Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2009

Catatan dari Tuhan

• Hari ini Aku akan menangani semua masalahmu
• Tolong, ingatlah bahwa Aku tidak memerlukan bantuanmu
• Bila kamu ditempatkan di dalam situasi yang kamu tidak mampu untuk menangani, janganlah berusaha untuk memutuskannya sendiri
• Lebih baik kamu masukkan ke dalam kotak “untuk ditangani oleh Tuhan sendiri”
• Masalah itu akan ditanggapi pada waktuKu, dan bukan waktumu
• Sekali masalah itu diletakkan di dalam kotak, janganlah kamu memikirkan atau mengeluarkannya lagi dari kotak itu.
• Memikirkan atau mengeluarkan kembali akan menunda pemecahan dari masalahmu
• Bila kamu mengira dapat menanganinya sendiri, tolong bawalah ke dalam doa-doamu, agar kamu yakin bahwa itulah pemecahan yang terbaik.
• Karena Aku sendiri tidak pernah tidur atau mengantuk, tidak ada gunanya bagimu untuk tidak tidur
• Istirahatlah, anakKu. Bila kamu ingin menghubungi Aku, Aku hanya sejauh sebuah doa
• Bila kamu sukar untuk tidur malam ini, ingatlah akan banyak keluarga yang bahkan tidak mempunyai tempat tidur untuk merebahkan dirinya
• Bila kamu kebetulan terjebak dalam kemacetan lalu lintas, janganlah cemas. Ada banyak orang dalam dunia ini yang tidak pernah menyetir mobil
• Bila kamu kebetulan mengalami hari yang sial, ingatlah akan orang yang sudah begitu lama tidak mempunyai pekerjaan
• Bila kamu cemas akan suatu hubungan kawan yang menjadi jelek, ingatlah akan orang yang tak pernah mengalami apa arti mengasihi dan sebaliknya dikasihi
• Bila kamu tidak suka bila akhir minggu telah lewat, ingatlah kepada wanita yang harus bekerja 12 jam sehari, selama satu minggu penuh untuk dapat memberikan makan kepada anak-anaknya
• Bila mobilmu rusak di tengah perjalanan, jauh dari keramaian kota untuk dapat bantuan, ingatlah akan mereka yang lumpuh yang akan gembira sekali untuk dapat berjalan
• Bila kamu mengamati dengan sedih sehelai rambut yang mulai memutih, ingatlah akan pasien kanker yang menjalani terapi kemo yang rindu dapat mengamati rambutnya
• Bila kamu tidak tahu dan bertanya-tanya, apakah sebenarnya tujuan hidupmu, berterima kasihlah. Terdapat banyak orang yang tidak memiliki umur panjang untuk mengetahuinya
• Bila kamu memutuskan untuk meneruskan ini kepada seorang kawan, kamu mungkin akan menjadi berkat bagi orang itu

Haruskah aku mencintaimu ?

Saudaraku,
Saat-saat ini aku masih berpikir dan menimbang-nimbang, apakah aku harus mencintaimu setulus hatiku? Apa pentingnya mencintaimu? Toh sudah banyak yang memperhatikan dan melayanimu!! Siapakah aku ini sehingga aku tergerak untuk memperhatikanmu juga? Namun, apa yang bisa kuandalkan dalam diriku untuk mencintaimu? Aku tidak memiliki apapun untuk diberikan padamu! Bagaimana aku bisa mencintaimu tapi aku tidak memberi apapun padamu?
Sahabatku,
Sebelum kujawab pertanyaanmu, aku ingin memanggilmu bukan Saudaraku tapi Sahabatku. Aku ingin mengatakan padamu, "Mengapa engkau masih berpikiran, bahwa cinta itu harus memberi apa yang dimilikinya? " Cinta itu bukanlah memberi apa yang engkau miliki secara fisik saja! Cobalah perhatikan, janin dalam kandungan ibunya, anak-anak kecil, sampai remaja, yang masih tergantung kebutuhan hidup pada orang tuanya, bahkan anak anak cacat pun mampu mencintai orang tua dan saudara-saudaranya. Seorang anak dalam rahim ibu mencintai dengan kondisinya yang terbatas, ia mempercayakan pertumbuhan dan berkembangnya tubuh pada keputusan dan tindakan ibu dan ayahnya. Anak itu tidak memiliki "daya untuk membela diri": dia pasrah untuk dirawat dan dibesarkan orang tuanya. Anak yang cacat dan memiliki kebutuhan "khusus" selalu menawarkan kesempatan untuk diperhatikan, disayang, dilayani dan diistimewakan. Hidupnya yang terbatas menciptakan "kesempatan terindah dalam sejarahnya", yakni kesempatan bagi orang lain untuk terlibat dalam kesulitan hidupnya. Tanpa disadari, mereka pun mendewasakan orang yang normal fisik dan jiwanya...untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang mampu mencintai.
Saudaraku,
Setelah mendengarkan penjelasanmu, rasanya "dalam kesempatan" itu tersembunyi "kehendak bebas". Anak-anak yang kecil, remaja, bahkan mereka yang cacat selalu menawarkan kesempatan untuk diperhatikan dan dilayani. "Kesempatan" itu sebuah "ruang" yang membuat orang mampu untuk ambil keputusan. Masalahnya bagaimanakah kita menemukan "kesempatan- kesempatan" itu kalau kita masih takut mengalami kesepian, takut ditinggalkan, masih kuatir dengan masa depan, takut tidak ada sahabat yang menyapa lagi, takut masalah tidak selesai, kuatir tidak lagi punya rejeki dst. Dalam kekuatiran dan bahkan ketakutan, menghambat kita untuk melihat "dunia di luar sekitar kita". Ada banyak orang: anak anak, remaja, orang kecil, orang lemah, orang putus asa, orang lapar, orang tahanan, ...mereka jelaslah menawarkan "kesempatan untuk dilayani". Kesempatan itu akan kita kenal, kalau kita mulai belajar percaya, bahwa hidup ini milik Tuhan. Hidup anak-anak dalam kandungan ibunya, anak balita, remaja, dan anak anak cacat, adalah milik Tuhan. Merekapun secara pribadi , sungguh istimewa dalam hidup Tuhan. Mereka juga adalah citra Allah, tanda kehadiran Tuhan.
Sahabatku,
Kata-katamu meneguhkan aku! Justru karena manusia itu citra Allah, milik Tuhan, dan hidup kita semua milik-Nya, itulah yang menantang dan menggerakkan kehendak bebas kita untuk saling mengasihi, bukan untuk saling menindas.
Saudaraku,
Tanpa disadari, pertanyaanku akhirnya terjawab ya! Tidak ada keharusan untuk mencintai, tetapi yang ada adalah pilihan untuk "ambil keputusan mencintai dengan kehendak yang sungguh sungguh bebas, bukan terpaksa mencintai".
Warm regards!

Kasih yang berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!"
Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"
Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.
Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."
Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.
Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu." Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.
Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu.....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya...tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....
Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

Jumat, 26 Juni 2009

Getsemani


Seiring bergaungnya demokrasi di negeri ini, sejak Juni 2005, proses pemilihan kepala daerah (pilkada) berlangsung dengan marak di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Tahun ini tercatat lebih dari 30 pilkada tingkat provinsi, kabupaten dan kota yang dijadwalkan berlangsung tahun ini. Belum lagi kalau tahun 2009 sebagai tahun pemilihan presiden (pilpres), lengkap sudah kita nobatkan masa-masa ini sebagai masa pencarian pemimpin.
Bicara tentang pencarian pemimpin, kriteria apa yang kita cari dari seorang pemimpin? Kepandaiankah, kekayaan, atau kecakapan dan kemampuan sosial? John C Maxwell pernah mengatakan, kepemimpinan dimulai dari dalam diri sendiri. Orang yang mampu menguasai diri sendiri barulah bisa dan mampu menguasai orang lain. Smith menambahkan, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengasihi pengikutnya dan mampu memunculkan yang terbaik dari diri pengikutnya.
Bagaimanakah potret pemimpin yang mampu menguasai diri sendiri? Menjelang masa Paskah ini, penulis mengajak kita semua untuk meneladani potret sejarah dalam diri Yesus Kristus yang mampu mengalahkan diri sendiri untuk mendatangkan yang terbaik dari diri pengikut-Nya.
Ujian atas kepemimpinan terjadi di masa krisis. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu melalui masa-masa krisis dalam hidupnya dan bertumbuh semakin besar sebagai pemimpin yang agung. Sejarah membuktikan bahwa Sukarno, Gandhi, Churchill, Martin Luther dan sederetan pemimpin besar lainnya lahir dan dibesarkan dalam situasi krisis.
Seorang pemimpin terbesar yang pernah mengalami krisis terbesar di sepanjang hidupnya adalah Yesus Kristus dari Nazaret. Alkitab memberi kesaksian, sejak kelahiran-Nya sampai dengan kematian-Nya, kehidupan Yesus penuh dengan krisis.
Kelahiran Yesus diawali dengan pengejaran dan pembunuhan bayi besar-besaran oleh penguasa Romawi saat itu, Raja Herodes. Luput dari upaya percobaan pembunuhan, selama hidupnya Yesus harus bersitegang setiap saat dan hidup dalam tekanan dari kaum Farisi, Saduki dan ahli Taurat Yahudi. Bahkan krisis dalam hidup-Nya harus dialami sampai pada kematian yang hina di kayu salib. Sejak lahir sampai pada matinya, Yesus senantiasa di dalam lingkaran krisis.
Satu momen paling krisis dalam kehidupan Yesus adalah momen di taman Getsemani. Di bukit Zaitun pada malam terakhir sebelum peristiwa penangkapan dan penyaliban-Nya, Yesus mengalami masa krisis yang terbesar dalam hidupnya, bahkan mengalami krisis terbesar yang pernah dihadapi manusia sepanjang sejarah. Matius, Markus dan Lukas secara terpisah menggambarkan peristiwa ini dengan rinci dan detail.
Bergumul sendiri
Kisah ini dimulai dengan keberangkatan Yesus sebagai biasa ke taman Getsemani. Lukas 21:37 mencatat bahwa pada siang hari Yesus mengajar di bait Allah dan pada malam hari dia keluar dan bermalam di gunung yang bernama bukit Zaitun. Malam itu, tidak seperti biasanya, Yesus meminta pada sembilan orang muridnya untuk duduk menunggu dan berdoa di salah satu bagian taman sementara dia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk berdoa.
Di dalam rasa takut dan gentar, Yesus menjauhkan diri dari ketiga orang murid terdekatnya itu dan berdoa seorang diri. Yesus menghadapi masa paling krisis di dalam hidupnya sendirian. Dia tahu jelas, sebagai seorang pemimpin, beban krisis ini hanya bisa dihadapi sendiri olehnya. Kisah selanjutnya menunjukkan dengan nyata, setelah tiga kali Yesus berdoa dan kembali kepada murid-murid-Nya, Yesus menemukan mereka sedang tertidur karena dukacita.
Matius dan Markus mencatat kalimat Yesus sebelum dia menjauhkan diri untuk berdoa, "Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggalah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Di dalam seluruh bagian Alkitab, hanya di dalam peristiwa inilah dicatat sekali-kalinya dengan tegas bahwa Yesus merasa sangat sedih dan berat, bahkan seperti mau mati rasanya.
Ayat terpendek di dalam Alkitab, yakni Yohanes 11:35 menulis: Maka menangislah Yesus. Dalam malam terakhir kehidupan-Nya, Alkitab tidak mencatat fakta Yesus menangis di taman Getsemani, tetapi sebaliknya menceritakan kepada kita betapa Yesus merasakan emosi yang lebih dalam dari sekedar meneteskan air mata.
Diungkapkan di dalam kitab suci, Yesus merasa sangat sedih dan berat, bahkan seperti mau mati rasanya. Di dalam dunia psikologi, apa yang dialami Yesus bisa digambarkan sebagai suatu emosi kesedihan yang begitu dalam, duka yang begitu mengiris hati. Apa yang menyebabkan Yesus merasa begitu berat dan sedih?
Lukas 22:41-42 melanjutkan, Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira selemparan batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya : "Ya, Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi." Dalam bagian ini, dicatat Yesus berlutut dan berdoa.
Matius melukiskan kejadian ini dengan kalimat, maka Yesus maju sedikit, lalu sujud dan berdoa (Matius 26:39). Sementara Markus menggambarkannya dengan lebih detail. Yesus maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya (Markus 14:35). Sekali lagi, peristiwa yang dicatat di dalam ketiga Injil sinoptik ini adalah peristiwa yang tidak pernah dicatat di dalam bagian lain dari Alkitab. Peristiwa yang hanya dicatat sekali dan satu-satunya di dalam Alkitab. Pergumulan apa yang membuat Yesus sampai perlu berlutut, sujud, dan merebahkan diri ke tanah?
Malaikat
Malam itu di Getsemani, Yesus bergumul sendiri, Yesus merasa begitu sedih seperti mau mati, Yesus juga berlutut, sujud dan merebahkan diri. Seakan belum cukup dengan itu semua, Alkitab bahkan melukiskan pergumulan Yesus lebih dalam lagi. Setelah Yesus berdoa, Lukas menceritakan bahwa seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.
Kehadiran malaikat membuat Yesus menjadi sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Dari ketiga Injil kita menemukan fakta bahwa Yesus berdoa tiga kali dan menaikkan doa yang itu-itu juga, Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. Lukas 22:44 menambahkan, peluh-Nya menjadi seperti titik- titik darah yang bertetesan ke tanah.
Lukas yang seorang tabib, mampu menjelaskan peristiwa bercampurnya keringat dan darah Yesus ini dengan rinci di dalam kitab yang ditulisnya, sementara kacamata awam dari Matius dan Markus gagal menangkap hal ini. Penelitian di dalam literatur dunia medis menjelaskan, situasi yang dialami Yesus dikenal dengan istilah hematidrosis atau hemohidrosis (Allen, 1967 dalam The Skin: A Clinicopathological Treatise, pp. 745-747).
Kondisi ini adalah peristiwa keluarnya darah melalui kelenjar keringat seseorang yang disebabkan oleh kondisi stres yang sedemikian besar . Selama satu abad terakhir, dilaporkan terjadi 76 kasus hematridosis yang berhasil dianalisis dan diklasifikasi. Faktor utama penyebab hematridosis adalah "Rasa takut yang akut dan pergumulan mental dan emosional yang mendalam" (Holoubek and Holoubek, 1996 dalam Blood, Sweat, and Fear. 'A Classification of Hematidrosis ).
Pembacaan Alkitab selanjutnya memberikan jawaban yang jelas mengenai apa alasan dan penyebab Yesus mengalami semua hal di atas tadi. Semua penderitaan dan pergumulan berat yang dialami-Nya di taman Getsemani yang dingin itu adalah karena Yesus harus menghadapi cawan murka Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat manusia sejak zaman Adam dan Hawa. Rasa cinta-Nya yang begitu dalam kepada kita para pengikut-Nya membuat-Nya rela mengalahkan kehendak-Nya sendiri dan tunduk pada perintah Bapa di surga untuk mati di kayu salib menjadi tebusan bagi kita semua.
Bertentangan dengan cerita umum bahwa kekalahan dan kematian menunjukkan kegagalan, peristiwa penyerahan diri Yesus di taman Getsemani justru memberi hasil akhir berupa kemenangan yang gemilang. Ibrani 5:7-9 menyampaikan berita kemenangan di dalam kematian-Nya, Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. 8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, 9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, 10 dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.
Masih mencari pemimpin idola untuk pilkada dan? Gitu aja kok repot? Cari dong pemimpin yang seperti Yesus! Semoga.

