang bisa kita serap dari tradisi lain harus sesuai dengan keseluruhan sistem teologis kita dan bukan secara tambal-sulam.

7. Perubahan akhir-akhirnya harus berujung pada pemberdayaan gereja dalam melakukan tugas misionernya

Kita tidak mengusahakan perubahan demi pembaruan itu sendiri, namun semata-mata demi inti dari keberadaan gereja, yaitu misinya. Jika gereja diperbarui dan tidak semakin bersifat misioner, maka pembaruan itu bersifat palsu. Misi kita adalah ikut serta dalam pemberlakuan misi Kerajaan Allah yang ditandai dengan perdamaian, pendamaian, keadilan, pembebasan, keutuhan ciptaan dan penghambaan.

PUSTAKA TERPILIH

Coalter, Milton J. (et.all.), The Re-forming Tradition; Presbyterians and Mainstream Protestantism, Louisville, Kentucky, Westminster/John Knox Press, 1992.

Kirkpatrick C. & Hopper, William H. Jr., What United Presbyterians; Common Ground for Troubled Times, Louisville, Kentucky, Geneva Press, 1997.

Walt, B.J. van der, Anatomy of Reformation, Potchefstroom, Potchefstroom University for Christian Higher Education, 1991.

Stendahl, Krister, “What Does It Mean to be a Reforming Church?”, http://www.mit.edu/afs/athena.mit.edu/activity/l/lem/www/stendahl.html.

Song, Choan-Seng, “The Tortoise and the Hare: Creating a Reforming Church for a Global World”, http://www.psr.edu/resources/csong1.html.

Jumat, 21 Agustus 2009

Allah yang Terasa Lambat (Yesaya 64:1-9 )