Doa


Di dalam surat Efesus 6:18 kita membaca kata-kata penuh kuasa yang menyatakan betapa pentingnya berdoa dengan tekun. "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus."
Jika kita berhenti sejenak dan menimbang arti ayat itu serta mengaitkan apa yang tertulis di dalam surat Efesus tersebut dengan hidup kita, maka orang Kristen yang cerdas tentu tergerak hatinya dan akan berkata, "Aku harus berdoa, berdoa, sekali lagi berdoa. Aku harus berdoa dengan segenap tenaga dan segenap jiwaku. Apa pun yang harus kukerjakan, berdoa perlu kudahulukan."
Perhatikanlah kata-kata "setiap waktu", "permohonan yang tak putus- putusnya", "segala orang kudus", dan "berjaga-jagalah" (artinya "tidak tidur") dalam ayat tersebut. Rasul Paulus sadar akan sifat manusia yang malas, terutama sifat malas untuk berdoa. Alangkah jarangnya kita berdoa sampai kita tahu bahwa kita telah memperoleh jawaban dari apa yang kita minta.
Mengapakah doa yang tekun, tak kunjung padam, berjaga-jaga, dan berkemenangan begitu penting?
1. Sebab ada Iblis. Dia mempunyai banyak tipu muslihat. Dia tidak pernah berhenti. Dia selalu membuat rencana untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Jika anak-anak Tuhan lemah di dalam kewajibannya untuk berdoa, Iblis akan berhasil membujuk dia.
2. Berdoa adalah jalan yang ditunjukkan Allah untuk menerima segala sesuatu; rahasia dari semua kegagalan yang kita alami di dalam hidup dan pekerjaan kita adalah karena melalaikan doa.
Rasul Yakobus mengemukakan hal ini dengan tegas di dalam pasal 4 ayat 2 dari suratnya, "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." Kata-kata itu mengandung rahasia dari kemiskinan dan kelemahan orang Kristen yang umumnya karena lalai di dalam berdoa.
Banyak orang Kristen bertanya, "Mengapa aku sedikit sekali maju di dalam kehidupan imanku?"
"Lalai di dalam berdoa," begitulah jawab dari Allah. "Kamu tiada beroleh, sebab tiada kamu minta."
Banyak guru sekolah Minggu bertanya: "Mengapa hanya sedikit yang bertobat di dalam kelas saya?"
Jawab-Nya juga, "Lalai di dalam berdoa. Kamu tiada beroleh, sebab tiada kamu minta."
3. Rasul-rasul dijadikan contoh oleh Allah sebagai orang Kristen yang berkenan di hadapan-Nya. Mereka mengemukakan hal berdoa sebagai pekerjaan yang terpenting di dalam hidup mereka.
Bila tanggungan dari gereja pertama bertambah-tambah dan mendesak, mereka "menghimpunkan sekalian murid yang banyak itu, serta berkata, `Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.`" Jelas sekali surat kiriman Rasul Paulus kepada gereja-gereja dan orang-orang saleh tentang doanya untuk mereka menunjukkan bahwa banyak sekali waktu dan tenaganya yang dipergunakan untuk berdoa (Roma 1:10; Efesus 1:16; Kolose 1:9; 1Tesalonika 3:10; 2Timotius 1:3).
4. Berdoa mengambil tempat terkemuka dan merupakan suatu bagian yang amat penting di dalam kehidupan Tuhan Yesus selama Dia tinggal di dunia.
Periksalah misalnya Markus 1:35. "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Hari yang telah lampau adalah hari yang sangat sibuk dan menggembirakan, tetapi Yesus mengurangi jam tidur-Nya, sehingga Ia boleh bangun pada dini hari dan bertambah tekun di dalam doa-Nya.
Di dalam keempat Injil, perkataan berdoa dan doa dipakai sekurang-kurangnya dua puluh lima kali sehubungan dengan kehidupan Tuhan Yesus. Jelas sekali bahwa berdoa memakan banyak waktu dan tenaga Tuhan Yesus Kristus; seorang yang tidak menggunakan banyak waktunya di dalam doa tak dapat disebut sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus yang sungguh-sungguh.
5. Doa adalah bagian terpenting dari pekerjaan Tuhan Yesus yang telah bangkit pada masa kini. Hal ini semakin menguatkan alasan kenapa kita harus berdoa dengan tekun, tak kunjung padam, berjaga-jaga dan berkemenangan.
Pekerjaan Tuhan Yesus tidak berhenti sampai pada kematian-Nya saja. Pekerjaan penebusan dosa memang telah selesai pada waktu itu, tetapi bila Ia bangkit dan naik ke sorga serta duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia mulai dengan pekerjaan lain untuk kita, yang sama pentingnya dengan pekerjaan penebusan dosa tersebut.
Apa yang merupakan pekerjaan Tuhan Yesus yang besar bagi kesempurnaan iman kita, dapat kita baca di dalam Ibrani 7:25. Ayat itu menerangkan apa tujuan hidup-Nya sekarang, yaitu "memohonkan syafaat karena kita" dengan berdoa. Berdoa ialah pekerjaan terpenting yang diperbuat oleh-Nya pada hari ini. Karena doa-doa-Nya, maka Ia sedang menyempurnakan iman kita.
Jika kita bekerja bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus di dalam pekerjaan-Nya sekarang, kita harus menggunakan banyak waktu untuk berdoa; kita harus berusaha berdoa dengan sungguh-sungguh, tekun, dan tak kunjung padam, berjaga-jaga dan berkemenangan. Saya tidak mengetahui sesuatu hal lain yang dapat mempengaruhi saya demikian kuat untuk berdoa pada segala masa, dengan tekun, selain pengertian bahwa berdoa pada hari ini adalah pekerjaan terpenting dari Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit itu. Saya mau bersekutu dengan Dia, dan untuk mencapai maksud itu, saya telah minta kepada Tuhan, bagaimana Ia boleh menjadikan saya, paling tidak sebagai pengantara yang tahu bagaimana seharusnya berdoa serta sebagai orang yang menggunakan banyak waktunya untuk berdoa. A m e n.

True Religiousity (Nats: Mat. 12:38-42)

Hari ini kita masuk dalam suatu bagian pelik, yaitu pergunjingan antara Ketuhanan Kristus dan kereligiusitasan manusia. Khususnya setiap orang Kristen yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen hendaklah berhati-hati jangan sampai terjebak dalam suatu bentuk keagamaan dan kita menjadi kehilangan makna. Betapa sia-sia seluruh ibadah dan pelayanan yang kita kerjakan selama bertahun-tahun kalau kita tidak kembali pada iman sejati sebab semua perjuangan kita akan berakhir dengan kebinasaan.

Peristiwa dimulai ketika orang-orang Farisi menuntut legitimasi Kristus. Para ahli Taurat dan golongan Farisi – orang yang katanya “beragama“ ini sekarang berjumpa dengan Kristus Yesus yang menjadi esensi iman. Seberapa jauhkah orang-orang yang mengaku “mengerti agama“ ini dapat beriman pada Kristus? Perdebatan antara orang Farisi dengan Kristus ini tidak berakhir memuaskan, yaitu pertobatan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Tidak! Adalah wajar kalau orang meminta legitimasi. Legitimasi ini juga yang diminta oleh Musa pada Allah. Tentang diri-Nya, Allah menyatakan: “I am that I am.“ Pertanyaannya bagaimana membangun legitimasi? Religiusitas tanpa legitimasi adalah religiusitas palsu. Religiusitas yang dibangun di atas iman yang fanatik itu membinasakan. Kalau kita tidak pernah memahami obyek yang kita percaya berarti kita telah masuk dalam suatu penipuan diri dan akibatnya adalah kehancuran. Karena itu, sebelum kita mempercayakan hidup kita maka kita harus mengujinya terlebih dahulu. Siapakah dia? Layakkah dia untuk dipercaya? Apakah setiap perkataannya merupakan kebenaran? Sesuaikah hidupnya dengan perkataannya? Ini menjadi pertanyaan legitimasi sebelum akhirnya kita memutuskan untuk mempercayakan hidup kita padanya. Iman sejati haruslah mempunyai obyek sejati.

Meminta legitimasi iman bukanlah hal yang salah, itulah sebabnya ketika orang Farisi meminta legitimasi pada Kristus, Tuhan Yesus tidak menolaknya. Yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa mereka membutuhkan legitimasi? Kenapa legitimasi diberikan pada orang Farisi? Orang-orang Farisi adalah orang-orang terpandang tetapi mereka mempunyai sifat jahat. Perkataan keras dan tajam dikatakan Kristus pada mereka, yakni ular beludak dan mereka juga dikatakan sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia (Mat. 12:39). Kata “tidak setia“ ini dalam bahasa aslinya mempunyai arti penzinah. Namun pada angkatan yang jahat ini, Tuhan Yesus tetap memberikan tanda yang mereka minta, yaitu tanda nabi Yunus. Tanda nabi Yunus ini bukanlah tanda yang sederhana.

1. Lordship of Christ or Humanistic Religiousity

Kalau kita tidak dapat memilah antara religiusitas humanistik dan the Lordship of Christ maka kita akan jatuh dalam kegagalan hidup beriman seperti yang terjadi pada orang Farisi. Tanda yang diminta oleh orang Farisi dari Kristus sesungguhnya adalah tanda yang sesuai dengan keinginannya. Orang Farisi mengasumsikan Kristus sama seperti guru yang lain yang perlu meminta legitimasi. Pertanyaannya adalah apakah Kristus menyetujui posisi itu? Tidak! Ketika orang Farisi mempunyai konsep berpikir maka konsep berpikir mereka langsung dikoreksi oleh Kristus dengan cara berpikir Kristus. Inilah iman sejati. Iman di dalam Kristus adalah iman yang kembali pada legitimasi Kristus bukan legitimasi manusia. Ini titik pertama dalam perdebatan antara legitimasi antara religiusitas humanistik dengan legitimasi Kristus sebagai Tuhan. Kristus memberikan legitimasi dan legitimasi yang diberikan oleh Kristus ini sangat dahsyat dan kuat tetapi legitimasi yang diminta oleh orang Farisi dan ahli Taurat tidak sama dengan yang diberikan oleh Kristus.

Kalau kita mau mencoba berandai-andai, seandainya tanda yang diberikan oleh Kristus sama persis seperti yang diminta oleh orang Farisi dan ahli Taurat maka pertanyaannya apakah hal ini akan menjadikan mereka bertobat? Seharusnya mereka bertobat tetapi Alkitab mencatat tidak. Pertanyaannya apakah Allah harus menyesuaikan tanda-Nya dengan tanda yang diinginkan oleh manusia? Tidak! Tanda yang Kristus berikan berbeda dengan yang diharapkan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat. Disinilah letak perbedaan religiusitas duniawi dengan Ketuhanan Kristus. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mempunyai pemikiran sama persis dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Orang berpendapat bahwa untuk menginjili maka kita harus menyesuaikan dengan keinginannya. Sebagai contoh, orang ingin musik rohani seperti layaknya musik dunia maka gereja menyediakannya dan kalau orang sudah bertobat barulah kita bawa ke musik yang benar. Mungkinkah hal itu terjadi? Alkitab menegaskan orang yang lahir baru berarti segala sesuatu yang lama harus dibuang dan diganti dengan hal yang baru maka kalau yang baru itu justru menuju ke yang lama, itu tidak akan menjadikan orang bertobat. Tanda membawa seseorang kembali pada legitimasi asli. Sebaliknya kalau tanda itu tidak kembali pada legitimasi asli tetapi mencocokkan dengan apa yang diinginkan oleh manusia pada umumnya maka itu bukan tanda asli tetapi pemalsuan tanda. Saya adalah saya dengan tanda-tanda yang ada pada saya tetapi ketika tanda saya bertemu dengan orang lain, saya tidak memberikan tanda saya, saya mengikuti apa yang menjadi keinginan orang lain berarti saya sedang mengorbankan identitas diri saya, dengan kata lain saya tidak menjadi diri saya sendiri. Pertanyaannya saya membuat orang lain mengenal saya ataukah saya sedang menipu orang lain tentang saya. Namun dunia tidak suka kebenaran, dunia hanya suka apa yang dia suka. Ia tidak peduli meski yang kita katakan atau berikan itu kebohongan sebab yang terpenting adalah dia suka. Inilah dunia berdosa. Apakah Kristus membuang identitas-Nya dan mencocokkan identitas-Nya seperti yang diharapkan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat? Tidak! Kristus menuntut setiap manusia untuk mengikut pada tanda-Nya sebab tanda Kristus itulah tanda sejati. Inilah bedanya tanda dengan mujizat. Mujizat tidak bisa menjadi tanda; setiap orang dapat membuat hal yang spektakuler. Tanda itu menunjukkan siapakah Kristus; tanda menunjukkan identitas murni.