  1. Salah satu masalah besar yang kita hadapi dalam hidup ini yang pasti menggelisahkan kita adalah ketika kita harus menunggu sesuatu di dalam ketidakpastian. Biasanya berbagai ketidakpastian inilah yang menggelisahkan hati kita. Bayangkan ketika seorang ibu yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Pada hari yang diperkirakan oleh dokter ternyata si jabang bayi tidak kunjung lahir juga. Bayangkan pula orang-orang yang sedang dalam keadaan sakit, demikian lama mereka berharap dan menunggu, tetapi tidak ada kejelasan mereka akan sembuh atau tidak. Atau juga seorang bujangan yang telah lama menantikan hadirnya jodoh yang ditentukan baginya. Ia bergumul dengan dua pertanyaan ini: apakah saya akan berjodoh dengan seseorang ataukah saya harus melajang seumur hidup saya? Mungkin juga kita sedang menunggu pengumuman penting di kantor, apakah kita menjadi salah seorang pegawai yang turut mendapatkan kenaikan pangkat tahun ini. Semua ketidakpastian ini pastinya sangat menggelisahkan hati kita, membuat kita tidak merasa nyaman dan cemas. Kita lebih suka dengan jawaban ya atau tidak, kita tidak suka menunggu jawaban dalam waktu yang cukup lama. Di dalam hidup ini sering kali kita tidak merasa sabar atas sesuatu, semuanya harus serba pasti. Akibatnya, kita akan merasa gelisah ketika kita menjumpai sebuah ketidakpastian di dalam hidup ini.
  2. Seorang teman pernah bertutur : "Pada suatu malam, seusai melayani di sebuah gereja yang terletak di sebuah kota yang cukup sulit dijangkau dari mana pun juga, saya menunggu datangnya bus yang dapat mengantar saya kembali ke kota tempat tinggal saya. Itu adalah pengalaman saya yang pertama berada di kota itu. Walaupun sudah cukup malam, saya yakin bahwa akan ada bus antar kota yang akan berhenti di tempat itu, sehingga saya tidak terlalu terusik dengan lamanya waktu menunggu. Tetapi ada seorang bapak tua yang berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Semua gerak-gerik tubuhnya sangat menunjukkan kegelisahannya. Tak lama kemudian saya menghampirinya dan menanyakan alasan kegelisahannya itu. Dengan wajah berkerut karena cemas ia bertanya apakah masih ada bus antar kota yang akan berhenti di tempat kami berdiri ke arah kota yang sama dengan yang akan saya tuju. Dengan optimisme tinggi saya meyakinkan dia bahwa malam itu pasti akan ada bus yang akan datang untuk mengantar kami kembali pulang, dan kemudian saya mencoba untuk menenangkan hatinya. Tetapi bujukan saya itu tidak berhasil menenangkannya, karena menurutnya minggu sebelumnya ia berada di tempat yang sama untuk menunggu bus yang sama, dan ia baru mendapat bus pada pukul 01.00. Tetapi saya yang merasa sangat yakin, sehingga saya masih mencoba bersikap tenang. Orang itu begitu senewen dan mulai mengomeli saya. Sayangnya, memang bus yang kami nantikan baru muncul pada pukul dua dini hari. "
  3. Orang yang tidak gelisah di dalam ketidakpastian bisa berarti dua hal. Yang pertama mungkin ia adalah orang yang terlalu percaya diri dan mudah menggampangkan segala sesuatu. Yang kedua bisa jadi karena justru ia adalah orang yang sangat acuh dengan keadaan di sekelilingnya. Tetapi dalam kondisi normal, proses penantian terhadap sesuatu adalah sesuatu yang menggelisahkan. "Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau [Tuhan] yang berbuat demikian" (Yesaya 64:4). Di sini Tuhan digambarkan sebagai pribadi yang bertindak bagi orang yang menantikan-Nya. Bukankah ini adalah sebuah kabar baik? Tunggu dulu. Apabila dikatakan bahwa Tuhan akan bertindak bagi mereka yang menanti-nantikan-Nya, itu menandakan dua hal. Yang pertama adalah Tuhan bertindak, dan yang kedua adalah orang-orang yang menanti-nantikan Dia. Apabila kita percaya bahwa Tuhan bertindak, maka kita pun harus percaya bahwa Dia akan bertindak pada waktu-Nya, sehingga kita harus sabar menantikan saat itu tiba. Dengan kata lain, kita harus memahami bahwa waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Tuhan bertindak bagi orang-orang yang menanti-nantikan Dia. Jadi ada saatnya kita memang harus menunggu tindakan Allah dengan gelisah. Sering kali pada masa penantian itu kita dengan cemas bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak segera bertindak? Mengapa Dia tidak melakukan apa yang dipandang-Nya benar? Mengapa Dia tidak menjawab doa kita pada saat itu juga? Sekali lagi, Tuhan hendak mengajar kita untuk melihat perbedaan waktu-Nya dengan waktu kita. Dan jika memang kita merasa bahwa waktu itu terlalu lama, itu artinya Dia menghendaki kita untuk menunggu, walaupun dengan perasaan tidak tenang dan gelisah.
  4. Alangkah menariknya ketika kita memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu giliran di sebuah ruang tunggu dokter gigi. Biasanya mereka datang dengan muka muram dan tegang. Uniknya, ketika nama mereka dipanggil untuk giliran selanjutnya, mereka pun tidak menunjukkan ekspresi yang senang, bahkan ada yang merasa semakin tegang. Saya sering mendengar keluhan beberapa orang yang gelisah melihat anak atau cucunya belum mendapatkan jodohnya. Padahal mungkin yang bersangkutan malah bersikap santai. Semuanya itu memperlihatkan bagaimana untuk menunggu hal-hal yang wajar secara manusiawi, manusia dapat menjadi cemas, apalagi ketika kita sedang menunggu-nunggu Allah bertindak dalam hidup kita. Ketika kita jatuh sakit, kita berharap Allah segera menyembuhkan kita. Ternyata penyakit itu tidak kunjung sembuh. Kegelisahan itu akan terus menggerogoti pikiran kita. Tetapi mau tidak mau kita harus menunggu, bukan?
  5. Menunggu adalah hal yang sangat menggelisahkan, terutama apabila kita menunggu waktu Tuhan bekerja atas sesuatu. Kita memang berhak merasa gelisah, tetapi tidak jarang kita memaksa Tuhan untuk memberi jawaban kepada kita atas penantian kita, jika memang Dia berkenan menolong, lebih baik Dia menyatakannya secara langsung kepada kita, dan jika tidak, lebih baik kita mendapatkan jawaban itu juga secara langsung dari-Nya sehingga kita tidak perlu menunggu. Tetapi memang itulah cara Tuhan bekerja yang menurut kita terasa lambat. Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah: apa yang harus kita lakukan sembari menunggu jawaban serta tindakan Allah?
  6. Bangsa Israel pernah mengalami penantian yang membosankan. Ketika Musa sedang bersama dengan Allah di atas gunung Sinai, mereka merasa bahwa Musa terlalu lama berada di sana. Seharusnya ia segera turun dari gunung itu untuk memimpin mereka kembali, dan mereka pun menjadi sangat gelisah. Di antara mereka muncul berbagai dugaan, bisa jadi Musa telah wafat, atau mungkin ia telah pergi meninggalkan mereka, atau bahkan telah diangkat oleh Tuhan ke surga. Di tengah-tengah ketidakpastian itu mereka mengambil keputusan untuk mengumpulkan semua anting-anting serta perhiasan emas mereka dan meleburnya menjadi sebuah patung anak lembu emas untuk disembah. Begitu mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari ketidaksabaran untuk menunggu Musa mendapatkan hukum dari Allah bagi mereka. Mereka dengan mudahnya melupakan semua pertolongan serta mukjizat yang Allah nyatakan dalam sepanjang kehidupan mereka. Itulah sebabnya Musa begitu murka ketika kembali dan mendapati mereka berbuat tidak setia terhadap Allah.
  7. Taktkala kita mengalami sakit, kita mencoba untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sembari memohon kesembuhan dari-Nya. Tetapi ada kalanya kita tidak kunjung sembuh sehingga kita mulai memikirkan banyak alternatif di luar Kristus. Walaupun kita tahu bahwa pilihan pengobatan alternatif itu salah, apalagi dengan disebutkannya nama-nama di luar Tuhan kita, tetapi kita tidak sabar menunggu jawaban kesembuhan dari Tuhan, sehingga kita tetap melakukannya. Dengan mudahnya kita berkata bahwa kita akan meminta pengampunan dari Tuhan setelah kita sembuh berkat pengobatan alternatif itu. Tatkala kita tidak sabar menantikan jawaban serta tindakan Tuhan, sering kali kita bertindak seperti orang Israel, yaitu memutuskan untuk memakai berbagai jalan pintas yang justru bertentangan dengan kehendak-Nya, bahkan yang dibenci oleh-Nya.
  8. Ketidaksabaran kita dalam menantikan waktu Tuhan selalu memunculkan masalah baru. Misalnya saja apabila kita merasa tidak menemukan lagi kecocokan dengan pasangan hidup kita -baik suami maupun istri- dan kita tidak sabar menunggu waktu Tuhan bekerja untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik, maka dengan mudahnya kita memutuskan untuk bercerai dan mencari pasangan baru yang kita anggap lebih memahami kita dan lebih baik dari pasangan terdahulu. Ketidaksabaran kita dalam menantikan waktu Tuhan, juga membuat kita melakukan banyak hal yang menyakiti hati-Nya dan orang lain. Tetapi orang yang tidak sabar akan menjadi semakin geram dengan pernyataan ini. Jika memang Allah memahami benar bahwa manusia sering kali tidak sabar dengan penantian yang panjang, mengapa justru Dia membuat seolah-olah waktu berjalan begitu lambat sehingga manusia harus selalu bersungut-sungut? Jawabannya terdapat pada ayat 8: "Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu". Inilah faktanya, bahwa didalam masa penantian itu, sebenarnya Tuhan sedang membentuk hidup kita, dengan kata lain, kita sedang dibentuk oleh sang Pembuat. Waktu yang terasa lambat dan lama itu sebenarnya merupakan masa Tuhan mempersiapkan hidup kita untuk menerima berkat-Nya. Jadi pada saat kita bertanya-tanya mengapa Tuhan begitu lama menjawab doa kita, pada saat itulah sebenarnya Dia sedang membentuk dan mempersiapkan kehidupan kita sehingga pada saat yang tepat, hidup serta karakter kita telah terbentuk tepat seperti yang diharapkan-Nya pada saat Dia memberi jawaban atau berkat kepada kita. Sering kali orang yang tidak siap, baik itu mempersiapkan diri, disiapkan oleh Tuhan, maupun menolak untuk disiapkan oleh Tuhan, justru akan menemui serta membuat masalah baru.
  9. Kita banyak menjumpai orang yang dulunya berkekurangan secara material tetapi kehidupan keluarganya bahagia dan suami-istri saling mendoakan, terutama agar keuangan mereka diberkati lebih dari cukup. Tetapi di kala mereka telah diberkati dengan limpah secara material, sang suami mulai tergoda untuk memalingkan hati dan perhatiannya kepada wanita lain, mereka tidak lagi saling mendoakan. Harta yang menjadi jawaban atas doa mereka ternyata tidak menjadi berkat, malah menimbulkan masalah baru. Mengapa? Karena mereka, terutama sang suami, tidak cukup matang dan siap dalam hal karakter dan iman untuk menerima berkat Tuhan, sehingga ia tidak mampu bereaksi tepat seperti yang diharapkan-Nya. Berkat Tuhan justru menjadi masalah baru, tidak lagi berkat. Begitu pula ketika kita sakit, ada saatnya Tuhan membentuk kita terlebih dahulu supaya kita siap menerima berkat kesembuhan itu. Ketika saya sedang mengunjungi seorang pria yang sedang sakit, istrinya malah berharap agar ia tidak segera sembuh. Menurutnya, jika segera sembuh, maka sang suami akan segera kembali menjadi pria yang berperangai kasar, suka memukul dan menyakitinya serta anak-anak mereka. Itulah yang menjadi alasan Tuhan tidak segera menjawab doa kita. Dia harus membentuk sifat, karakter, iman, serta hati kita terlebih dahulu untuk menyiapkan kita menerima jawaban doa tepat pada waktunya. Ketika kita siap menerima jawaban dari pergumulan kita, karakter serta perilaku dan iman kita terbentuk, maka saat itulah Tuhan siap bertindak bagi kita, dan kita akan menerimanya dengan bahagia.
  10. Seorang pemuda mengeluh tentang ibunya. Dahulu sang ibu adalah seorang Kristen yang taat dan rajin ke gereja. Suatu ketika ia merasa kecewa dengan sesuatu yang dianggapnya tidak menyenangkan di gereja sehingga ia memutuskan untuk berpindah keyakinan. Bahkan sang ibu membuka pintu rumahnya untuk para pemuda dari kelompok agamanya untuk melakukan aktivitas ibadah di sana. Lalu pemuda ini meminta saya untuk mendoakan sang ibu agar menyadari perbuatannya dan bertobat. Ia menunggu selama satu tahun, tetapi doanya tidak kunjung terjawab. Ia bertanya-tanya kira-kira mengapa hal ini bisa terjadi. KIta coba balik pertanyaannya itu, " apa yang telah dilakukannya kepada sang ibu dalam masa penantian itu" Ia menjawab bahwa selama ini ia menunjukkan kebenciannya terhadap sang ibu. Alasannya menjadi jelas. Manakala ia tidak sedang menghormati serta mengasihi sang ibu, saat itulah Tuhan melihat bahwa ia tidak siap menerima jawaban dari-Nya. Itulah sebabnya ia menuruti saran saya untuk tetap bahkan semakin mengasihi ibunya walaupun hatinya menentang hal itu. Enam bulan kemudian ia telah berhasil mengasihi ibunya kembali dan ia terus melakukannya di dalam pembentukan yang Tuhan lakukan di dalam dirinya. Sampai akhirnya pada suatu pagi pada tahun yang ketiga, sang ibu berkata kepadanya bahwa ia ingin pergi ke gereja. Ia begitu bersukacita karena pada saat itulah Tuhan menjawab doanya. Jadi sebelumnya, ia tidak siap menerima pembentukan dari Allah sampai pada akhirnya karakter dan kasihnya menjadi murni, sehingga itulah saat yang tepat bagi Tuhan untuk bertindak baginya.
  11. Kita semua memiliki berbagai pengalaman mengenai belum terjawabnya doa kita, sehingga itu menggelisahkan hati kita. Tetapi apabila kita mencoba memahami bahwa waktu Tuhan tidaklah sama dengan waktu manusia, dan melihat bahwa di dalam masa penantian itu Tuhan sedang menguji dan membentuk karakter kita supaya kita siap menerima jawaban Tuhan, maka masa itu menjadi masa yang tidak menggelisahkan. Sebaliknya, masa penantian itu adalah saat yang baik bagi kita untuk diperbaiki dan dibentuk, seperti tanah liat di tangan Tuhan, sang Pembentuk kita. Kita tidak boleh marah apalagi sampai bertindak konyol dengan melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya apabila doa kita belum terjawab. Memang tindakan Tuhan sering kali terasa lambat, tetapi Dia tidak pernah terlambat. Masa penantian adalah masa di mana Tuhan terus membentuk hidup kita. Selamat menanti.