Dunia hanya ingin keagamaan yang cocok dengan pemikiran mereka, yaitu: 1) keagamaan yang selalu menolong setiap mereka berada dalam kesulitan sebab dunia tahu bahwa hidup di dunia tidaklah mudah, banyak faktor X yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia maka kalau ada agama yang dapat menolong mereka lepas dari kesulitan, manusia akan sangat suka. Orang tidak suka dengan tanda Yunus sebab tiga hari di perut ikan merupakan gambaran kelemahan. Demikian juga dengan tanda Anak Manusia tiga hari berada dalam rahim bumi, 2) keagamaan yang dapat memberikan rasa aman dari aspek tuntutan dosa. Sesungguhnya, manusia sadar kalau dirinya berdosa dan dosa itu harus dihukum maka manusia ingin agama yang membuatnya tidak terikat dan ia masih bisa berbuat dosa dan kalaupun ia telah berdosa maka masih ada jalan untuk menyelesaikannya. Inilah yang dunia suka.

Manusia tidak suka disadarkan akan dosa. Tanda yang mereka harapkan adalah tanda yang menyenangkan seperti tanda 5 roti 2 ikan yang dapat memberi makan 5000 orang. Namun tanda yang diberikan oleh Kristus justru tanda pertobatan. Orang Farisi dan ahli Taurat sangat memahami mengapa Yunus harus masuk dalam perut ikan, yakni karena ia melawan Tuhan. Tiga hari Yunus di perut ikan implikasinya pada Tuhan Yesus harus mati menanggung dosa manusia. Mereka tidak dapat menerima tanda Kristus sebab tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh manusia. Disinilah letak perbedaan the Lorship of Christ; kalau benar kita men-Tuhankan Kristus maka kita harus kembali pada tanda sejati dan kita akan men-Tuhankan Kristus dalam seluruh hidup kita.

Biarlah dalam seluruh aspek hidup kita, kita memohon pada Tuhan kalau kita meminta tanda, hendaklah tanda yang kita minta itu sesuai dengan apa yang Tuhan pikir bukan sebaliknya, Tuhan yang harus mencocokkan dengan kita. Mentuhankan Kristus berarti kita taat pada tanda Kristus. Sangatlah disayangkan, orang justru dibawa pada Kristus palsu seperti yang dunia berdosa inginkan. Cobalah tengok cara atau konsep beragama termasuk Kekristenan yang ada hari ini; semua keputusan dibuat berdasar keinginan dan tuntutan manusia. Maka tidaklah heran kalau hari ini menjumpai banyak orang Kristen yang berpindah ke agama lain yang sifatnya humanistik sebab “iman Kristennya“ juga berbasis pada religius humanistik. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan kita mengenal “siapakah Kristus sejati“? Sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita? Kita yang harus mengubah seluruh konsep berpikir kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ingat, Allah bukan budak kita yang harus menuruti semua keinginan kita. Tidak! Manusia yang harus taat pada perintah Allah maka itu menjadikan seluruh hidup kita indah.

2.Lordship of Christ or Supremacy of Culture

Manusia mudah sekali dibawa ke dalam konsep yang salah, hal ini tidak aneh sebab sebelumnya telah mempunyai konsep iman yang palsu, yakni iman yang berpijak pada “allah-alah idol.“ Allah yang menjadi obyek iman itu tidak lebih merupakan pencerminan dari egoisme dan humanisme manusia seperti yang diungkapkan oleh Feurbach. Dunia berpendapat bahwa agama itu tidak lebih sebagai hasil pemikiran budaya. Jauh sebelumnya, golongan Farisi dan para ahli Taurat juga mempunyai konsep yang sama. Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengemukakan orang Yahudi sangat membenci Kristus sebab tanda Kristus membentur keagamaan Yahudi dan menghantam budaya Yahudi. Orang Yahudi telah menempatkan budaya di posisi paling atas dan hasil budaya antara lain, seni, arsitektur, tradisi termasuk keagamaan. Salah! Budaya telah bercampur dengan tradisi dan agama. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita menyembah agama sebagai produk budaya; orang tidak akan pernah bertemu dengan Allah sejati karena “allah“ yang kita sembah itu tidak lebih hasil pemikiran kita secara budaya. Inilah keagamaan humanistik yang hari ini dijalankan oleh hampir seluruh manusia di setiap tatanan hidup dan semua kultur manusia. Alkitab menegaskan Allah harus berada di atas budaya dan Allah yang harus membentuk budaya; budaya harus tunduk di bawah agama. Kristus adalah the Lord of Culture dan orang Yahudi tidak suka hal ini, itulah sebabnya mereka bersepakat untuk membunuh Yesus Kristus. Orang Yahudi tidak ingin iman sejati itu berada di atas budaya. Teologi Reformed menyadari bahwa culture mandate harus tunduk di bawah iman; budaya harus kembali pada Kristus, the Lordship of Culture sebab Dia satu-satunya sandaran mutlak bagi manusia.

3.Lordship of Christ or Humanistic Sign

Tuhan Yesus adalah absolute standar namun dunia berdosa tidak mau kembali pada standar mutlak. Dunia menetapkan agama itulah yang harus menjadi standar akibatnya agama menjadi pluralistik dan bersifat relatifistik. Maka tidaklah heran kalau orang mencari agama yang cocok dengan keinginan kita begitu pula di Kekristenan, orang mencari gereja yang sesuai dengan keinginannya. Esensi iman telah rusak. Perhatikan, iman bukan cocok dengan kita; iman bukan apa yang kita suka; iman tidak bersifat relatifistik. Iman mengandung unsur kemutlakan dan Allah yang dipercaya sebagai dasar iman harus bersifat mutlak. Orang tidak pernah mau mengakui bahwa iman itu bersifat mutlak tetapi di sisi lain, orang harus mempunyai iman yang mutlak. Jadi kalau ada orang yang mengaku beriman Kristen tetapi tidak mengakuinya kebenaran Alkitab maka dapatlah dipastikan ia bukan Kristen. Pertanyaan lebih lanjut, ia beriman pada apa? Banyak kemungkinan, bisa saja ia beriman pada materialisme, kalau Kristen dapat membuatnya menjadi kaya barulah ia menjadi Kristen; iman harus cocok dengan apa yang menjadi keinginannya. Adapula orang yang beriman pada segala sesuatu yang menurutnya baik – iman subyektif sebab sesungguhnya yang menjadi “allah“ dalam dirinya tidak lebih adalah dirinya sendiri. Di satu sisi mungkin ia anggota dari salah satu gereja Kristen tetapi ia bukan Kristen; antara identitas sorga dan identitas dunia tidak sama.

Iman sejati harus kembali pada Kristus karena iman sejati harus mengandung kemutlakkan. Pertanyaannnya sekarang adalah kenapa harus Kristus? Tanda Yunus 3 hari dalam perut ikan menjadi gambaran Kristus. Peristiwa Yunus tentulah tidak asing bagi golongan Farisi dan para ahli Taurat apalagi pekerjaan mereka sehari-hari adalah menyalin kitab Perjanjian Lama. Mereka sangat memahami bahwa kalau Niniwe bertobat itu karena Injil Pertobatan yang diberitakan oleh Yunus – utusan Allah. Alkitab mencatat tidak hanya seluruh penduduk Niniwe yang bertobat bahkan seluruh binatang pun ikut berkabung. Kedatangan Yunus sangat simple tetapi dengan tanda yang luar biasa - Allah Jehovah bukanlah allah yang dapat dipermainkan. Allah sangat marah pada Yunus karena Yunus memberontak maka hal ini membuat orang-orang Niniwe menjadi gentar dan takut pada Allah Jehovah. Dengan kata lain Tuhan Yesus mau menanyakan pada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, kalau orang-orang Niniwe bertemu dengan tanda Yunus langsung bertobat lalu bagaimana dengan sikap orang-orang Farisi dan para ahlit Taurat yang setiap hari bergelut dengan kitab Perjanjian Lama sekian lama, sudah bertobatkah mereka? Tidak!

Keagamaan humanisme selalu menuntut Tuhan yang mesti cocok dengan diri kita. Inilah sikap manusia berdosa dan gejala ini telah masuk dalam semua manusia bahkan hampir seluruh agama. Termasuk orang Kristen hanya mau ikut pada “Tuhan“ yang sesuai dengan keinginannya. Tuhan Yesus telah memberikan tanda seperti yang diminta oleh orang Farisi dan para ahli Taurat. Kota Niniwe didiami oleh orang-orang jahat itulah sebabnya, Yunus melarikan diri ketika ia diutus Allah untuk pergi memberitakan Injil Pertobatan, ia tidak rela kalau kota yang kejam dan jahat ini mendapat pengampunan dari Tuhan. Apalagi Kristus, Ia rela datang dan mengampuni setiap manusia berdosa yang tidak layak mendapat pengampunan dari Tuhan. Kalau Yunus saja tidak rela terlebih lagi Anak Allah seharusnya lebih tidak rela menyelamatkan manusia berdosa namun kalau Tuhan masih berkenan menyelamatkan kita maka itu merupakan suatu anugerah besar. Inilah tanda sejati yang Kristus berikan dan tunjukkan namun sangatlah disayangkan, dunia tidak dapat mengerti dan melihat tanda sejati. Mereka sangat bebal. Kalau Allah sudah sangat mencintai Niniwe, kota yang seharusnya dihukum apalagi pada kita, manusia berdosa, Tuhan sangat mencintai kita; Dia mengirim anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia berdosa. Kristus ingin membawa kita kembali pada kebenaran sejati.

Tanda yang Kristus berikan mempunyai makna dan nilai yang jauh lebih besar daripada sekedar tanda yang diharapkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Kristus juga memberikan tanda lain dengan menggunakan gambaran hikmat yang dimiliki oleh Salomo. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa hikmat yang Ia berikan jauh lebih besar dari hikmat Salomo. Problematika yang sama masih terjadi di abad 21, manusia sulit menerima kebenaran sejati; manusia lebih suka diberikan sesuatu benda yang cocok dengan nafsunya. Biarlah kita melihat dan mengerti tanda Kristus yang sejati dan tanda itu semakin menguatkan iman kita; kita tidak mudah diguncangkan oleh berbagai-bagai ajaran sesat yang berkembang hari ini. Dunia tidak membutuhkan orang pandai, dunia membutuhkan orang bijaksana – orang yang dapat mempertim-bangkan semua aspek dengan matang lalu mengambil keputusan tepat seperti kehendak Allah. Bijaksana sejati itu bisa kita dapatkan dalam Kristus Yesus; Dia adalah satu-satunya sumber bijaksana sejati. Hendaklah kita menjadi bijaksana, kita dapat melihat tanda sejati yang Kristus berikan. Tidak ada apapun di dunia yang dapat melawan Ketuhanan Kristus. Biarlah kita mengevaluasi diri, apa yang telah kita perbuat bagi-Nya, sudahkah engkau giat bekerja bagi-Nya? Memohonlah pada Allah supaya kita diberikan kekuatan dan kebijaksanaan supaya kita dapat men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita. Amin.

“NUNGA DIIDA MATANGKU HALUAON NA SIAN HO” (LUKAS 2 : 27 – 35)

1.Borhat sian pangalapation di parhataan evanggelium, marharoroan sian hata gorik “euangelion”, lapatanna barita las ni roha, saihot do Matius dohot Markus, evanggelium Lukas mangondolhon barita nauli na gabe sintuhu haroro ni Jesus tu portibion. Pangumpolan ni evanggelium Lukas ima barita nauli diondolhon tarlumobi tu angka na pogos, na metmet dohot angka na dangol. Ido umbahen digoari evanggelium Lukas on, Injil Sosial. Asa mansai nalnal do barita las ni roha i dijalo jala dipanghilalahon angka na porsea di Jesus. On do na gabe sintuhu dohot dasor las ni roha na gabe pamujion ni angka na porsea di Debata, songon las di roha ni si Simeon diturpuk on alani i dipujipuji ibana do Debata naung ro manopot bangsoNa jala napatupa haluaon. Asing ni ende pujipujian ni si Simeon on, memang ditradisi ni huria bona pola do dipahembang 2 (dua) ende pujipujian ima, Magnificat (Nyanyian Maria) di Lukas 1:46-56 dohot Benedictus (Nyanyian Zakaria) di Lukas 1:67-79. Siala na mansai nalnal pangondolhonon di pamujion tu Debata di evanggelium Lukas on, digoari pande bisuk padan naimbaru do evanggelium Lukas on “Injil Pujipujian”.
Sada hapunjungan ni evanggelium Lukas on sian evanggelium na asing ima pangondolhononna di pangulaon ni Tondi Parbadia. Panindangion ni si Simeon di pujipujianna i ndada haruar sian dirina sandiri manang sian tahitahi ni rohana alai marhitehite pangulaon ni Tondi Parbadia do(band. tu panindangion ni si Sakarias di Lukas 2 : 67).