KETIKA IMAN BERBENTURAN DENGAN KENYATAAN (Bilangan 13 : 25 -33 )

Saya rasa kita semua setuju bahwa iman kepercayaan kita kepada Yesus Kristus adalah bagian hidup yang signifikan dan sentral. Kita semua menyadari kehidupan kita ditopang oleh kekuatan yang bernama iman. Karena itulah, jika ada saudara seiman sedang dalam keadaan duka dan sedang dirundung permasalahan besar yang tidak kunjung selesai; maka kita biasanya akan menyalami tangan orang tersebut sambil berkata, "Tetap beriman, ya... berpegang teguhlah kepada Yesus Kristus". Kita membutuhkan kekuatan iman itu, ecara khusus ketika kehidupan berjalan tidak selancar yang kita harapkan.
Tetapi keadaannya bisa menjadi terbalik ketika kita sendiri yang sedang mengalami kesedihan, kedukaan atau pergumulan yang belum nampak jalan keluarnya. Di saat-saat seperti itulah kita menemukan bahwa beriman - apalagi tetap bertumbuh dalam iman - bukanlah hal yang mudah. Bahkan seringkali kita justru menemukan bahwa iman itu sepertinya tidak memberikan jawaban. Tidak menyediakan solusi bagi kita dan tidak memberikan kekuatan yang kita butuhkan. Di saat-saat seperti itu biasanya kita malah bertanya, "Di manakah Tuhan di balik semua yang saya alami ini?"
Alkitab mengatakan bahwa ketika kita beriman kepada Yesus Kristus, dan mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka itu semua adalah karena anugerah Allah. Iman adalah pemberian atau haiah dari Allah yang kita terima begitu saja. Paulus pernah mengatakan bahwa, "Itu bukan hasil usahamu, jangan ada orang yang memegahkan dirinya". Namun iman itu diberikan Allah kepada kita bukan dalam bentuk yang sudah jadi dan sudah kuat; tetapi iman itu diberikan kepada kita dalam keadaan yang cukup untuk membuat kita percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Iman yang diberikan itu cukup untuk membuat kita dapat menjalani kehidupan ini. Di dalam kehidupan inilah nantinya kita akan mengalami perkembangan dan proses pembentukan iman oleh Tuhan.
Yesus Kristus pernah menggambarkan bahwa iman itu bukanlah sebuah pohon besar yang sudah berakar kuat, tetapi iman itu seperti biji yang kecil. Di dalam biji tersebut terdapat kandungan-kandungan yang membuatnya bisa bertumbuh. Jadi, iman adalah seperti biji dan bukan sebuah pohon yang sudah jadi. Dengan demikian Yesus mengharapkan bahwa di dalam proses kehidupan ini, iman yang seperti biji itu akan bertumbuh kembang dan berbuah serta akan menjadi kokoh. Iman yang kokoh akan mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi Tuhan. Pertumbuhan dan perkembangan iman itu tidak terjadi di atas kertas tetapi di atas lapangan yang bernama kehidupan sehari-hari.
Di dalam kisah yang kita baca ini, Allah sudah mendidik orang Israel untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Allah sudah berfirman kepada mereka bahwa tanah Kanaan itu milik mereka. Ada janji Allah yang dapat mereka pegang. Janji yang menunjukkan bahwa mereka itulah umat pilihan Allah. Dalam perikop ini kita tahu bahwa mereka sedang mendekati saat-saat terakhir dari perjalanan mereka. Setelah puluhan tahun mereka berkeliling, inilah saatnya mereka berada di muka pintu Tanah Perjanjian itu. Di depan Tanah Perjanjian itu, mereka memutuskan untuk mengirim orang-orang pilihan mereka, yaitu 12 orang pengintai. Orang-orang pilihan inilah yang akan masuk terlebih dahulu untuk mensurvei negeri ini.
Ketika 12 orang itu pulang setelah mengadakan pengintaian selama 40 hari 40 malam, mereka mengatakan satu hal yang sama, "Betul, tanah itu seperti yang difirmankan Tuhan : subur dan makmur!" Namun, 10 dari 12 orang tersebut mengatakan, "Tetapi di tanah yang subur dan makmur itu, juga ada orang-orang raksasa. Juga ada bangsa-bangasa yang kuat." Mereka juga menambah-nambahi dengan mengatakan bahwa orang-orang di negeri itu memakan habis penduduknya sendiri. Para pengintai itu mengatakan bahwa mereka seperti belalang di depan bangsa-bangsa Kanaan.
Di sinilah, iman yang adalah kepercayaan kita akan janji Allah itu bertemu dengan realita kehidupan. Allah berjanji Tanah Kanaan itu adalah milik orang Israel, tetapi realitanya ada bangsa-bangsa yang kuat hidup di tanah itu. Ketika terjadi perbenturan antara iman dan realita kehidupan, biasanya kita mulai mengalami kegoncangan hidup. Biasanya kita mulai berpikir ulang tentang iman kita. Apa yang kita yakini selama ini tentang Allah ternyata bisa mengalami benturan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Orang Israel juga mengalami hal ini, mereka memegang janji Allah, tetapi yang dihadapi adalah kenyataan bahwa musuh mereka begitu kuat dan secara manusiawi sulit dikalahkan.
Kita meyakini sampai mendarah daging bahwa Allah itu maha kasih. Ketika kehidupan lancar serta tidak ada masalah, maka tidak ada benturan yang terjadi sehingga tak ada masalah yang muncul. Tetapi jika kita mengalami masalah yang menyesakkan dan tidak menyenangkan, menghadapi kedukaan yang besar dan kejaian yang tidak kita harapkan muncul, di saat itulah kita mengalami benturan antara iman dan kenyataan hidup. Tidak sedikit orang yang berkata, "Saya tahu Tuhan itu, maha kasih. Saya percaya itu. Tapi mengapa saya mengalami masalah seperti ini?"
Saya rasa kita semua percaya bahwa Tuhan itu maha kuasa dan penuh dengan kemuliaan. Segala sesuatu terjadi lewat kehendak- Nya. Tetapi, ketika masalah yang kita alami tidak kunjung selesai, ketika pergumulan itu makin lama makin berat dan makin menyesakkan, apa yang kita katakan? Kita berkata, "Saya tahu Ia itu maha kuasa, tetapi mengapa kok saya tidak dapat jalan keluar? Mengapa kehidupan ini begitu beratnya terjadi pada saya?"
Kita semua percaya Allah itu maha hadir. Tidak ada yang membatasi kehadiran-Nya. Tetapi ketika kita dirundung kedukaan yang dalam, timbullah perasaan kesendirian yang memedihkan hati yang membuat kita bertanya, "Di manakah Tuhan sebenarnya?"
Goncangan yang terjadi akibat benturan antara iman dan realita itu senantiasa menggelisahkan. Orang yang mengalaminya menjadi limbung dan dengan cepat berusaha mencari pijakan di mana ia akan berdiri. Akankah ia berdiri di dalam janji firman Tuhan yang sudah ia terima dan berkata, "Saya akan tetap terus karena saya percaya akan janji dan pemeliharaan Tuhan". Ataukah seperti kebanyakan orang memilih untuk berpegang dan berpijak pada kenyataan sambil berkata, "Sudah ndak usah ngomong tentang Allah yang maha kasih, maha kuasa; nyatanya hidup saya seperti ini. Buat apa saya ke gereja? Buat apa saya berbakti? Buat apa saya berdoa? Nyatanya, realitanya hidup saya seperti ini!" Di dalam kegoncangan itu orang menjadi lelah, kalah, kecewa, marah dan menyerah. Tepat seperti yang terjadi dengan 10 orang pengintai itu; mereka lelah, kalah dan menyerah. Tetapi 2 orang yang lain tetap berdiri dan berkata, "Maju terus!"
Memang, ketika goncangan itu terjadi kita akan mengalami saat-saat di mana kita akan mengalami limbung dan kebingungan. Tetapi, mari kita lihat; kalau Tuhan yang maha kuasa, maha baik, maha hadir, mengijinkan kita mengalami goncangan seberat apapun, apakah Ia mengharapkan kita hancur oleh goncangan itu? Apakah Ia mengharapkan iman kita hancur lebur di tengah goncangan itu? Tentu tidak! Dari perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab menjadi jelas bahwa ketika goncangan dan situasi yang tidak menyenangkan itu terjadi, Allah sedang mencoba merentangkan pemahaman mereka tentang diri-Nya. Allah sedang mengajarkan sesuatu tentang diri-Nya yang selama ini mungkin belum kita sadari. Melalui perentangan pengetahuan tentang Allah itulah iman kita diharapkan-Nya bertumbuh.
Di dalam cara pandang Alkitab, iman itu bertumbuh bukan tatkala kehidupan sedang lancar. Sebaliknya iman itu bertumbuh di saat segala sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Saat iman mengalami goncangan, ia makin bertumbuh. Melalui goncangan itu, Allah sedang mencoba membangun iman kita. Goncangan itu pastilah tidak menyenangkan dan akan senantiasa membuat kita gelisah dan kita tidak menikmatinya. Karena gelisah, maka kita tidak memperhatikan dan menolak proses goncangan itu dan memilih berpegang pada realita : "Ya sudah, saya begini saja". Padahal, kata orang, "no pain, no gain"; tidak ada rasa sakit, tidak ada hasil.