2.Uju diboan natorasNa Jesus i tu huta Yerusalem laho mambahen tu Ibana mangihuthon adat na niaturhon ni patik i, disima pajumpa Jesus dohot si Simeon, sahalak na bonar jala na daulat namaimaima pangapul tu Israel. Adong 3 (tolu) ragam hasomalan hombar tu Patik ni si Musa na ingkon ulahonon ni halak Israel diparsorang ni anak buhabajuna, ima “pasunathon” dohot “pasurathon goar” (ayat 21) ala ramun do ina na imbaru manubuhon posoposona, ndang jadi haruar sian jabuna saleleng pitu ari (bd. 3 Musa 12:2); dung pe diari paualuhon asa boi boanon posoposo i tu Bagasjoro di Jerusalem jala ndang mansalai nang pe di ari Sabath. Songoni ma si Josep dohot si Maria borhat mamboan posoposo i i Bagasjoro laho “pasunathon” dohot “pasurathon” goarna ima Jesus, hombar tu tona na jinalo ni si Josep dohot si Maria sian surusuruan (Lukas 1:21;31). Napaduahon ima ari pangiasan/pentahiran ni si Maria (ayat 22). Alai nang pe naung dipasunathon dohot dipasurathon Jesus, posoposo i, hot dope si Maria rajumon “ramun” alani i ndang jadi manjama angka ulaula na badia mannag mamongoti Bagasjoro saleleng 33 ari nari sian ari papituhon i ala dakdanak baoa ditubuhon, asing muse dope molo dakdanak boru ditubuhon sada ina, ramun 80 ari lelengna. Boi do ina i isara martandang tu hombar jabuna manang mangulahon aktivitas si ganup ari, alai na so jadi mandohoti kegiatan parugamoon di Bagasjoro (bd. 3 Musa 12:1-8). Jadi dung mulak si Josep dohot si Maria tu Nazareth hot dope si Maria “ramun”, paima gok ari pangiasonna (pentahiran). Napatoluhon pasahat pelean pardengganan (ayat 22-24). Asa dung gok ari pangiasannasida mangihuthon patik ni si Musa, lapatanna 33 ari dung tarunat manang 40 ari dung sorang Jesus, borhat ma muse si Josep dohot si Maria mamboan Jesus tu Bagasjoro laho “paishon” (mentahirkan) si Maria sian haramunonna, sekaligus “manobus” posoposona i sian Debata, ala diparhatopot sandok halak Israel do nasa buhabaju baoa termasuk dohot anak ni pahanpahanan, Debata do nampunasa (bd. 2 Musa 13:2). Jadi pelehonon ni ina ma birubiru bahen “pelean situtungon” asa ias sian haramunonna dohot sada anduhur (darapati) bahen “pelean pardengganan” asa sesa dosana. Dungi gararonna ma 5 (lima) shekel tu malim songon “tobus” ni posoposona (bd. 4 Musa 18:15). Upacara on ma na ginoaran “panobusion anak buhabaju”. Molo keluarga na pogos na so mampu manuhor birubiru, boi ma anduhur songon singkat ni birubiru i (bd. 3 Musa 12:8). Songon si Hanna uju pasahathon si Samuel tu Debata dipelehon do anak ni lombu dohot itak (1 Sam 1:11,21-25), songoni ma si Maria dohot si Josep dipasahat peleanna hombar tu patik ni si Musa. Diari “pangiason” dohot “panobusion” di si ma pajumpa Jesus dohot si Simeon di Bagasjoro i.

3.Si Simeon ima sada sian ruas ni sekte na patoluhon sian 3 (tolu) ragam pangantusion ni halak Israel (sekte) taringot tu haroro ni Mesias manang hasasaut ni Harajaon ni Debata. Ai dihaporseai halak Israel do mansai gomos paboa nasida do “bangso na pinillit ni Debata” jala disada tingki gabe “tuan” ni sude bangso di portibion. Naparjolo : Namanghirim di hasasaut ni “era Daud”, lapatanna pomparan ni si Daud ma na manggomgomi partibion (penguasa dunia) jala tunduk ma saluhut bangso tu nasida. Umumna panghirimon na si songonon ma nanianut ni kalangan kelas bawah ima sekte Esseni dohot Sikhari. Ima rakyat kebanyakan na tongtong margerilya manggorgori paraloan dompak panggomgomi Romawi dibagasan sangkap patupa “revolusi besar-besaran” na langsung niuluhon “Mesias Nasionalis” na sian pomparan ni si Daud. Napaduahon ima na manghirim “Debata sandiri do na langsung” mamasuhi sejarah portibion dohot sejarah ni hajolmaon dibagasan pangantusion “na supranatural”. Disi ma Debata sandiri songon “Mesias” patuduhon huaso dohot hagogoonna na pahothon harajaonNa ditongatonga ni bangso Isarel dohot nasa bangso. Pandangan on dianut angka aristokrat. Patoluhon ima horong na minoritas na paimahon haroro ni Mesias manang hapataran Harajaon ni Debata ndada dibagasan rumang kekerasan, huaso manang hagogoon ni pasukan manang penaklukan bangsobangso alai “ngolu partangiangon na torus menerus” ima ngolu na marhabonaron dohot namarhadaulaton laho mangulahon lomo ni roha ni Debata sahat tu haroroNa. Horong on ma nanigoari “Orang-orang saleh di tanah suci” (angka halak na bonar jala na daulat). Mansai benget do nasida paimahon haroroni Mesias i sahat ro di na matua. Ia si Simeon, sahalak sian horong on do, na laho tu Bagasjoro martangiang secara intens huhut meneraphon ngolu na marhabadiaon dohot marhadaulaton. Digoari nasida do ari haroroni Mesias i “ari ni Tuhan” ima sada tingki diantara ni dua zaman na berbeda jala kontradiktif, “zaman na jahat” dohot “zaman na denggan”. Menurut si Simeon nunga marbagabaga Debata tu ibana marhite Tondi Porbadia paboa na so idaonna hamatean so jolo diida ibana Kristus Tuhan i. Diida jala dihaporseai si Simeon paboa Jesus do napinarbagabaga ni Debata i tu ibana. Las ma rohana uju diida ibana Jesus, posoposo i. Ndang adong petunjuk di evanggelium Lukas on taringot tu “aha alana” umbahen pintor porsea ibana, Jesus do posoposo na binagabagahon ni Debata. Ra adong “gerakan” ni Tondi Porbadia dibagasan dirina mambahen pintor pasti jala spontan ibana mandok, “Paluaonmu ma nuaeng, ale Raja, naposomon di bagasan dame, songon na nidokmi; ai nunga diida matangku haluaon na sian Ho i, na pinaradem di jolo ni bangso sudena, bahen panondang sumondangi angka parbegu, bahen hasangapon ni Israel, bangsomi” Marhite sian i boi antusanta paboa Tondi Porbadia do na “menuntun” (mandasdas) ibana asa ruar sian inganan partangianganna jala bongot tu Bagasjoro umbahen gabe pajumpang dohot si Maria/Josep nang posoposo i.

4.Di pelaksanaan pesta-pesta Natal ditingki na parpudi on, jotjotan do marrumang tradisional-seremonial. Ai lam matua jolma, lam leleng marhuria jala lam jotjot mamestahon ari hatutubu ni Tuhan Jesus, ganup taon olo do ra sampe 3 sahat tu 5 hali, isarani natal huria (singkola minggu, naposobulung, ama, ina, sektor, umum), natal parsahutaon, natal margamarga, natal kantor, natal oikumene dohot angka na asing na so hagoaran, alai ternyata secara umum lam tu pejelna do pangantusion ni jolma laho manghaporseai paboa Jesus do realitas hapapatar ni Harajaon ni Debata. Terbukti sian angka sungkunsungkun, isara : Boha do parjadina Debata gabe jolma dibagasan diri ni Jesus ? Secara umum hariburon dipamestahonon di ari hatutubu ni Tuhan Jesus i na rumingkot, ndada pangauhonon dohot panindangion “nunga huida haluaon na sian Debata”, sian angka na parsidohot di pesta natal i. Nunga torop be jolma ndang be didasdas (dituntun) Tondi Porbadia laho mandohoti pesta natal huhut laho manghaporseai hapapatar ni Harajaon ni Debata, alai nunga didominasi nalar manang parbinotoan ni jolma. Ingkon marhite Tondi Porbadia do boi antusan jala haporseaan : “Debata gabe jolma dibagasan Jesus Kristus”. Alani i ingkon tubu do roha parsitutuon marhite ngolu habonaron dohot na marhadaulaton asa boi panghilalahonon “pandasdasan” (tuntunan) ni Tondi Porbadia laho marnida manang mamestahonon Hatutubu ni Tuhan Jesus, baru pe asa jumpang pangantusion haporseaon dohot panindangion songon na nidok ni si Simeon, ‘nunga diida matangku haluaon na sian Ho”, paboa na tutu do Jesus i hapapatar ni Mesias dohot Harajaon ni Debata.
Dimingguta sadarion ma minggu parpudi di taon 2009 alani i dina laho mangujungi taon 2009 on ingkon lam marsitutu do hita mamujimuji Debata huhut manghatindanghon “nunga diida matangku haluaon na sian Ho”, na marmudumuduhon pardalanan ni ngolunta mandalani ariari di taon 2009 on. Songoni nang dina laho mamasuhi sada taon naimbaru paboa naung “taida haluaon na sian Debata” marhite Jesus Kristus, ingkon lam papataronta ma Harajaon ni Debata tu na humaliang hita ima marhite ngolu partangiangon na manontong dohot marhite parange nang parulaan na “marhabonaron” dohot “namarhadaulaton” maradophon dongan jolma. Ngolu na sisongoni do na nidasdas (dituntun dan dikendalikan) Tondi Porbadia.. A m e n.

LUKAS 10 : 25 – 37 (GABE DONGAN JOLMA TU NA ASING )

1.Gabe dongan jolma tu na asing (Menjadi Sesama Bagi Yang Lain). Marmula sian panghataion teologis (wacana teologis) na pinasahat ni Siboto Patik taringot tu makna hangoluan salelelenglelengna ima hangoluan “na naeng ro” dohot “disan” (kehidupan “nanti” dan “disana”) alai marujung di sada ulaon/tindakan na praktis na boi pintor nihilalahon jala nialaman ni dongan jolma “sadarion/nuaeng” (kini) dohot “dison” (disini). Ndang olo Jesus i terpancing jala terjebak di perdebatan teologis na so marimpola. Migor langsung do Jesus i “mendaratkan” panghataion i, lumobi di na manaringoti “ise do dongan jolma i ?” Narumingkot tu Jesus ndada “ise” alai “boha” manang “songon dia” (“bagaimana”) hita boi gabe dongan jolma tu manang ise pe dohot didia pe.

2.Ayat 25-29. Disungkun sahalak Siboto Patik do Jesus taringot tu syarat-syarat laho manean hangoluan salelenglelengna. Sungkunsungkun na sarupa muncul do nang di Lukas 18:8 dohot Matius 22:35. Dua do sangkap ni Siboto Patik, ima manungkun sada hal na so binotona jala manungkun mardongan sangkap asa diboto ibana Guru na songon dia do Jesus i. Isi ni sungkunsungkunna manaringoti “hangoluan salelenglelengna” ndang manaringoti patik ni Debata. Dialusi Jesus do ibana marhite sungkunsungkun, “aha do natarsurat dipatik i? jala aha do najinaha ho disi?” Huroha tangkas do dijaha gabe diingot Siboto Patik i najinahana, pintor hatop do dialusi, “ingkon dihaholongi ho do Tuhan Debatami sian nasa ateatem, sian nasa tondim, sian nasa gogom dohot sian nasa roham, jala donganmi songon dirim” Manghaholongi Debata sian na 4 (opat) unsur on (tondi, ateate, gogo dohot roha) mangondolhon asa dihaholongi jolma i Debata sian sandok ngoluna. Manghaholongi Debata ndada holan di simanghudap alai dohot do marhite pambahenan. Laos songoni do na manghaholongi dongan jolma, naeng ma patupaon i songon na manghaholongi diriniba sandiri. Sada singotsingot do on tu na masa hatiha i, di na torop ahli teologia Jahudi na mangajarhon patik marhite dalan na lilu. Diajari nasida do patik manghaholongi sian dalan na terpaksa jala ndang sian nasa roha dohot ateate. Totalitas ni hajolmaon do na naeng manghaholongi Debata dohot dongan jolma doshon diriniba sandiri. Nang pe tingkos dialusi Siboto Patik i dohot alus na lengkap, alai ndang haruar sian sandok hadirionna, ai holan na malo mangapil do ibana. Ido umbahen dialusi Jesus muse, “tingkos do alusmi, ulahon ma songoni asa mangolu ho” Naeng paboahon ni Jesus do marhite pandohanNa i, alusna i do na gabe ojahan asa teanonna hangoluan salelenglelengna. Alani i asa unang holan mangapil patik Siboto Patik i alai dohot ma mangulahonsa. Alai tong do mamintori diri Siboto Patik on marhite sungkunsungkun, ise do donganhu jolma? Ra diboto Siboto Patik on do ise do donganna jolma alai sikap dohot pambahenan nasida ndang songon na niharaphon Jesus. Diantusi nasida do patik ni Debata alai dilului nasida dalan laho mamintori dirina. Sungkunsungkun ni Siboto Patik on, ise do donganhu jolma ?, sasintongna sorminan roha dohot sikap na mamintori diri. Boi do adong roha dohot sikap ni jolma na jotjot mamintori diri nang pe naung diboto hata nang pambahenanna naung salah. Sadar do ibana naung salah di hata nang pambahenanna alai ndang adong pangokuhonon dohot roha laho paubahonsa alai dilului dalan laho manutupi hasalahan manang hahurangan i dalan laho mamintori diri. Alani i lam tapauba ma rohanta asa ndang mamintori diri. Sian sungkunsungkun Siboto Patik on adong asumsi na tersembunyi ima mambahen pembedaan-pembedaan ni jolma. Adong do jolma na pantas dohot layak digoari dongan jolma jala adong na so patut digoari dongan jolma. Artina nang ni ida jolma i alai ndang gabe otomatis jolma na ni ida i gabe dongan jolma. Nunga dibuktihon pardalanan ni sejarah di portibion, jotjot masa pembunuhan dohot parporangan ala perbedaan suku, etnis, agama dohot tembok-tembok pemisah na asing( Contohna : apartheid na masa ni Afrika Selatan, di Irak dohot suku Kurdi, di Indonesia pigapiga taon naung salpu masa do parbolatan dohot parsalisian antar suku, ras dohot etnis nang agama). Marhite alasan parasingan/perbedaan alani agama, warna kulit, suku, ras dohot na asing, sahalak jolma diperlakuhon marasing, mardingkan jala boi do masa mangangohon hosa ni sasahalak alani i. Jadi, boni ni sikap primordialisme dohot pangantusion eksklusivisme do sungkunsungkun ni Siboto Surat i, na patupahon pembedaan-pembedaan ni jolma siala agama, suku, etnis, ekonomis dohot politis, dna.

3.Ayat 30-37. Laho mangalusi Siboto Patik na manungkun manang ise do dongan goaron, ditariashon Jesus ma sada umpama taringot tu halak Samaria na asi roha. Umpama on dibuat do sian peristiwa na somal masa di dalan balobung na marbahaya. Adong 5 (lima) halak tokoh di umpama ni Jesus on. Naparjolo : sada halak, na tuat sian huta Jerusalem laho tu huta Jeriko, na nisamun panamun; dipupusi ibana, dipukpuhi jala matemate ne do ibana ditadingkon. Ndang apala tangkas binoto ise do na nisamun on alai pigapiga catatan mandok ia jolma na nisamun panamun on ima sahalak Jahudi na tuat sian huta Jerusalem laho tu huta Jeriko, na marhira 27 kilometer (17 mil) daona, marbatubatu do dalan i alani i ndang adong suansuanan huhut gok padang pasir jala adong dalan na menurun/terjal marhira 1200 m (3300 kaki) na ingkon sidalanan. Di zaman Alkitab, digoari do dalan on :”dalan na gok mudar” (jalan berdarah) ala ndang aman, godang panamun martabuni di dolokdolok batu dihumaliang ni dalan on na laho manamun na mamolus dalan on. Napaduahon dohot napatoluhon ima sahalak malim dohot sahalak Lewi na mamolus inganan i alai ndang olo mangurupi jolma na nisamun i huhut dilaosi ibana do. Malim dohot halak Lewi on mulak sian panghobasion di Bagas Joro na di Yerusalem. Mangihuthon Taurat ndang jadi nasida maniop bangke ni jolma (bd. Imamat 21:1; Bilangan 19:11). Anggo dilaosi nasida do i gabe ramun ma nasida alani i ingkon mangulahon ulaon pangurason ma nasida saminggu lelengna jala ndang boi marsaor dohot na torop andorang so salpu masa pangurason i jala ingon manggarar biaya penguburan anggo dijama nasida do jolma na nisamun i. Hape jolma na nisamun i ndang dope mate. Na mabiar disamun do malim dohot halak Lewi on manang alani hamalimon dohot halewion nasida i songon pemuka ugamo ni Jahudi gabe ndang olo mangurupi na hona samun i. Na pasti ndang marasi ni roha nasida, dilaosi do na hona samun i huhut ditorushon nasida pardalananna. Napaopathon ima sahalak Samaria. Halak Samaria on ma na gabe fokus di umpama ni Tuhan Jesus di turpuk on. Halak Samaria ima pomparan ni bangso Israel naung marsaripe tu halak na ro na mian di harajaon Israel Utara dung lengse huta Samaria di taon 722 sM (bd. 2 Raja-raja 19:36-38). Dihasogohon halak Yahudi do halak Samaria songon halak dagang na “satonga keturunan” di pardagingon dohot di partondion. Ndang donganna jolma halak Samaria dietong halak Jahudi. Naung marburakburak do parmusuhan ni halak Jahudi dohot halak Samaria (bd. Yoh 4:9). Jebu do parsalisian nasida i, hape halak Samaria diturpuk on do naumboto holong ni roha tu na nisamun i. Penuh perhatian do halak Samaria on tu na hansitan i, ndang disungkun ibana ise do jolma na nisamun i, halak Jahudi do manang halak Romawi, dna. Na pasti asi rohana marnida na nisamun i jala donganna jolma do na nisamun i, na ringkot diurupi. Diparade halak Samaria on do tingkina dohot gogona laho mangurupi korban ni panamun i, dipasahat ibana rupia dua biaya pangubation jala rade manamba i dana/biaya i molo hurang tu nampuna bagas penginapan i. Napalimahon ima nampuna bagas penginapan. Nampuna bagas on pasti do mananda halak Samaria i ala jotjot ro tu inganan i. Parsaoran na marojahan di pos ni roha ni halak Samaria on tu nampuna bagas i umbahen dilehon ibana dua rupiah laho pauliulihon manang merawat korban na nisamun i. Jala nampuna bagas i pe pos do rohana di halak Samaria i, na ro do muse ibana tu bagasna.

4.Sude do hita manghirim asa dohot gabe panean di hangoluan salelenglelengna. Hangoluan salelengleleng ndada manaringoti ganjang ni umur/asa leleng mangolu (secara kwantitas), ndada holan manaringoti ngolu di ari sogot (surgo) alai manaringoti kwalitas parngoluan do ima namanghaholongi Debata sian nasa roha dohot ateate, nasa gogo dohot tondi huhut manghaholongi dongan jolma doshon diriniba. Mangihuthon umpama ni Jesus on “gabe dongan jolma tu na asing”. Artina haporseaon dohot pangoloion nang haholongon tu Debata ingkon marparbuehon asi ni roha tu dongan jolma na gale, somardihadiha, naginosagosa, na marsitaonon, dna (bd. Poda 14:21
Matius 25:40). Targoar halak Samaria on na asi roha ala dipatuduhon ibana do asi ni rohana i tu angka naginosagosa, na parir parniahapanna. Asi ni rohana i ndada holan marojahan di panghilalaan sambing dohot ndada di panghataionna alai dipatuduhon marhite pangulaon/pambahenanna na konkret, ndang dipaholang suku, ras, ugamo, horong dohot parbangsoon, nang angka na asing pe. Asi ni roha ni halak Samaria i mangharhari “tembok-tembok pemisah” na mambahen diskriminasi di jolma i. Amen.

PARHAHAMARANGGION NA ROSU (PSALMEN 133 : 1 – 3)

1.Na unik do kepribadian (catt. : Kepribadian (personality) adalah ciri-ciri atau tabiat seseorang yang mencakup pola-pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai dan mentalitas. Perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh empat faktor yang saling mendukung dan terkait, yakni warisan biologis (heredity), warisan lingkungan alam (natural emvioronment), warisan sosial (social heritage), kelompok manusia (group), ni jolma i, ndang adong na sarupa (identik) nang pe silinduat (kembar). Jadi marragam do kepribadian ni jolma songoni nang orientasi (pandangan) ni ngoluna. Ditongatonga ni masyarakat pe marragam do suku, agama, budaya, dna (masyarakat plural). Molo pira ni manuk na binahen di ampang jala nihindat ampang i, boi do pira i masitomboman di ampang i gabe pocah manang songon dangka ni hau na donok boi do masiososan, songoni do parsaoran di tongatonga ni keluarga, huria nang masyarakat singgip do tu parbolatan dohot parsalisihan, gabe maol jumpa parsaoran nauli jala na denggan manang na rosu. Hape umumna ganup jolma las do rohana jala hirim do di angka parsaoran na rosu (kerukunan dan kedamaian). Aha do sipareahan manang sipatupaon asa taruli di parsaoran na rosu ditongatonga ni keluarga, huria nang masyarakat ? Jala dia do uli ni parsaoran na rosu i ?

2.Denggan jala sonangnai parhahamaranggion na rosu (ayat 1)
Diayat 1 on, secara khusus talapati hata “na marhahamaranggi” dohot “pungu sahundulan” asa marhite pangalapationta di hata i dapot hita lapatan ni hadengganon dohot hasonangan na dimaksud ni ayat on dohot panghorhonna di ayat 2-3). Hata “na marhahamaranggi” marharoroan sian hata Heber, xa’ (ach). Terjemahan Indonesia mandok “saudara-saudara”, terjemahan Today English Version mandok “God’s people” lapatanna “bangso ni Debata”. Hata xa’ (ach) boi do talapati namarhahamaranggi di tongatonga ni keluarga (na sa-bapa, sa-ompu), ruas ni suku (member of same tribe), ruas ni sadasada punguan manang bangso. Hata “pungu sahundulan” marharoroan sian hata dxy (yakh’-ad). Terjemahan Today English Version mandok “live together in harmony” (hidup bersama dalam keharmonisan), terjemahan Indonesia mandok “diam bersama dengan rukun”. Jadi “pungu sahundulan” marlapatan mangolu dibagasan keharmonisan (live together in harmony). Parhahamaranggion na rosu i ndada hasadaan (unity) dibagasan keseragaman (uniform) alai hasadaan dibagasan keberagaman (diversity) na harmonis, tudos tu Tim Koor na mangendehon sada ende, mansai tabo begeon molo ganup logu/soara diendehon manang disoarahon (Bd. Simfoni di dalam musik yang berbicara tentang harmonisasi, artinya penggabungan keberagaman alat musik yang berbeda tetapi mengeluarkan nada yang sama, sehingga menghasilkan suara yang indah didengar), denggan jala boi diharmonisasi tu logu/soara ni na asing. Anggo siboan logu/soarana be jala ndang diharmonisasi gabe falls begeon jala ndang tabo begeon ni sipareon.

3.Pasupasu tu parhahamaranggion na rosu (ayat 2-3)
Parbue ni parhahamaranggion na rosu ima pasupasu ni Debata na tangkas dipabotohon di ayat 2 – 3 on. Na parjolo ima “songon miak na hushus”. Hasomalan di daerah Timur Tengah do mamiahi simanjujung, tarlumobi dina laho patindanghon sahalak malim manang raja. Miak na angur i mangurangur tu humaliang. Jadi miak i manggombarhon goar na denggan (nama baik) dohot kemasyhuran. Keluarga, huria nang bangso namarparsaoran na rosu, na harmonis tudos songon miak na angur i, tarpasupasu ma ngoluna, angur jala tarbarita ma goarna di hinauli dohot hinadenggan ni parsaoran nasida. Napaduahon ima “songon nambur ni Hermon”. Hermon ima dolok natumimbo di daerah Palestina. Nambur ni Hermon i mangalehon kesejukan, kesegaran tu na humaliangna dohot manganapui tano. Nambur ni Hermon manggombarhon hamadumaon dohot tano na napu (kesuburan). Jadi keluarga, huria dohot bangso na marparsaoran na rosu tarpasupasu do ngoluna di hamadumaon jala mamboan kesegaran dohot kesejukan tu na humaliangna.

4.Konteks keluarga. Na umdonok di sasahalak ima keluargana. Donok di jarak dohot di intimitas (keakraban hubungan keluarga). Hadonokon i marpanghorhon tu hubungan na bagas dohot panghilalaan na marragam, isarani muruk, holong, mardandi, kecewa, dna. Saluhutna i boi marpanghorhon lam tu rosuna parsaoran ditongatonga ni keluarga i jala boi gabe hagaoron manang konflik. Hagaoron manang konflik ditongatonga keluarga marragam do alana, boi do alani arta, hata nang pambahenan/pangulaon, hurang menghormati, dna. Diragam ni panghilalaan i, relasi di antara ruas ni keluarga i gok dinamika (perubahan yang terus terjadi). Donok do ruas ni keluarga i alani boi gabe “masiososan” jala marpanghorhon tu hagaoron/konflik. Disisi na asing masihaholongan jala saling membutuhkan do ruas ni keluarga i (bd. Esau dohot Yakob, ima gombaran ni namarhahamaranggi na konflik/marsalisi alai adong komitmen di nasida nadua laho padengganhon muse parhahamaranggionna asa rosu, uli dohot denggan, 1 Musa 33:1-20).
Konteks Gereja. Gok dinamika do parsaoran ditongatonga ni huria. Adong pertumbuhan nang perkembangan secara kwalitas ruas ni huria (parngoluonna denggan jala uli secara pardagingon nang partondion), songoni nang secara kwantitas (bilangan/jumlah) ni ruas ni huria i. Pertumbuhan dohot perkembangan i hinorhon ni jalinan relasi na denggan diantara ruas ni huria i, songoni nang antar huria. Alai disisi na asing adong do huria na hurang bertumbuh jala berkembang secara kwalitas dohot kwantitas ala konflik internal (sian bagasan) dohot ekstenal (sian duru). Ragam do sibonsirina, boi do ala late, elat, hosom, roha diri, dna.
Konteks Masyarakat. Torop do anggota masyarakat na denggan jala uli parsaoranna, nang pe marasing be agamana, suku, horongna, dna, boi nasida marsiurupan dohot masitumpahan. Alai disisi na asing i, sai adong do na mambahen isu na so denggan ala agama, kepentingan politik dohot horongna na laho mambahen hagaoron/konflik ditongatonga ni masyarakat.