Secara sederhana iman itu dapat digambarkan seperti otot kita. Kita semua mempunyai otot, hanya saja berbeda-beda kekuatannya sehingga berbeda pula beban yang bisa kita tanggung. Suatu kali, di sebuah pasar raya, saya bertemu dengan seorang teman lama semasa SMP. Kami berpapasan, dan ia langsung menyapa saya. Kemudian ia menatap saya, sayapun menatap ia. Saya ingat sewaktu di SMP, ia sama kerempengnya dengan saya. Teman saya ini terus mengamati saya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki; terutama ia memperhatikan bagian perut saya sampai ke bawah. Kemudian ia berkata, "Macam mana pula kau ini, Wahyu! Lama tidak ketemu, sekali ketemu, seperti gajah bengkak kau ini!" Saya mencoba tersenyum mendapat "keramahan" seperti itu. Namun saya maklum. Terakhir kali kami bertemu, berat badan saya masih sekitar 50-an kilo. Masih kurus sekali. Saya melihat teman saya yang dulu sama kerempengnya dengan saya sekarang menjadi lebih kekar dan lebih kencang . Sedangkan saya yang dulu kerempengnya seperti dirinya sekarang, katanya jadi seperti gajah bengkak; jadi gemuk sekali. Teman saya menepuk-nepuk pipi dan perut saya. Sebenarnya, saya merasa sedikit dilecehkan, tetapi ya... karena teman lama, maka saya anggap tidak apa-apa. Kemudian setelah berbincang-bincang, saya mengetahui bahwa teman saya ini sekarang bekerja sebagai instruktur di fittness centre. Saya memang melihat badan teman saya ini terbentuk kekar dan luar biasa. Enak dilihat. Saking kekarnya, kelihatannya ia tidak bisa menoleh tanpa menggerakkan tubuhnya. Teman ini mengatakan bahwa ia bersedia menjadi trainer pribadi saya sebanyak 3 x seminggu masing-masing 2,5 jam, selama 3 bulan. Ia akan melatih saya supaya badan saya terbentuk baik dan menjamin pasti berhasil. Saya bertanya apa saja yang harus saya lakukan selama dalam latihan tersebut dan ia menjelaskan bahwa saya akan melakukan senam aerobik, angkat beban, akan latihan ini dan itu. Intinya, saya akan melakukan hal-hal yang melelahkan.
Saya tahu, tawaran itu baik untuk saya. Tetapi, 3 x 2,5 jam per minggu "disiksa" dengan segala macam latihan, saya tentu tidak rela. Saya pun menolaknya dengan halus," Saya pikir-pikir dulu, deh." Nah, oleh karena berpikir-pikir itulah, sekarang ini saya masih cukup gemuk seperti sekarang ini. Cita-cita untuk punya tubuh yang kekar dan otot yang kuat ada, tetapi saya tidak mau menjalani prosesnya. Kira-kira seperti itu jugalah kondisi iman kita. Kita ingin iman yang kuat, tetapi kita tidak mau menjalani proses pembentukannya. Kita ingin mempunyai iman yang kuat agar mampu menahan beratnya beban kehidupan. Tetapi, ketika Allah merencanakan di dalam program-Nya bahwa untuk itu kita harus melewati saat-saat penuh goncangan dan pergumulan, kita menolak. Kita langsung mundur dan berkata, "Ya, itu baik; tetapi ndak usahlah!"
Goncangan kehidupan itu sebenarnya tidak bisa kita tolak. Seberapapun kaya dan pintarnya kita, suatu saat pasti akan terjadi benturan antara iman kita dengan realita keseharian yang terjadi. Pada saat seperti itu banyak orang akan memilih minggir dan kemudian lari kecewa meninggalkan Tuhan padahal bukan itu maksud Tuhan dengan latihan iman tersebut.. Sebaliknya Tuhan bermaksud agar kita bertumbuh melalui situasi seperti itu. Iman kita diregangkan oleh Tuhan, diperkuat dan dilatih oleh-Nya.
Bagaimanakah kita bisa berdiri dan bertahan di tengah goncangan yang luar biasa? Seperti 12 orang pengintai : 10 orang mengalami kegoncangan dan mundur, sedangkan yang 2 orang berkata, "Maju!" Oleh karena perbedaan pendapat maka timbullah polemik, yang bahkan menyebabkan 2 orang ini hampir dilempari dengan batu. Seandainya kejaiannya ada di gereja dan dilakukan voting, maka orang-orang Israel itu tidak akan pernah masuk ke Tanah Perjanjian. Tetapi untunglah cerita kita tadi tidak berbicara tentang voting yang seperti itu. Dua orang : Kaleb dan Yosua itu terus meyakinkan orang Israel untuk masuk ke Kanaan, meskipun nyawa mereka menjadi taruhannya. Ketika orang-orang hendak melempari Kaleb dan Yosua dengan batu, ketika itu pula Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya, sehingga semua orang mengakui bahwa memang mereka harus maju.
Apa yang membuat Kaleb dan Yosua ini menjadi orang yang berani mengambil resiko itu? Ada dua hal : yang pertama adalah kesabaran. Mereka tahu bahwa mereka telah berkeliling sekian tahun untuk masuk ke Tanah Perjanjian. Merekapun tahu serta ingat dengan baik bahwa Allah sudah memimpin mereka selama sekian tahun itu. Itu yang memberi makanan dan memberi kekuatan pada kesabaran mereka. Kesabaran yang dibentuk oleh ingatan yang kuat bahwa tidak mungkin Tuhan yang selama ini sudah memimpin dan menyatakan banyak mukjizat, hanya bertujuan untuk membuat mereka menyetorkan nyawa kepada bangsa lain. Mereka ingat sekali akan perbuatan Allah di masa lalu, dan ingatan itu membentuk kesabaran mereka.
Biasanya pergumulan dan permasalahan senantiasa membuat mata kita hanya melihat pada saat ini atau mungkin pada masa depan yang penuh kekuatiran. Tetapi dengan kesabaran dan ketabahan yang dibentuk oleh ingatan kita akan pertolongan Tuhan, kita diajak melihat "ke belakang" "Saya sudah hidup sekian tahun; sudah sekian banyak berkat Tuhan yang saya terima. Perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib sudah pernah saya alami. Saat-saat yang luar biasa bersama Tuhan sudah pernah saya alami." Dengan mengingat semuanya itu, maka kita akan sabar di dalam kesesakan dan dalam pergumulan yang ada saat ini. Kita menjadi sadar Tuhan tidak mungkin meninggalkan kita.
Jadi ketika kita lemah dan tergoncang di dalam benturan itu, lihatlah ke "belakang". Lihat garis hidup kita di mana Allah telah berkarya memberikan berkat dan penyertaan-Nya. Lihat Allah yang telah membuat kita ada seperti sekarang ini. Akankah Ia yang sudah menopang hidup kita selama ini, akan menjadi Ia yang meninggalkan dan melepaskan kita ? Tidak mungkin, dan tidak akan terjadi mungkin! Ia pasti sedang membuka jalan.
Hal kedua yang membuat Kaleb dan Yosua bertahan, adalah karena mereka memiliki pengharapan. Mereka menyandarkan diri pada harapan bahwa sebentar lagi mereka masuk ke dalam Tanah Kanaan. Tuhan memenuhi janji-Nya kepada mereka dan mereka melihat janji Allah membuahkan hasil yang memuaskan, setara dengan upaya mereka bertahan di dalam goncangan. Bukankah memang harapan itu yang kita butuhkan di dalam hidup ini. Keyakinan bahwa ada sesuatu yang kita nantikan di masa depan. Ada Tuhan yang tidak buta dan tidak tuli; ada Tuhan yang maha melihat dan maha mendengar dan Ia akan melakukan sesuatu. Harapan semacam ini akan memberikan kekuatan yang luar biasa bagi kita untuk tetap bertahan meskipun situasi mencekam dan menekan kita.
Ketika manusia kehilangan harapan, ia sebenarnya sudah kehilangan semuanya. Mengapa banyak orang mengakhiri hidupnya? Mengapa orang memutuskan untuk lari meninggalkan Tuhan? Karena mereka kehilangan harapan. Mereka sudah tidak lagi berani berharap atau sudah tidak berani lagi menaruh harapannya kepada Tuhan. Padahal Ia sungguh layak dipercaya dan dapat disandari. Pengharapan kita pada Tuhan yang maha tahu dan maha melihat itu tidak akan pernah mengecewakan.
Ketika goncangan-goncangan hidup terjadi seperti gelombang-gelombang yang menyerang perahum, jangan menyerah! Jangan lari. Jangan kecewa. Jangan menyalahkan sesama. Terlebih lagi, jangan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, yakinlah bahwa ini bagian dari program Allah utnuk memperkuat iman kita. Allah menantikan kita untuk melalui saat itu, sehingga iman kita bertumbuh dan pengetahuan kita tentang Allah direntangkan. Pengalaman hidup kita bersama Allah akan diperkaya dan itu yang akan membentuk kehidupan kita dan yang akan membuat kita tangguh di dalam kehidupan ini. Untuk mencapai itu kita betul-betul memerlukan kesabaran dan harapan.
Kita boleh kehilangan semuanya di dalam hidup ini. Kita boleh mengalami beban yang luar biasa beratnya. Kita boleh memiliki pergumulan yang tak kunjung selesai tanpa jalan keluar, tetapi jangan pernah kehilangan kesabaran dan harapan. Ketika iman berbenturan dengan kenyataan, biarlah kesabaran dan pengharapan menopang hidup kita.