5.Aha do sipareahan manang sipatupaon asa rosu parsaoran manang parhahamaranggion ditongatonga ni keluarga, huria nang masyarakat ? Saotikna adong 4 (opat) hal nang ingkon siparrohahononta (Kami menyebutnya dengan istilah 4 (Empat) “K”).
Naparjolo : “Sisada Tujuan” (Kesamaan Tujuan). Ndang otomatif harmonis manang rosu parsaoran i molo rap ro jala hundul pigapiga halak di sada inganan. Tudos do i tu group musik, rap marpungu pe nasida ganup ari di sada inganan huhut mamangke alat musikna be, ndang gabe jaminan i boi nasida mangendehon lagu na sarupa. Ringkot sada tujuanna ima sada roha nasida mangendehon lagu na sarupa dohot sian kunci na sarupa. Molo sibahen laguna be dohot kuncina be, ndada simponi manang lagu na tabo tarbege alai lagu na falls dohot soara-soara na boi mambahen hansit sipareon. Alani i sisada tujuan do ruas ni keluargata be, naung diboto ruas ni huria nang angka parhalado i do tujuanta bersama songon sada huria? Taingot ma umpasa na mandok Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona. Adong hata ni halak Inggris na mandok “together we can change the world” ( bersama kita dapat merubah dunia). Napaduahon : “komunikasi”. Di punguan koor manang orkestra adong do diringent manang konduktor na mangatur angka parende i manang pemain musik. Marhite gerak ni tanganna do diringent berkomunikasi tu angka parende dohot pemain musik, nadia ma diendehon parjolo, gogo manang halus do diendehon dohot angka na asing hombar tu aturan di partitur lagu i. Songoni do nang di keluarga dohot huria marhite komunikasi na denggan boi ma diantusi jala dihangoluhon saluhut ruasna napinangido sian nasida jala beha ma sipareahon nasida laho mencapai tujuan i. Jadi marhite komunikasi na positif manang denggan boi ma lam tu rosu manang harmonis na sadasada keluarga nang punguan. Napatoluhon; “kerjasama” Molo anggota group musik manang adong sahalak pemain na sibahenbahenna manang lomona mamangke alat musikna mangendehon lagu naung ditotophon jala ndang mangihuthon aturan di partitur lagu manang ndang manangihon dohot marnida arahan sian konduktor, gabe ndang denggan permainan musik nasida jala ndang adong lapatanna. Jadi ingkon boi do kerjasama dohot denggan nasida asa uli huhut tabo begeon lagu naniendehonna. Adong hata ni pande bisuk na mandok, “jika kamu tidaklah mengambil bagian/kerjasama, kamu bukanlah bagian dari regu”. Napaopathon, “komitmen”. Molo holan nanionjar panghilalaan na “tertarik” do sasahalak mangulahon ulaonna, ndada nanionjar komitmen, maol do tulus ulaonna i naniulahonna i. Manang aha jala boha pe hamaolon, marhite komitmen boi ma rap maju dohot bekerja sama. Pemain musik yang tidak dapat memberikan komitmennya tentu saja tidak dapat dimasukkan dalam orkestra. Apa jadinya bila ia tiba-tiba memutuskan untuk tidak naik panggung? Tanpa yang satu ini, kesatuan tidak dapat terwujud. Orang-orang yang berani memberikan komitmen mereka adalah orang-orang yang berani untuk berkorban dan melalui berbagai-bagai tantangan, untuk meraih keberhasilan yang lebih besar dari sekedar prestasi rata-rata.
Sada hal na menarik sian turpuk on, asa rosu manang harmonis parsaoran i ingkon songon miak dohot nambur do pangalaho/bangko ni jolma i ditongatonga ni keluarga, huria dohot masyarakat. Kecenderungan ni miak dohot nambur ima bergerak tu toru do ndang tu ginjang. Maol do harmonis parhahamarangion manang parsaoran molo ganup jolma manang ruas ni keluarga dohot huria nang angka punguan na marragam i paburnangburnang diri dohot patimbo dirina huhut patutoru donganna jolma. Ingkon lam marsiajar do ganup hita martoruk ni roha (rendah hati=low profile). Apostel Paulus mandok, “sada ma parrohahon hamu; sada ma haholonganmuna; saroha, sapingkiran ma hamu! Unang ma mardingkandingkan manang marhasangapon na rumar; alai sian toruk ni rohamuna be ma rajumi hamu donganmuna sumurung sian dirimuna! Unang ma na ringkot di hamu be matahon hamu, dohot ma na di dongan! Songon parrohaon ni Kristus Jesus ma parrohaonmuna!” (Filp 2:2-5). Amen.

Selasa, 14 April 2009

Tiga Tokoh Dalam Kesengsaraan Tuhan Yesus

  1. Imam-iman Kepala, Imam-iman Besar, Ahli-ahli Taurat, orang Farisi dan Tua-tua Israel. Tokoh-tokoh ini adalah manusia yang mengorbankan kebenaran demi tradisi dan agama (religius). Mereka takut agama Yahudi terancam ditinggalkan oleh pengikutnya oleh karena semakin banyak orang yang mengikuti Tuhan Yesus. Mereka kalah pamor dengan Tuhan Yesus. Setiap hari Tuhan Yesus semakin terkenal dan mereka semakin kehilangan muka di hadapan rakyat. Melihat mujizat dan kuasa yang Tuhan Yesus lakukan selama pelayananNya 3,5 tahun bukan membuat mereka percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah, tetapi malahan semakin membuat mereka gelisah dan merasa dikalahkan. Tuhan Yesus mencelikkan orang buta, menyembuhkan orang pincang, yang bisu disembuhkan, mengusir orang yang kerasukkan setan, meredakan angin ribut, menyembuhkan orang kusta, memberi makan 5000 orang dan membangkitkan orang mati. Semua mujizat ini bukan membuat mereka menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan satu oknum Sang Penguasa dan Pencipta Alam Semesta. Sebaliknya mereka merasa disaingi, apalagi ketika Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai Sang Pengampun Dosa mereka pun memutuskan bahwa Tuhan Yesus telah menghujat Allah. Apakah Anda sedang bertahan terhadap tradisi yang tidak sesuai dengan kebenaran? Apakah Anda sedang mempertahankan agama yang tidak sesuai dengan kebenaran? Ahli-ahli Taurat, ahli-ahli Farisi, para Imam-imam Besar dan Imam-imam kepala juga mempertahankan agama mereka. Mereka berjuang dengan gigih untuk mempertahankan tradisi Yahudi dengan mengorbankan kebenaran. Rasanya memang aneh jika kebenaran dikorbankan untuk agama, tapi inilah yang terjadi pada saat itu. Apakah hidup Anda sesuai dengan kebenaran atau sesuai dengan tradisi dan agama Anda? Kenapa mereka membenci Tuhan Yesus? Tidak lain karena mereka merasa sakit hati. Tuhan Yesus pernah mengecam mereka: “Celakalah kamu…”. Oleh sebab apa? Oleh karena para imam-imam besar, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang Farisi adalah orang yang munafik. Mereka menjalankan kehidupan rohani mereka dalam kepicikan. Mereka adalah orang–orang yang religius. Sifat dengki mereka ini pun diketahui oleh Pilatus saat mereka membawa Tuhan untuk diadilinya (Mat 27:18, Mark 15:10). Tuhan Yesus dating ke dunia bukan mengajarkan cara agama yang baik kepada umat manusia. Tuhan datang untuk membebaskan manusia dari kungkungan dan belenggu agama (bersifat religius) membius manusia. Jangan pikir kalau sudah melayani di Gereja berarti sudah rohani, kalau sudah bisa doa berjam-jam, kalau sudah bisa puasa sudah rohani, atau kalau sudah sebagai Majelis sudah cukup rohani. Awas apakah Anda sedang bermain-main dengan religius? Kalau Anda menjalankan pelayanan tidak dengan rasa hormat dan takut akan Tuhan, kalau tidak dengan rasa syukur oleh sebab Tuhan mau pakai kita melayaniNya, kalau untuk memuliakan golongan atau kalangan sendiri maupun untuk pribadi, kalau dengan motivasi-motivasi yang tidak murni maka Anda sedang menjalani kehidupan rohani Anda seperti ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, dan para imam-imam Besar. Hidupmu sama seperti batu kuburan yang dicat putih. Luarnya kelihatan bagus tapi dalamnya jorok, busuk dan kotor. Dalam rekan-rekan sepelayanan kami ada satu istilah yang cocok sekali mengambarkan hal ini yaitu: “Muka nabi pikiran kotor”. Orang type apakah orang-orang ini? Mereka adalah orang yang tidak bisa dinasehati. Hati mereka telah ditutupi oleh agama dan menjadi bebal. Telinga mereka ringan untuk mendengarkan teguran. Sekali ditegur/dinasehati langsung sakit hati, bukannya bertobat. Orang-orang seperti ini biasanya menyimpan sakit hati mereka menjadi dendam, iri dan dengki. Orang-orang seperti ini juga banyak dijumpai di dalam gereja dan pelayanan. Mereka tidak mau bertobat malah mengalang kekuatan/massa, menghasut orang lain, menyebarkan gossip dan kesaksian palsu untuk memojokkan orang yang telah menegurnya. Para imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat berupaya dengan gigihnya untuk membunuh Tuhan Yesus dengan memanggil saksi-saksi palsu di pengadilan Mahkamah Agama dengan maksud memberatkan tuduhan terhadapNya. Mereka menghasut orang-orang untuk membebaskan Barabas dan menyalibkan Tuhan Yesus (Mat 27:20, Mark 15:11). Mereka baru akan berhenti jika bola akhir mereka berhasil masuk gawang yaitu membunuh Tuhan Yesus. Mereka menyangka bahwa mereka telah berbakti kepada Allah karena membela agama Yahudi. Kalau kita tidak sungguh-sungguh mengenal kebenaran, maka kita akan menjadi musuh kebenaran.
  2. Orang ke-2 yang ingin kita lihat adalah salah satu murid Tuhan Yesus yang sudah cukup terkenal. Ia adalah Yudas Iskariot. Kalau bicara mengenai Thomas kita ingat bahwa dia adalah Sang Peragu. Kalau bicara tentang Yudas Iskariot maka kita pun tahu bahwa ia adalah Seorang Pengkhianat. Dipilih oleh Allah untuk hidup sezaman dengan Tuhan Yesus merupakan hal yang sangat beruntung sekali. Dari zaman Adam dan Hawa, Allah telah merencanakan suatu keselamatan bagi umat manusia. Keselamatan ini yang terus diteliti dari tahun ke tahun, abad demi abad oleh para nabi dalam PL. (I Pet 1:10 Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu). Allah menjanjikan datangnya seorang Pembebas yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel saat itu. Oleh sebab itu bangsa Israel memiliki paham Mesianic. Para Nabi bernubuat demi nama Tuhan tentang keselamatan ini. Misalnya Nabi Yeremia, Zakaria, Yesaya, dll. Mereka hanya menyampaikan pesan dari Allah namun tidak pernah melihat, merasakan dan hidup sezaman dengan tokoh yang mereka nubuatkan. Mereka menanti dan menanti siapakah tokoh yang akan muncul untuk menyelamatkan bangsa Israel, namun mereka tidak pernah sampai pada zaman itu. Yohannes pernah berkata: “Membuka tali kasutNya pun aku tak layak” Siapakah Yudas Iskariot? Dia adalah orang yang sangat beruntung yang bisa mengecap, merasakan, mengalami dan melihat sendiri dalam hidupnya siapakah Sang Penyelamat ini. Dia bisa mempelajari pengajaranNya secara langsung. Dan yang lebih istimewa adalah bahwa tokoh yang dikirim oleh Allah itu tidak lain adalah inkarnasi dari salah satu Oknum Tritunggal..!! Tokoh yang dikirim oleh Allah itu tidak lain adalah Anak Allah yang berkuasa mengampuni dosa orang banyak. DIA adalah ALLAH sendiri Sang Pencipta..!! Inilah perbedaan Kekristenan dengan agama-agama lain. Saya sebut dengan kata “Kekristenan” bukan kata “agama Kristen” karena Tuhan Yesus bukan datang untuk mengajarkan agama kepada umat manusia. Ini perbedaan pertama, perbedaan yang lain adalah konsep keselamatan pada agama lain yang tidak jelas dijelaskan dalam Kekristenan. Penyelamatan yang dilakukan Allah adalah pekerjaan yang luar biasa. Kenapa? Karena untuk mewujudkannya melibatkan keberadaan Allah sendiri. Allah sendiri yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia. Pada agama lain siapa yang menyelamatkan siapa? Tidak lain adalah diri sendiri menyelamatkan diri sendiri. Pertanyaannya adalah: Apakah bisa….? Buatlah kebaikan pada orang lain, semoga kamu diterima disisiNya, atau semoga di kehidupan lain bisa lebih baik. Ini seumpama orang terjebak dalam lubang perangkap binatang di tengah hutan – bisakah dia menyelamatkan dirinya kalau tidak ada orang yang di atasnya yang mengulurkan tangan, tali atau tongkat kepadanya? Siapakah yang dapat hidup bersama dengan Allah yang suci jika masih berdosa? Dan siapakah yang berhak mengampuni dosa manusia selain Allah? Konsep keselamatan dalam Kekristenan sangat jelas sekali karena itulah yang Allah firmankan dalam Alkitab. Yudas Iskariot hidup sezaman dengan Sang Penyelamat, dan dipanggil menjadi murid merupakan anugerah yang terbesar. Namun sekalipun merupakan anugerah dan keberuntungan, Yudas Iskariot sama sekali tidak mempergunakan waktu dan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Dia malah menganggap sepi saja semua anugerah ini. Yudas ini dipercayai Tuhan Yesus untuk mengelola kas dan keuangan. Ia adalah seorang bendahara. Namun dia adalah seorang pencuri. Dia sering kali memakai uang kas untuk kepentingan diri sendiri. Dia adalah orang yang cinta uang dan tamak yang pandai memoles kejahatannya dengan kemasan Kekristenan (penipu dan pandai berdalih) (Yoh 12:1-8). Apakah Tuhan Yesus tidak tahu bahwa dia sering melakukan pengelapan uang? Tidak! Tuhan Yesus tahu semua yang dilakukannya, namun Tuhan Yesus tetap memberikan kepercayaan untuk menjadi bendahara kepadanya. Kenapa? Sering kali kita juga melihat bahwa orang yang melakukan KKN tetap selamat dari jeratan hukum. Orang yang melakukan kejahatan hidupnya malah semakin makmur, seakan-akan Allah malah berpihak kepada mereka. Tetapi apakah Allah memang demikian? Baca Amsal 24:19-20, Maz 37 dan Rom 12:19! Jika Yudas Iskariot masih dipercayai untuk memegang kas itu tidak lain adalah supaya dia menyadari kejahatannya dan segera bertobat. Ini adalah waktu kesabaran dan kemurahan Tuhan dinyatakan. Namun sering kali kita menyia-nyiakan waktu ini. Kita malah semakin menambah kejahatan kita dengan waktu hidup kita. Orang-orang seperti ini hanya menimbun murka Tuhan untuk dinyatakan pada waktunya. Yudas Iskariot adalah Bendaharawan Yang Tidak Jujur. Tokoh Yudas juga adalah tokoh yang menjual Gurunya seharga 30 keping perak. Inisiatif untuk menjual Gurunya datang dari dirinya sendiri, hal ini terbukti dengan kepergiannya untuk menawarkan diri kepada para imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah untuk menangkap Tuhan Yesus. Tuhan sudah memberikan peringatan kepadanya dengan menunjukkan kepada ke-11 murid lainnya siapa yang akan mengkhianatiNya dalam Perjamuan Paskah. Teguran terakhir ini dari Tuhan Yesus ini juga ditolak dan dianggap sebagai perlawanan oleh Yudas. Maka sesudah teguran itu Alkitab mencatat bahwa Iblis segera menguasai orang yang menjadi tawanannya. Sesudah itu Yudas Isakariot segera menemui imam-imam kepala dengan meminta imbalan uang jika menyerahkan Gurunya tanpa sepengetahuan orang banyak. Bagaimana melakukan tanpa sepengetahuan orang banyak? Jawabnya secara rahasia dan tipu muslihat. Hal ini mencakup waktu yang tepat dan tempat yang biasa dikunjungi oleh Tuhan Yesus. 30 keping perak saat ini kurang lebih sama dengan UMR seorang buruh. Dengan harga Rp.500.000-an dia menjual Gurunya yang memang belum dianggapnya sebagai Tuhan. Panggilan yang paling tinggi dari Yudas Iskariot untuk Tuhan Yesus hanya “Rabbi” sementara murid-murid lainnya memanggil Tuhan Yesus dengan sebutan “Tuhan”. Akhir hidupnya adalah binasa dengan perut terbelah yang sebelumnya diawali dengan peperangan psikologis yang hebat di dalam dirinya. Ia menjadi peringatan yang keras buat kita sebagai pengikut Tuhan Yesus supaya bersungguh-sungguh. Yudas tidak pernah bersungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus. Dia tidak pernah memiliki persekutuan yang erat dengan Tuhan dan tidak memiliki Roh Kristus. Yudas Iskariot adalah mewakili orang yang rela menjual iman kepercayaannya hanya demi materi.
  3. Tokoh ke-3 yang menjadi sorotan menjelang saat-saat kesengsaraan Tuhan Yesus adalah Pontius Pilatus. Pilatus adalah seorang wali negeri Yehuda yang memiliki kuasa yang besar. Atas keputusannyalah maka Tuhan Yesus disesah dan disalibkan oleh imam-imam kepala, imam-imam besar, ahli Taurat dan lain-lainnya. Ia adalah orang Romawi yang diangkat oleh Kaisar Tiberius. Sebagai wali negeri, Pontius Pilatus memiliki kuasa penuh atas hidup dan matinya seseorang. Setelah Makamah Agama (Imam Besar Kayafas) mendapati Tuhan Yesus – yang menurut mereka telah menghujat nama Allah, IA dihajar oleh ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala bahkan mereka mempermainkan Tuhan Yesus dengan menutup mukaNya dengan kain lalu memukul dan meninjuNya sambil berkata, “Cobalah katakan kepada kami, siapakah yang telah memukulMU”. Setelah puas, mereka mengirimkan Tuhan Yesus kepada Pontius Pilatus. Dalam mengadili Tuhan Yesus, ia sendiri tidak mendapati kesalahan apapun. Namun atas desakan orang banyak yang telah dihasut oleh imam-imam kepala, imam-imam besar dan ahli Taurat, akhirnya Pilatus menjatuhkan hukuman mati untuk Tuhan Yesus dengan disalibkan. Dalam memutuskan perkara ini Pontius Pilatus melakukan tindakan ABS (asal bapak senang). Padahal sebagai wali negeri ia memiliki kuasa penuh terhadap orang yang di wilayahnya. Ia bahkan sanggup merubah hasil keputusan Sanhedrin. Alasan tindakannya menjatuhkan hukuman salib ini bukanlah ingin menyenangkan pembesar-pembesar Yahudi tetapi karena ia takut kedudukan dan posisinya terancam jika terjadi keributan di daerah kekuasaannya. (Mat 27:24). Sekalipun sudah dinasehati oleh isterinya untuk tidak mencampuri urusan orang yang tak berdosa, Pilatus tidak mengindahkannya. Isterinya sudah mendapat peringatan berupa mimpi buruk, namun dia tidak mengubrisnya. Pilatus lebih mengutamakan posisi dan jabatannya ketimbang memihak kepada yang benar. Pilatus rela menjual kebenaran demi kedudukannya. Akhirnya diambilnyalah sebaskom air dan mencuci tangan di hadapan orang banyak sebagai tanda bahwa ia tidak bersalah atas keputusannya. Apakah dengan cara ini bisa menghapus dosanya karena memutuskan untuk membunuh Tuhan Yesus? Tentu tidak! Kita juga sering melakukan praktek-praktek seperti yang dilakukan oleh Pilatus. Kalau posisi jabatan kita terancam masihkah kita berpegang kepada kebenaran? Apakah kita tetap setia ketika diancam PHK jika tidak membuat laporan palsu? Orang-orang seperti Pilatus sering kita jumpai sehari-hari. Mereka akan melakukan segala cara demi mempertahankan kedudukan, pamor dan nama, bahkan kalau perlu nyawa orang lain dikorbankan juga tidak apa-apa. Akhir dari hidup Pilatus memang tidak dicatat dalam Alkitab secara jelas, namun menurut catatan tradisi, Pilatus menjadi terobsesi dengan tindakannya. Ia selalu melihat tangannya dan menemukan bahwa tangannya berlumuran darah. Dan setiap kali ia melihat tangannya yang berlumuran darah, ia akan mengambil sebaskom air lalu mencuci tangannya di situ. Lalu beberapa jam kemudian Pontius Pilatus mendapati tangannya berlumuran darah kembali dan ia pun kembali menyiapkan sebaskom air dan membasuh tangannya di situ. Hal ini terus berlangsung dan berulang-ulang dia alami bahkan di saat ia memimpin persidangan. Hukuman Tuhan kepadanya sangat ngeri. Kemudian kedudukannya digeser dan digantikan oleh Marcellus. Ia terobsesi sepanjang hidupnya sampai akhirnya ia bunuh diri dengan menggunakan pedangnya sendiri di penjara Roma. Para imam-imam besar, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mewakili orang yang lebih mengutamakan tradisi agama daripada kebenaran. Yudas Iskariot mewakili orang yang lebih mencintai uang dan bersedia menjual iman kepercayaannya. Dan Pontius Pilatus adalah mewakili orang yang mengutamakan nama dan kedudukan dari pada kebenaran. Apakah Anda termasuk salah satu dari mereka..?