Selasa, 10 Maret 2009

Hambatan

Beberapa orang setengah baya sekarang terjangkit "penyakit" mentog. Artinya kemampuannya sudah "mentog" atau sudah pada titik jenuh yang tidak bisa ditambah lagi. Kalau kita berada di dalam ruang, kemudian akan menempatkan sesuatu lebih tinggi dari posisi sekarang, barang itu kita naikkan. Dalam proses menaikkan itu, kita akan sampai ke atap bangunan itu, sehingga tidak bisa dinaikkan lagi. Itulah yang dinamakan "mentog". Seperti itulah bahayanya "penyakit mentog" dalam masyarakat.

Karena penyakit "mentog" ini, ada banyak akibatnya.
Ketika melihat film Oshin, ada cerita Oshin dari desa bekerja di salon pada suatu kota. Sebagai manusia bermoral, dia menolong pekerja salon melakukan pekerjaannya. Ternyata pekerja yang ditolong marah. Oshin tidak mengerti. Dengan bekal moralnya, dia berusaha menolong, namun tetap kena marah teman sekerjanya. Teman sekerja itu khawatir kalau Oshin akan menjadi lebih trampil, sehingga Oshin akan lebih baik bekerja dari dirinya. Kekhawatirannya adalah mengenai pekerjaan yang sekarang hanya mampu dikerjakan akan didesak oleh pendatang baru. Akibatnya lebih fatal bias menjadikannya PHK.

Hal seperti ini banyak terjadi di kalangan industri kita. Persaingan bisa dilakukan terbuka, bisa tertutup. Generasi "lama" berusaha menghambat kecepatan kerja "generasi baru" agar dirinya tidak terdesak. Berbagai cara dilakukan, mungkin mengancam, mungkin mengikatnya dengan hutang, mungkin mensabot pekerjaannya atau ada kemungkinan lain, termasuk menfitnah.
Kalau para pengawas tidak waspada, terjadi hambatan kerja. Hal tersebut merupakan hambatan dalam meniti masa depan. Kewaspadaan bagi setiap orang untuk mengupayakan lenyapnya hambatan latent ini, apalagi kekhawatiran akan ketahanan hidup karena makin sulitnya lapangan kerja.

Generasi "lama" yang mempunyai moral etik terpuji akan terus berusaha meningkatkan diri menyesuaikan kemajuan teknologi yang sudah melanda negeri kita akibat globaliasi.
Ada yang malas mengenakan kacamata, mata buram ketika bekerja sehingga sebagai teknisi sulit memasukkan alat memutar mur dan baut. Begitu juga sebagai penjahit sulit memasukkan benang pada lobang jarum. Memang akhirnya pekerjaan itu dapat dilakukan setelah terjadi kegagalan beberapa kali. Dia juga sudah "mentog" berusaha sehingga kerja jadi tidak prima. Begitu juga jangan biarkan pendengaran kurang bila kerjanya menyimak suara. Alat Bantu dengar bisa digunakan.
Kalau kesadaran terwujud, seluruh komponen punya semangat meniti masa depan. Masing-masing bisa berperan untuk mewujudkan pembangunan bersama, bukannya menghambat. Jangan membiarkan banjir datang setiap tahun, namun apa yang dilakukan untuk menanggulangi agar banjir tidak datang pada musim hujan. Penanggulangannya dilakukan pada musim kemarau, bukannya pada musim hujan.

Itulah catatan untuk meniti masa depan. Bila kesadaran ada pada setiap orang Indonesia, kecemerlangan akan terwujud dihadapan kita untuk warisan generasi penerus. Untuk Indonesia Jaya. Bravo.

3 Tipe Manusia Dalam Meraih Kesuksesan

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa ada sebagian orang yang dapat meraih kesuksesan yang diidam-idamkan banyak orang, dan di sisi lain lebih banyak orang yang tidak berhasil meraihnya.
Saat ini begitu banyak diadakan pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar luar biasa yang mampu mengubah diri Anda menjadi yang terbaik untuk meraih apapun yang Anda inginkan. Anda mempunyai peluang yang cukup besar untuk menjalani hidup yang dinikmati oleh orang-orang yang telah sukses. Tetapi kenyataannya, hanya sedikit sekali kategori orang yang sukses. Malah sebaliknya, lebih dari 90% orang yang hidup biasa-biasa saja atau di bawah rata-rata.
Tanyalah orang-orang yang ada di sekeliling Anda apakah mereka ingin meraih kesuksesan. Pertanyaan ini mungkin kedengarannya bodoh. Saya yakin semuanya pasti menjawab ‘YA’ dengan meyakinkan. Tapi lihatlah kenyataan sebenarnya, lebih banyak orang yang tidak sukses daripada yang sukses.
Adakah yang salah dengan ini semua. Ya, memang ada yang salah dengan ini semua. Permasalahannya terletak pada diri Anda sendiri. Berguna tidaknya ilmu yang Anda pelajari dari buku-buku ataupun seminar-seminar tergantung diri Anda sendiri. Dengan kata lain, Andalah yang menciptakan kesuksesan sekaligus kegagalan Anda.
Dalam usaha meraih kesuksesan, sikap seseorang dapat terbagi 3 tipe. Tipe pertama adalah orang yang bersikap “saya mau sukses”. Orang dengan tipe seperti ini sulit untuk meraih sukses karena semua orang juga pasti mau sukses. Mereka hanya mau saja, atau hanya sekadar ingin, tetapi mereka tidak ingin membayar harga yang pantas untuk itu. Mereka sebenarnya tidak benar-benar mau. Orang-orang yang memiliki sikap mental yang lemah seperti ini hanya akan menjadi seorang pemimpi belaka tanpa pernah berusaha sedikitpun untuk mewujudkannya. Mereka hanya bersikap pasif dan reaktif, hanya menunggu setiap kesempatan baik datang, bukannya bersikap aktif mencari dan menciptakan peluang itu sendiri.
Tipe yang ke dua adalah orang yang bersikap “saya memilih untuk sukses”. Orang-orang yang memiliki sikap mental seperti ini jauh lebih bisa diandalkan daripada orang yang hanya mau sukses. Mereka membuat suatu keputusan yang kuat untuk meraih sukses. Karena mereka memilih untuk sukses, maka mereka tidak mau memilih apapun yang dapat menghalangi mereka dalam meraihnya. Mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas kesuksesan mereka sendiri.
Tipe terakhir yang mampu membuat siapapun, termasuk Anda, meraih sukses adalah “saya berkomitmen untuk menjadi sukses”. Orang-orang yang bertipe seperti ini berarti mereka tidak akan pernah menyerah apalagi mundur sebelum kesuksesan berhasil mereka raih. Mereka berkomitmen penuh 100% untuk melakukan apapun untuk meraih apa yang paling mereka impikan. Mereka tidak pernah memiliki alasan untuk berhenti dan menyerah tidak pernah ada dalam kamus hidup mereka. Mereka membakar jalan di belakang mereka sehingga tidak ada jalan lain lagi selain maju. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, uang maupun pikiran mereka untuk membayar harga sebuah kesuksesan. Mereka layaknya sebuah kereta api yang meluncur dengan kecepatan penuh sehingga tidak ada apa pun atau siapa pun yang sanggup menahan dan menghentikan mereka. Komitmen membuat mereka menjadi tak terbendung.
Ini yang membedakan antara orang yang sukses dengan yang gagal. Orang yang memiliki komitmen yang kuat bukan hanya mau sukses, tetapi juga mereka benar-benar mau sukses. Mereka berani menyatakan bahwa mereka akan meraih kesuksesan yang mereka impikan.
Sekarang tanyakan diri Anda, apakah Anda mau sukses atau benar-benar berkomitmen untuk sukses? Setiap orang ingin sukses, tetapi hanya sedikit sekali yang berusaha mewujudkannya. Semua tergantung Anda sendiri. Jika Anda telah mempelajari semua resep sukses, tetapi Anda tidak pernah berkomitmen kepada diri Anda sendiri, kemungkinan besar Anda tidak akan pernah meraih kesuksesan.
Perjalanan meraih kesuksesan penuh dengan jalan yang rusak, berlubang, berkerikil tajam, batuan besar serta jurang yang akan dengan mudah menghentikan Anda jika Anda tidak pernah mau berkomitmen. Hanya dengan komitmenlah Anda akan terus maju melewati rintangan demi rintangan untuk sampai ke tempat tujuan yang telah Anda impikan selama ini.

Membalikkan Diagram Hirarki Maslow

Diagram Hirarki Maslow yang sangat populer itu diperkenalkan pada tahun 60-an oleh Abraham Maslow. Diilustrasikan bahwa perjalanan hidup manusia selalu diawali dengan tahap "bertahan untuk hidup", kemudian meningkat menjadi "keamanan & kemapanan", kemudian "kebutuhan sosial" dan pada puncaknya adalah "aktualisasi diri".

Tapi yang tidak banyak terungkap bahwa di akhir hayatnya Maslow merasa menyesal telah "menyusun" diagram tersebut. Ia merasa bahwa susunan hirarki tersebut telah menjustifikasi banyak orang untuk menjadi SERAKAH dan hanya mengutamakan kebutuhan dasarnya. Itu sebabnya, di akhir hayatnya Maslow merasa bahwa diagram tersebut harus "dibalik" urutannya. "Pembalikan" ini juga dilakukan oleh Ian Marshall dan Danah Zohar dalam bukunya Spiritual Capital: Wealth We can Live By.

Terlepas dari apakah murni terinspirasi oleh diagram Hirarki Maslow, pada kenyataannya, sifat SERAKAH telah jauh merasuk dalam sendi-sendi kehidupan modern. Atas nama meraih kesuksesan dan kemakmuran, banyak orang yang pada akhirnya "terjebak" melakukan tindakan yang hakikatnya bertentangan dengan sifat alamiah kesuksesan itu sendiri, yaitu harus BERTAHAP dan selalu memberikan MANFAAT.

Krisis finansial global adalah salah satu akibat yang ditimbulkannya. Seperti yang diungkapkan oleh Imam Sugema (Harian Republika 15 Des 2008), bahwa dengan arus modal yang bebas bergerak 24 jam/hari, liberalisasi telah menyebabkan otoritas keuangan negara kehilangan kemampuan dalam mengendalikan KESERAKAHAN investor besar.

Salah satu contohnya adalah perkembangan pasar derivatif yang menyangkut "collateralized debt obligation" (CDO) yang merupakan rekayasa dari manajer investasi untuk menyembunyikan risiko yang timbul dari aset "buruk". Akibatnya, aset yang jelek menjadi begitu mudah dijual karena telah dicampur dengan aset yang berkualitas baik.

Hasil akhirnya bisa ditebak. Ketika krisis subprime mortgage (aset buruk) mulai merebak, harga aset yang berkaitan dengannya ikut jatuh. Dalam pasar yang jujur, seharusnya aset yang jelek disisihkan dan tidak diperdagangkan. Berapa banyak hukum alam yang telah "ditabrak" dengan mencampur barang dagangan jelek dengan yang baik?

Contoh lain dari KESERAKAHAN yang tanpa disadari telah meracuni generasi muda adalah maraknya audisi-audisi untuk menjaring selebriti "dadakan". Memang tidak ada yang salah dengan mereka yang memang bertalenta cemerlang untuk berusaha dijaring oleh para pemandu bakat. Yang menjadi masalah adalah, berapa banyak yang sekedar ikut-ikutan audisi untuk mencoba peruntungannya?

Semangat untuk sekedar "mengadu untung" telah mengalahkan proses alamiah, yaitu dengan "belajar" dan berupaya untuk meningkatkan value (nilai diri). Hasilnya adalah lahirnya generasi baru yang sekedar mengidamkan materi, memimpikan popularitas, tapi MENGESAMPINGKAN perlunya mengembangkan potensi diri.

Bila kita mau jujur melakukan introspeksi, masih banyak kasus KESERAKAHAN yang "menabrak" harmoni hukum alam, yang kerap terjadi disekitar kita. Korupsi, manipulasi, jual-beli gelar, konversi sawah irigasi teknis, illegal logging, adalah contoh lainnya. Orang menjadi sedemikian "mencintai" materi ketimbang concern dengan seberapa banyak MANFAAT yang bisa diberikan pada sekelilingnya.

Sesungguhnya alam semesta telah "mencontohkan" banyak hal pada kita. Alam semesta begitu patuhnya pada Hukum Tuhan sehingga terciptalah keteraturan. Tidak ada pohon yang tumbuh dalam semalam. Tidak ada unggas yang lahir tanpa telur. Tidak ada siang yang mendahului malam. Semuanya serba teratur sehingga kaya akan MANFAAT. Karena itu, kesuksesan yang sejati adalah kesuksesan yang kaya akan manfaat.

Dengan membalikkan Hirarki Maslow, perjalanan hidup manusia akan diawali dengan "aktualisasi diri" dan berpuncak pada terpenuhinya "kebutuhan hidup". Artinya adalah, sebelum kita mulai menghitung materi, sebelum kita mulai berpacu mengejar reward, semuanya DIAWALI dengan membangun kapasitas diri. Sejauh mana kita akan menuai hasil, akan selaras dengan seberapa besar MANFAAT yang mampu kita berikan.

Kesuksesan adalah HAK semua orang. Artinya, setiap orang wajib menebarkan MANFAAT pada lingkungannya. Mari kita bayangkan sebuah perusahaan, sebuah lingkungan, sebuah komunitas, dimana setiap anggotanya saling "berlomba" untuk menebar manfaat. Hasilnya......, akan terwujud "surga" di bumi yang cantik ini. Bravo.

Jumat, 27 Februari 2009

Yang Kita Suka dan Tidak dari Orangtua

Kita tahu ayah dan ibu ingin anaknya berprestasi. Mereka meminta kita belajar dengan baik, kadang mengharuskan kita ikut pelajaran tambahan. Tetapi mengapa Ayah dan Ibu tidak mau mengerti bahwa kita bisa stres, lelah, dan bosan dengan semua kegiatan itu?

Setiap orangtua pasti ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang baik. Karena tuntutan pelajaran di sekolah semakin tinggi, kita pun harus belajar keras jika ingin berhasil dalam persaingan. Jujur saja jika kita sering stres, lelah fisik dan psikis. Kalau sudah begitu, tanpa disadari kita uring-uringan dan barulah untuk mencari perhatian agar orangtua mengerti keadaan kita.

Akibatnya terbayang, kan? Orangtua kadang salah menafsirkannya, kita pun kena marah dan mendapat hukuman dari ayah dan ibu. Tidak jarang, kita mengalami tindakan kekerasan, bahkan tak jarang sikap dan kata-kata orangtua menyakitkan hati.

Kira-kira, sifat apa yang kita suka dari ayah dan ibu? Dengan kelebihan dan kekurangannya, kira-kira seperti apa orangtua ideal yang kita inginkan?

Aku ingin orangtuaku:

  • Menerima aku apa adanya. Paling kesal kalau kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita minati. Misalnya, ayah dan ibu ingin kita pintar bermain musik, padahal kita merasa lebih baik asyik kalau disuruh les melukis.
  • Bersikap adil dan tidak membeda-bedakan. Anak laki-laki dan perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, baik di rumah maupun di sekolah. Kalau anak perempuan mendapat tugas membersihkan rumah atau menyapu, anak laki-laki juga bisa mengerjakan tugas yang sama.
  • Membantu memecahkan masalah. Di mata kita, orangtua adalah pelindung yang siap membantu bila kita mendapatkan masalah. Bila sedang sedih, kita berharap ayah atau ibu dapat menghapus kesedihan itu. Kita akan sangat senang jika orangtua mencarikan jalan keluar pada setiap kesulitan, bukan malah memarahi.
  • Menjadi sahabat dan pendengar yang baik. Paling sedih kalau ayah atau ibu mencela dan meremehkan pendapat kita. Padahal kita ingin pendapat kita dihargai dan didengar. Kalau orangtua bisa berperan sebagai sahabat dan pendengar yang baik, pasti kita lebih terbuka dan jujur dalam mengungkapkan kebutuhan dan perasaan.
  • Menyediakan waktu. Asyik sekali punya kesempatan bermain dan bercanda bersama ayah dan ibu. Meski ayah dan ibu sibuk bekerja, kita berharap mereka menyediakan waktu luang biar sebentar. Contohnya ayah dan ibu cuti bekerja saat kita libur panjang.
  • Memberi hukuman bijaksana. Paling tidak enak bila ayah atau ibu marah dengan menggunakan kata-kata kasar atau hukuman fisik. Kesedihan dimarahi seperti itu sangat membekas di hati, Kita lebih suka kalau ayah dan ibu menerapkan hukuman, misalnya, menegur dengan halus, tanpa harus melukai fisik dan perasaan kita.
  • Mengungkapkan kasih sayang. Di masa kecil, kita senang sekali dipeluk dan dicium. Pelukan, ciuman, dan kata-kata lembut dari ayah dan ibu adalah ungkapan kasih sayang yang sangat menyenangkan. Kita akan langsung merasakan betapa ayah dan ibu menyayangi kita.

Aku sedih bila ayah dan ibu:

  1. Membanding-bandingkan perilaku dengan saudara atau anak lain.
  2. Menghardik dengan sebutan "bodoh" atau "jelek".
  3. Mengancam akan meninggalkan aku seorang diri.
  4. Memarahiku di depan umum atau di depan teman-teman.
  5. Mengusir dari rumah.
  6. Menghukum secara fisik hingga membekas.
  7. Melukai perasaan lewat kata-kata kasar dan menyakitkan hati.
  8. Mengunci di tempat tertutup dan gelap.
  9. Menghancurkan mainan kesayangan.
  10. Tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan perbuata yang dianggap salah.

Trik komunikasi dengan ayah dan ibu

  • Jika ayah atau ibu sedang berbicara, jangan pernah memotong pembicaraan.
  • Jika kita salah, segera minta maaf den memberi penjelasan yang jujur.
  • Jangan ragu menunjukkan rasa sayang lewat kata-kata, pelukan, atau ciuman.
  • Ungkapkan perasaan jika ayah atau ibu menerapkan hukuman yang menyakitkan. Tentu saja setelah suasana tenang.
  • Sebelum meminta sesuatu, usahakan memenuhi kewajiban terlebih dulu seperti belajar, berdisiplin, dan bertanggung jawab.
Jika ada masalah yang ingin dibicarakan, cari waktu yang tepat jangan di saat ayah dan ibu sedang lelah.