Sekilas tentang Yudas Iskariot


1. Peringatan Paskah selalu mengingatkan kita kepada dua nama penting selain Yesus sendiri, yaitu Pontius Pilatus dan Yudas Iskariot. Peristiwa penangkapan terhadap Yesus tak terlepas dari peran serta Yudas Iskariot. Kitab Perjanjian Baru secara keseluruhan ada 40 ayat yang mencatat tentang penghianatan Yudas. Mungkin tidak ada ibu yang mau memberi nama anaknya “Yudas”, sebab nama ini selalu diassossiasikan dengan ‘penghianat’. Padahal sebenarnya nama Yudas itu bagus sekali: Praise = pujian bagi Tuhan (dalam bahasa Ibrani: Yehuda, Yuda). Dalam Alkitab ada empat orang yang memiliki nama Yudas, Yudas dari Damsyik, teman Saulus; Yudas Barsaba, seorang tokoh gereja kuno; Yudas anak Yakobus, murid Yesus dan Yudas saudara kandung Yesus.

2.
Yudas adalah anak dari Simon Iskariot (Yoh 6:71). Nama Yudas adalah nama yang umum dan sering ditemukan baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di antara kedua belas murid pun ada dua yang memakai nama Yudas. Iskariot menunjuk pada bahasa Ibrani "seorang laki-laki Kerioth" atau Carioth, yang adalah kota Judah (Bdk. Joshua 15:25). Dapat dipastikan bahwa interpretasi ini akurat, meskipun dikaburkan saat ditranslasi ke`dalam bahasa Yunani, dan derivasi lain yang juga disarankan (seperti dari Issachar). Tempat kelahirannya adalah Keriot, ditunjukkan oleh nama di belakang Yudas. Mungkin juga menunjukkan asalnya yang berbeda dari 11 murid Yesus yang semuanya adalah orang Galilea karena Kerioth adalah kota suku Yehuda. William Barclay memberi tafsiran yang sangat menarik. Yudas adalah satu-satunya murid Tuhan Yesus yang berasal dari Yudea, sebuah propinsi elite, pusat pemerintahan yang terletak di atas pegunungan. Kesebelas murid yang lain berasal dari Galilea, propinsi "kelas dua". Nama belakang Iskariot besar kemungkinan berkaitan dengan sebuah kelompok pejuang perlawanan radikal Yahudi terhadap penjajah Romawi. Karena keradikalannya dalam memperjuangan keinginannya kelompok ini biasa disebut sebagai "Kaum Pembawa Pedang”. Beberapa pendapat mengatakan bahwa fakta ini memiliki pengaruh dalam karir Yudas di antara para murid, bahwa Yudas berusaha menarik simpati dari saudara-saudaranya tersebut. Alkitab tidak menceritakan tentang tingkat pendidikan Yudas, tetapi pada umumnya seorang laki-laki Yahudi memperoleh pendidikan di sinagoge-sinagoge. Sistem Pendidikan sudah lama dikenal, baik dikalangan masyarakat Yahudi ataupun non-Yahudi. Masyarakat Yahudi, terutama keluarga memberikan perhatian yang sangat besar dalam pendidikan terhadap generasi penerusnya. Tujuan utama adalah agar mereka memelihara iman monotheisme mereka dan memelihara hukum Taurat, sesuatu yang seringkali diabaikan ketika Israel berada dalam masa kejayaannya. Tidak dicatat pula oleh Alkitab kapan Yudas lahir dan berapa umurnya saat Yesus memanggil kedua belas murid. Sejarah dunia hanya mencatat perkiraan tahun kematiannya,yaitu sekitar tahun 29-33 M

3. Yang selalu menjadi pertanyaan kita ialah, “Mengapa Yesus memilih Yudas untuk menjadi muridNya, apakah Dia tidak mengetahui karakter Yudas?” Yesus sebagai Allah yang maha tahu. Dia tahu siapa Yudas sebenarnya, Johanes menuliskan ‘…..sebab Yesus tahu siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia’ (Yoh. 6: 64). Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, karena Tuhan melakukan kehendakNya yang mutlak untuk memilih Yudas menjadi murid dan untuk kematian Yesus sesuai nubuatan di Perjanjian Lama (Yoh 17:12), sedangkan bagi Yudas, kehendak bebasnya, yang membuat dia menjadi penghianat.
Panggilan Yesus terhadap para murid dimulai ketika Dia memberitakan tentang pertobatan dan Kerajaan Surga (Mat 4:17). Setelah itu, satu persatu Yesus mendatangi mereka. Keempat Injil tidak memberikan detail kapan Yudas Iskariot dipanggil oleh Yesus, namun yang jelas nama Yudas Iskariot muncul dalam masa-masa popolaritas Yesus. Yesus memang memilih kedua belas murid itu berdasarkan kehendakNya (Yohanes 6:70), namun berdasarkan karakter Yudas yang Alkitab ceritakan, kemungkinan Yudas menerima panggilan agung tersebut karena terdorong motivasi yang salah tentang Kerajaan Surga. Yohanes baru menyebut nama Yudas Iskariot dalam Injil ketika popularitas Yesus menurun (banyak yang berhenti mengikut Yesus-Yohanes 6:66). Bisa jadi, Yudas berniat menyerahkan Yesus untuk mendongkrak kembali popularitas Tuhan kita di antara bangsa Yahudi. Meskipun komentar ini tampak apriori, sebenarnya bukan tidak mungkin Yudas berpikir demikian. Karena dia berada dalam komposisi dua belas murid, sudah tentu dia juga melihat pekerjaan-pekerjaan Yesus yang begitu dahsyat dan ajaib. Yudas yang tidak mengerti bahwa Yesus datang bukan untuk mendirikan kerajaan dunia dengan menghancurkan kerajaan romawi, namun untuk mendirikan kerajaan mesianik (Yohanes 18:36 bd Matius 10:7). Perkiraan Yudas memang meleset, bukannya melawan, Tuhan kita Yesus Kristus malah menyerahkan diriNya (Matius 26:53-54), itu sebabnya Yudas menyesal begitu rupa hingga ia membunuh dirinya sendiri. Yudas tidak pernah bertobat dari dosa-dosanya, dan Alkitab tidak menceritakan pertobatan seorang Yudas Iskariot.