Kamis, 22 Januari 2009

Kepercayaan Diri


Alkisah, ada seorang pengusaha yang cukup terpandang di sebuah kota. Suatu ketika, dia ingin pergi berlibur ke desa kelahiran ayahnya untuk istirahat sejenak dari kepenatan pekerjaan. Selain rehat sejenak, di sana ia juga ingin menemui kakeknya yang masih tinggal di desa tersebut.

Ia ingin mengunjungi kakeknya karena memang hubungan di antara mereka cukup dekat, meski belakangan ini mereka jarang bertemu. Tak jarang, bila sedang dirundung masalah, si pengusaha muda mencari dan mendapat banyak nasihat dari kakeknya.

Sesampai di desa tersebut, setelah berkangen-kangenan sejenak, si kakek segera bisa menangkap maksud kedatangan cucunya. Itu terlihat dari sikap dan raut wajah cucunya. Sunggingan senyum yang seperti dipaksakan di wajah cucunya tak bisa menyembunyikan raut kegelisahan.

Maka, keesokan pagi, tanpa basa-basi, kakek pun segera menegur sang cucu di tengah percakapan mereka. "Cucuku. Kedatanganmu kemari pasti ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan kakek. Ayo, tidak perlu basa-basi lagi, ceritakan saja kepada kakekmu ini. Biarpun sudah tua begini, kakekmu belum pikun dan masih bisa menjadi tempat curhatmu seperti dulu."

Sambil tersenyum malu si pemuda menjawab, "Kakek memang hebat. Tidak ada persoalan yang bisa kusembunyikan. Begini kek, Kakek kan tahu, usahaku saat ini cukup maju. Semua hasil yang kuperoleh adalah berkat modal dan bimbingan ayah kepadaku. Kakek juga tahu, aku menikahi istri yang cantik dan pandai. Di sekolah dulu, dia selalu menjadi juara dan primadona. Sekarang pun berkat bantuannya, banyak proyek yang bisa kita dapatkan sehingga usaha kita berkembang semakin besar. Tapi..." Tiba-tiba si pemuda terdiam sejenak, tak meneruskan kalimatnya. Ia hanya terlihat menerawang.

Kakeknya pun kemudian menyela. "Bukankah semua yang kamu ceritakan tadi bagus adanya? Kakek belum mengerti masalahmu ada dimana?" Kejar si kakek yang ingin tahu apa yang membuat cucunya terlihat gelisah.

"Jujur saja Kek. Saya merasa tidak percaya diri, bahkan minder bila berhadapan dengan orang asing. Saya merasa, hasil usaha yang telah dicapai adalah karena kontribusi orang-orang di sekitar saya. Dan, sepertinya orang-orang pun menilainya begitu. Saya hanyalah sekadar orang yang beruntung, berada di tempat dan saat yang tepat serta mempunyai pendamping yang tepat pula. Sungguh, saya merasa tertekan dengan kondisi itu," kata si pemuda menunduk lesu.

"Cucuku. Coba pikir baik-baik. Seperti katamu tadi, kamu berhasil karena berada di tempat, saat, dan dengan pendamping yang tepat dan benar. Nah, jika tempat, waktu dan pendamping itu tanpa adanya dirimu sendiri, apakah ada keberhasilan ini? Justru kunci suksesnya ada di dirimu sendiri, cucuku..."

Mendengar jawaban tersebut, si pemuda pun merenung sejenak. Tiba-tiba, ia pun berseru, "Waduh Kek... Saya kok tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya ya? Semua keberhasilan ini tanpa saya tidak akan ada. Terima kasih atas pelajarannya kek. Sekarang saya merasa jauh lebih baik dan lebih percaya diri."

Sungguh, kita akan sangat menderita jika kita terbenam dalam sikap rendah diri hingga tak punya kepercayaan diri. Padahal sejatinya, di manapun dan kapan pun kita berada, jika kita menyadari hakekat kemampuan diri, pastilah masing-masing kita memiliki peranan, tanggung jawab dan prestasi yang sudah dikerjakan.

Memang, tidak ada sesuatu prestasi yang luar biasa yang bisa tercipta tanpa bantuan orang lain. Namun, kita juga harus memiliki citra diri yang sehat, mampu menghargai diri sendiri serta dapat membangun kepercayaan diri dengan usaha yang telah kita buktikan.

Dengan mengembangkan citra diri yang positif, maka kita akan memiliki pula, yakni kepercayaan diri yang sehat, bisa menghargai orang lain dan diri sendiri, dan mampu menempatkan diri di mana pun kita bergaul dengan simpatik, gembira dan menyenangkan. Dengan begitu, kebahagiaan akan selalu kita dapatkan.

Minggu, 14 Desember 2008

NATAL: SEPUTAR BETLEHEM


Nama Betlehem berasal dari kata Ibrani Beth-Lehm atau kata Gerika Baithleem yang berarti 'kota roti' atau 'tempat makanan.' Betlehem dalam pengertian modern dihubungkan dengan arti kata Lehm yang oleh orang Asiria diidentikkan dengan dewa mereka, yakni Lakhmu. Bagi mereka nama itu menunjuk pada arti 'rumah Lakhmu.' Meski demikian, bukan berarti makna nama dalam pemahaman Yahudi diadopsi dari pengertian ini. Boleh jadi karena pengaruh bahasa Semit yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Sejarah Betlehem
Betlehem pada zaman para Patriakh hanya merupakan sebuah dusun kecil. Akan tetapi lama-kelamaan desa sepi ini berubah menjadi kota yang amat terkenal sampai saat ini. Ketenarannya berhubungan dengan Raja Daud. Ia, bahkan juga nenek moyangnya, dilahirkan di kota ini. Yang lebih menarik lagi, Betlehem merupakan tempat kelahiran Juruselamat yang dijanjikan Allah (Mikha 5:1-2). Kota ini adalah kota inkarnasi Allah/sang Firman yang menjadi manusia.

Menurut para ahli Alkitab, nama kota ini berasal dari nama seorang anak laki-laki Salma, yang bernama Betlehem (1 Tawarikh 2:51,54). Bila orang Timur Tengah tempo dulu membangun kota, maka selalu diberi nama seperti anaknya. Keturunan Betlehem makin lama makin berkembang sehingga tempat pemukiman mereka diberi nama Betlehem untuk mengenang leluhur mereka.

Sayang, riwayat hidup Betlehem sendiri tidak tercatat secara rinci. Karakternya tidak diketahui. Keistimewaannya dalam Alkitab tidak ditonjolkan. Tetapi namanya diabadikan menjadi nama kota itu. Jadi bukan ketenaran sang pemilik nama yang lebih menonjol, tetapi sebagai nama kota, Betlehem telah menggemparkan para sejarawan dan orang-orang percaya.

Kota Dengan Banyak Nama
Kota ini terletak di Palestina, dekat perkuburan Rahel, istri Yakub. Betlehem dulu dikenal sebagai daerah Efrata (Kejadian 35:19, 48:7). Selain itu sering disebut juga Betlehem-Efrata (Mikha 5:2); Betlehem Yehuda (1 Samuel 17:12); Betlehem Yudea (Matius 2:1) atau Kota Daud (Lukas 2:4; Yohanes 7:42).

Geografi Umum

Letak Kota
Betlehem terletak kurang lebih 8 km ke arah selatan Yerusalem. Kota ini lebih tinggi dari Yerusalem, kurang lebih 760 m di atas permukaan laut. Kota Betlehem terletak di atas punggung gunung yang berbatu gamping dan berupa suatu cekungan setengah bola. Pinggiran kota ini lebih tinggi dari pusat kota. Kemungkinan besar Daud menggubah Mazmur 23 sembari menikmati panorama kota ini yang sangat mempesona.

Iklim dan Pertanian
Pada musim panas suhu di Betlehem kurang lebih 32 derajat Celcius, sedangkan pada musim dingin kurang lebih 14 derajat Celcius. Walaupun daerah ini berbatu-batu, tetapi merupakan penghasil gandum yang berkualitas, baik bagi penduduk Betlehem sendiri maupun bagi tetangga-tetangga sekitarnya. Memang sejak dahulu Betlehem terkenal sebagai gudang roti. Ingat saja pada zaman Boas dan Rut. Peristiwa romantis itu terjadi di ladang jelai Boas. (Bacalah kitab Rut).

Selain itu di sana sini terdapat kebun anggur dan buah zaitun yang selalu memberikan hasil yang menggembirakan.

Industri
Saat ini, Betlehem merupakan salah satu penghasil mebel indah yang menguasai pasaran di Israel. Selain itu juga merupakan tempat penghasil plastik, makaroni, dan peralatan tenun, serta sandang yang dibuat oleh para wanita bagi konsumsi Israel. Para wanita ini membuat atau menjahit pakaian nasional yang digunakan oleh para prajurit Israel, sebagai pakaian seragam militer.

Rumah yang Indah
Betlehem tidak terlalu besar, tetapi memiliki banyak pintu gerbang. Setiap orang bisa masuk dari berbagai penjuru kota. Ini melambangkan kebebasan bagi penghuninya, karena tidak harus bergerak dengan kaku melalui satu pintu gerbang saja. Keunikan yang lain adalah ukuran rumah-rumah di kota ini pada umumnya kecil tetapi tampak menarik dan indah dipandang mata. Kebanyakan perumahan penduduk di Betlehem dibuat sedemikian rupa sehingga walaupun kecil, namun cukup untuk menampung seluruh anggota keluarga karena dibangun bertingkat.

Peristiwa-peristiwa Penting

Hubungan dengan Alkitab
Betlehem menjadi termasyhur sebagai tempat kelahiran Raja Daud dan Yesus Kristus. Raja Daud adalah seorang raja yang memerintah atas Israel selama 40 tahun di Yerusalem. Yang menarik, ketika ia menjadi raja, Daud diurapi oleh Samuel di tempat ini. Betlehem juga merupakan tempat kelahiran nenek moyang Raja Daud.

Di kemudian hari, Nabi Mikha menubuatkan bahwa sang Mesias, yakni Yesus Kristus akan dilahirkan pula di Betlehem (Mikha 5:1). Mesias adalah figur seorang raja yang akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Mesias yang dijanjikan itu lahir di Betlehem, seperti apa yang tertulis dalam Matius 2:1,5.

Betlehem juga merupakan tempat asal beberapa tokoh Alkitab. Salah seorang hakim Israel berasal dari kota ini, yaitu Ebzam (Hakim-hakim 12:8). Elimelekh dan keluarganya berasal dari Betlehem. Ketika terjadi kelaparan di Israel, ia dan keluarganya mengungsi ke Moab untuk bertahan hidup, tetapi akhirnya ia hanya menemui malapetaka. Ia dan kedua anak laki-lakinya meninggal di sana. Naomi, istri Elimelekh, bersama menantunya Rut kembali ke Betlehem.

Selanjutnya Rut, wanita Moab, ditebus oleh Boas menjadi istrinya (Rut 1:1-2; 4:8-10). Raja Daud dan Yesus Kristus merupakan keturunan dari keluarga Boas. Salah seorang panglima perang Raja Daud juga berasal dari Betlehem, yakni Elhanan bin Dodo (2 Samuel 23:23-24). Setelah Rehabeam, anak Salomo menjadi raja di Israel, ia memperkuat Betlehem menjadi salah satu kota benteng untuk menghadang musuh, dengan menempatkan pasukan, peralatan perang, dan keperluan lain di kota ini (2 Tawarikh 11:6-12).

Keadaan Politik
Daud sangat mencintai kota ini, bukit-bukit Yudea yang mengelilinginya merupakan panorama yang indah. Selain itu kota ini juga terkenal dengan sejarahnya dan sumur-sumurnya yang dalam.

Pada Perjanjian Lama, di Betlehem-Efrata terdapat satu jalan utama yang menghubungkan Hebron dan Mesir (Yeremia 41:17-18). Jalan ini digunakan untuk perdagangan, urusan-urusan politik dan kepentingan umum lainnya.

Ketika Yesus lahir di Betlehem terjadi beberapa hal, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Orang Majus datang dari Timur untuk menyembah dan memberikan persembahan kepada Yesus. Selain itu para gembala dengan sukacita juga datang menyembah Yesus. Namun Raja Herodes yang licik dan kejam, setelah mendengar informasi tentang kelahiran Yesus justru berusaha membunuh Yesus dengan menghabisi semua anak yang berumur di bawah dua tahun (Matius 2:16-18).

Restorasi Betlehem
Hadrianus, seorang kaisar Romawi menghancurkan kota Betlehem pada 132 M. Orang-orang Yahudi dipaksa meninggalkan kota ini sehingga untuk sementara kota ini menjadi sunyi tanpa penghuni. Tetapi kemudian Helena, ibu dari Konstantinus, sang kaisar Kristen pertama, membangun kembali kota Betlehem pada tahun 325 M dan mendirikan gereja Kelahiran Kristus di kota ini. Peremajaan kota dilakukan kembali oleh kaisar Yustinus pada 527-565 M.

Pada tahun 1887 di El-Armana, 1500 km sebelah selatan Kairo, ditemukan surat-surat penting. Surat-surat itu mengindikasikan bahwa dahulu pernah terjadi hubungan diplomatik antara Mesir dan Yerusalem pada abad ke-14 SM. Dalam dokumen tersebut dikatakan bahwa Betlehem merupakan salah satu distrik 'Ursalim,' nama kuno dari Yerusalem.

Kondisi Modern
Pada masa kini Betlehem termasuk salah satu kota yang mendapat kunjungan wisatawan terbesar di Israel. Karena reputasinya yang baik, kota ini disebut kota internasional. Pada tahun 1949, Betlehem masih termasuk wilayah Yordania, tetapi kemudian direbut oleh tentara Israel dan menjadi wilayahnya sejak tahun 1967.

Kota yang kini bernama Bait-Lahm yang berarti 'kota daging' ini, adalah kota kebanggaan orang-orang percaya sepanjang zaman. Bukan karena daging, roti, makanan, atau mebelnya, tetapi karena Betlehem merupakan tempat unik di mana Yesus Kristus dilahirkan sebagai manusia.

Kota Betlehem memang cukup terkenal, tetapi yang seharusnya jauh lebih terkenal ialah Yesus Kristus sang Juruselamat yang telah lahir di kota ini.

25 DESEMBER HARI ULANG TAHUN YESUS?

Setiap orang tentunya punya hari ulang tahun. Demikian pula Yesus. Seluruh dunia memperingati hari kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Tapi benarkah Yesus lahir tepat pada tanggal 25 Desember?

Tak ada yang tahu tentang hal ini. Tapi kita yakin Yesus lahir di dunia ini. Hal itu tak perlu diragukan lagi karena Santo Lukas dalam Perjanjian Baru menceritakan bahwa Yesus lahir pada zaman kekaisaran Romawi. Namun ia tidak memberikan tanggal atau pun bulan yang tepat akan kelahiran Yesus. Hal itu barangkali disebabkan orang zaman dahulu tidak terlalu peduli akan hari kelahiran, seperti orang zaman sekarang.

Ada sejarah tersendiri mengapa 25 Desember diperingati sebagai hari Raya Natal. Di gereja wilayah timur orang memperingati hari Baptis Yesus dan juga hari kelahirannya pada tanggal 6 Januari. Orang-orang kristiani di Rusia dan beberapa negara lain juga memperingati hari Natal pada tanggal itu. Sedangkan orang-orang di Armenia memperingati hari Natal pada tanggal 19 Januari. Namun di belahan dunia lain, banyak orang merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember.

Perayaan Natal di bulan Desember itu merujuk kembali pada tradisi perayaan di zaman Kekaisaran Romawi. Orang-orang Romawi merayakan festival Saturnalia di bulan Desember.

Dahulu, sewaktu Santo Agustinus datang ke Inggris untuk mewartakan Injil, Paus Gregory mengusulkan padanya agar tetap merayakan perayaan penyembahan berhala tetapi menambahkan arti baru sebagai perayaan kristiani. Maka festival Yuletide yang jatuh di pertengahan musim dingin, yang dirayakan oleh orang-orang Skandinavia kuno, diubah menjadi hari raya kelahiran Yesus.

Namun tampaknya ada kebetulan-kebetulan yang aneh. Banyak negara di Eropa memiliki hari libur dan perayaan-perayaan di bulan Desember. Hal yang aneh? Sepertinya tidak. Karena Desember adalah bulan terakhir di penghujung tahun. Di beberapa belahan dunia, matahari di bulan Desember lebih sedikit memancarkan sinarnya. Suasana sehari-hari terasa lebih gelap dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Karenanya orang-orang mengadakan perayaan untuk membuat mereka gembira dan bersemangat. Dalam kepercayaan kuno orang-orang berharap dapat membawa sinar dan kehidupan musim semi dengan mengadakan perayaan khusus.

Kelahiran Yesus di dunia yang bagaikan cahaya dari Allah bagi dunia. Cahaya itu mengusir kegelapan dan memusnahkan kejahatan untuk selama-lamanya.

Tradisi Natal yang kita laksanakan pada masa kini sebenarnya diwarisi dari perayaan-perayaan jauh sebelum tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai peringatan kelahiran Yesus. Memberikan kado, melaksanakan jamuan istimewa, menghias rumah, menyalakan lilin, semuanya itu berasal dari tradisi masa lalu. Karena tradisi itu sangat kuat, maka para pemimpin kristiani zaman dahulu mempertahankannya.

Tradisi Natal kita sekarang memang masih bercampur dengan tradisi masa lalu yang masih mempercayai kekuatan adikodrati. Namun dengan kelahiran Yesus, semuanya itu memiliki makna baru yang dapat menghangatkan hati kita.