4. Pengaruh orang lain terhadap Yudas dan pengaruhnya terhadap orang lain.
Yudas terlihat memberikan pengaruh negatif terhadap orang lain, hal ini dapat kita lihat dalam kisah perempuan yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu. Matius (26:8-10) menceritakan : “Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin". Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku“. Dalam Injil Markus (14:4-6) menjelaskan, “Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Lalu mereka memarahi perempuan itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku” Demikian pula halnya dengan Yohanes (12:4-6) yang menerangkan, “Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya”. Oleh karena itu dari ketiga referensi di atas, Yudas berhasil mempengaruhi seluruh teman-temannya untuk menjadi gusar seperti dia. Yudas berdalih bahwa minyak narwastu dapat digunakan untuk menolong orang-orang miskin untuk membuat Yesus memerintahkan perempuan itu berhenti meminyaki kakiNya dan menyerahkan minyak mahal itu kepada Yudas. Tuhan yang mengetahui isi hati Yudas menjawab kegusaran para murid yang dipengaruhi Yudas dengan perkataan : “Biarkanlah dia…ia telah melakukan suatu perbuatan baik pada-Ku” Yudas juga dipengaruhi oleh apa kata orang, terlebih lagi saat Yesus melewati masa popularitas, masuk dalam masa oposisi dan saat-saat terakhir hidupNya. Kita bisa melihat melalui diorama yang direkam oleh Matius (26:55 ), “Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku” Ketika memasuki masa oposisi, banyak pemimpin agama Yahudi yang menentang Yesus dan menghujat pekerjaan-pekerjaanNya sebagai suatu tindakan yang meresahkan. Sudah berulang kali mereka ingin melempari Yesus dengan batu dan kemungkinan besar murid-muridNya bersama-sama dengan Yesus dalam masa oposisi tersebut (Yohanes 11:8). Yesus adalah buronan yang dicari-cari oleh pemimpin agama Yahudi. Yudas memang tidak dipengaruhi oleh para pemimpin agama secara langsung. Tapi dia cinta akan uang, dia memanfaatkan keadaan ini untuk memperoleh “dana tambahan”.

5. Pertumbuhan Rohani.
Tingkat rohani yang kekanak-kanakan dan tidak berbuah. Yudas bukannya belajar dari Sang Guru dalam mengerjakan apa yang baik dan benar, Yudas mementingkan dirinya dan mencelakakan Sang Guru. Pelayanannya adalah sebagai seorang bendahara (Yoh 12:6,13:29). Dosa dan kekurangan Yudas adalah tergoda harta benda dan ambisi pribadi membuat dia menjadi pengkhianat terhadap Sang Guru (Lukas 6:16). Dia juga pencuri kas pelayanan (Yoh 12:4-6). Dia juga tidak mendengarkan teguran Tuhan dalam Perjamuan Terakhir, dan karena Tuhan mengetahui kekerasan hati Yudas, Dia berkata,”Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera”. Yudas memang melakukannya, dan tidak memohon pengampunan atas dosanya, atas dirinya yang telah dirasuki iblis. Bandingkan sikap Yudas ini dengan keadaan yang serupa seperti Daud. Daud pernah dibujuk iblis untuk menghitung orang Israel,namun pada akhirnya Daud menyesal dan memohon pengampunan kepada Tuhan (1 Tawarikh 21:1-8). Salah satu ciri bahwa Tuhan menegur kita adalah adanya penyesalan di dalam hati. Baik Daud maupun Yudas sama-sama merasakan penyesalan yang mendalam atas perbuatannya yang salah. Tapi sementara Daud memilih untuk jatuh ke dalam kasih sayang Tuhan, Yudas memilih untuk mendengarkan bujukan iblis!

6. Penilaian Alkitab terhadap Yudas.
Sebagai murid (Mat 10:4), Pengkhianat (Mat 10:4,Mar 3:19,Luk 6:16,Yoh 18:2), Manusia celaka (Mat 26:24), Jatuh ke tempat yang wajar baginya (KPR 1:25). Dia lebih mencintai uang ketimbang mencintai guru agungnya (Matius 26:14-15). Licik (Matius 26:16, Lukas 22:6). Tidak berpikir panjang, ditunjukkan oleh penyesalan Yudas yang mendalam (Matius 27:3). Tidak mau bertobat atas kesalahan, malah membunuh diri sendiri (Matius 27:5). Tidak bisa dipercaya (Yohanes 12:6). Dia adalah Perantara Yesus dalam memberi kepada orang miskin atau untuk keperluan kelompok (Yohanes 13:29). Yesus Kristus Sang Guru Agung menyebut Yudas Iskariot sebagai teman (Matius 26:50). Alkitab juga mencatat bahwa Yudas mati dengan kondisi perut terbelah dan semua isi perutnya keluar (Kisah Para Rasul 1:18). Posisinya digantikan oleh Matias setelah kesebelas murid membuang undi untuk menentukan siapa orang ke-12 yang akan menggantikannya (Kisah Para Rasul 1:26). Yudas Iskariot inilah yang dianggap oleh beberapa kalangan "dikorbankan" dengan disalib menggantikan Yesus Kristus untuk mengelabuhi banyak orang.
  • Judas as the chosen one (not special one). Yudas adalah murid Yesus yang disebut sabagai Iblis (Yoh 6:70), bukan Tuhan tidak tahu mengenai sifat Yudas, tetapi Yudas adalah the chosen one. Entah rumus apa yang dipakai dalam menentukan sang the chosen one, hanya Tuhan yang tahu.
  • Judas the Corruptor. Yudas adalah salah satu dari 12 murid Yesus, posisinya adalah sebagai pemegang kas atau bendahara.Yudas memiliki sifat pencuri, Yudas adalah seorang hamba mamon. Pada saat Maria Magdalena hendak mengurapi Yesus dengan minyak, Yudas adalah orang yang paling perhitungan dengan apa yang dilakukan oleh Maria Magdalena, dengan licik Yudas berkata lebih baik uangnya digunakan untuk orang miskin. Rayuan uang ternyata sangat kuat. Cinta akan uang membutakan mata Yudas, sekalipun ia berada bersama Tuhan sendiri, tetap saja uang telah membuatnya gelap mata. Yudas berkata begitu bukan karena ia memperhatikan orang miskin, tetapi karena ia pencuri. Ia sering mengambil uang dari kas bersama yang disimpan padanya. (Yohanes 12:6). Yudas menyesal karena telah menumpahkan darah orang yang tidak bersalah (Yesus), apa yang ia lakukan atas penyesalannya kemudian adalah melempar uang penghkianatannya kedalam Rumah Tuhan. bisa dikatakan selama perjalanan Yesus dan para rasul, sudah banyak uang yang di korupsi Yudas. Yesus sudah pasti tahu karakter Yudas, tetapi mengapa Yudas justru menjabat sebagai bendahara? ibarat meletakan serigala dalam kandang domba, mungkin hal ini juga hanya Tuhan yang tahu.
  • Judas and the Last Supper. Selain itu ada perbedaan lain yang cukup jelas tentang Yudas dibandingkan dengan rasul yang lain. Jika melihat peritiwa yang terjadi sebelum Yudas dikuasai oleh iblis, maka bisa terlihat kalau ia memakan roti perjamuan terakhir dengan cara yang berbeda, yakni ia memakan roti yang DICELUPKAN kedalam anggur (Yoh 13:26). Sampai hari ini ada gereja-gereja yang melakukan cara Yudas memakan roti perjamuan terakhir, bahkan gereja tersebut merupakan sebuah aliran gereja besar di dunia. Mengapa Yudas tidak bertanya; mengapa Yesus memberikan roti tersebut kepadanya ? Pada sisi yang lain; ke-11 Rasul tidak ada yang fokus dan menyimak pada apa yang dikatakan Yesus, sehingga tidak ada yang peduli mengapa Yudas yang diberikan roti tersebut. Padahal semua murid pada awalnya sangat concern pada masalah ini. Mungkin inilah yang dipikirkan Yudas bin Simon Iskariot; seiring pengembaraannya dengan Sang Guru tentu Yudas melihat begitu banyak Mujizat yang Tuhan Yesus lakukan, lalu berpikirlah Yudas bahwa “mungkin” Sang Guru butuh sedikit cambukan agar “bertindak”. Maka dia menyerahkan Tuhan Yesus hanya demi 30 keping perak karena pikir Yudas, orang yang sanggup membangkitkan si mati, mencelikkan si buta, membuat berjalan si lumpuh, menyembuhkan pendarahan puluhan tahun pastilah SANGGUP pula membebaskan diriNya dari tentara-tentara Romawi.
  • Judas and his Suicide. Yudas tidak menerima anugerah Roh Pertobatan seperti Petrus, sehingga alih-alih ia bertobat atas apa yang dilakukannya, malah ia bunuh diri. Yudas terintimidasi oleh iblis sehingga ia berada dalam posisi sudah jatuh tertimpa tangga. Apa yang Yudas lakukan adalah apa yang Yudas pikirkan berdasar pertimbangannya sendiri, bukan apa yang diajarkan Yesus selama Yudas mengikutNya.

7. Mengapa Yudas bisa menghianati Yesus?
  • Yudas Ikut Yesus Dengan Motivasi Yang Salah. Diantara para murid, ada yang mau mengikut Yesus dengan motivasi yang keliru. contoh: Yakobus & Yohanes (Mar. 10: 35- 37): motivasi kedudukan. Ternyata bukan saja Yakobus dan Yohanes, melainkan Yudaspun demikian. Yudas sangat berambisi dalam politik dengan mencintai kekuasaan dan kedudukan, pemberitaan tentang Kerajaan Allah yang menarik perhatian banyak orang, membuat dia untuk mengikut Yesus dan menjadi murid Yesus.Dari sejak awal Yudas melihat Yesus sebagai pemimpin politik atau pahlawan yang hebat, bukan sebagai guru, sahabat, Juru selamat atau Tuhan, seperti murid yang lain, yang karena pengajaran Yesus mereka menjadi kagum kepada Yesus dan mengasihi Yesus. Yudas meresponi mujizat Yesus dengan pemikiran yang menyenangkan pengharapan dirinya. Yudas seorang yang berkeinginan kuat dan angkuh, karena itu, dia tidak bisa merubah pandangannya tentang Raja yang baru. Yudas yang pada awalnya tidak pura-pura dan secara tidak sadar, hatinya yang bercabang antara kesenangan duniawi dan pengajaran Yesus, membuat hidupnya berakhir dengan tragis. Yudas hidup bersama Yesus dengan murid-murid yang lain selama kira-kira 3 tahun lamanya, dia diajar oleh Yesus, diberi kuasa untuk mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dia perlakukan sama oleh Yesus seperti murid-murid lainnya, tetapi Yudas tidak memberi tempat untuk anugerah Allah dalam hatinya, sehingga dia hanya menjadi agen untuk mempromosikan kasih anugerah Allah. Dari sikap Yudas ini terbukti, bahwa orang bisa menjadi bagian dari gereja atau kegiatan kekristenan, tetapi dalam hatinya belum tentu menjadikan Yesus sebagai Juru selamat dan Tuhan. Yudas berfokus kepada apa yang dia akan dapat, bukan kepada apa yang harus dia berikan. Apakah motivasi anda dalam mengikut Yesus? Ada empat motivasi yang salah: 1). Supaya beroleh kuasa atau karunia (Kis. 8: 9- 24); 2. Supaya beroleh posisi (Mark. 10: 35- 37). 3). Supaya beroleh berkat tanpa menjadi berkat (Mat. 19: 16- 26). 4). Supaya beroleh kepopularitasan.
  • Yudas Memberi Tempat Kepada Iblis. Pada masa pelayanan Yesus banyak wanita kaya yang menyumbang untuk Yesus dan murid-muridNya (Lukas 8:3). Yudas dipercayai untuk menjadi bendahara, dia memiliki keahlian mengatur keuangan, karena karakternya yang cinta uang. Yohanes mengatakan, bahwa Yudas mencuri uang yang dipercayakan kepadanya (Yoh.12: 5- 6). Iblis tidak akan masuk ke dalam hidup kita, kalau kita tidak membuka pintu atau menyediakan tempat untuk dia berpijak (foodhold). Yudas ternyata membuka diri terhadap Iblis. Mungkin pada awalnya Yudas tidak bersifat pura-pura, tetapi karena hatinya yang bercabang itu, menjadi tempat untuk Iblis berpijak. Yudas adalah seorang yang memiliki karakter curang, tidak jujur, lebih-lebih dalam soal uang. Hal ini terus berkelanjutan hingga Alkitab menuliskan, Lukas 22: 3- 6, “maka masuklah Iblis”. Yudas tetap masih menjadi murid Yesus, tetapi ia menjadi alat Iblis. Ingatlah bahwa :Pikiran menentukan tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menentukan karakter dan karakter yang membawa kita kepada tujuan akhir. Yesus berkali-kali mengajar Yudas secara langsung dan tidak langsung, tetapi Yudas memilih jalannya sendiri. Pada malam Perjamuan akhir sebelum Yesus diserahkan, Dia memecahkan roti dan memberikanNya kepada Yudas supaya dia bertobat, tetapi Yohanes menulis “…dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Setan “(Yoh. 13:27). Yudas telah memberikan hatinya kepada Setan akibat karakternya, untuk mengkhianati Yesus.Berapa banyak orang yang sebagai aktivis Gereja, menjadi alat Iblis? Kadangkala dalam hal yang kecilpun, Iblis dapat beroleh tempat. (bd. Ef. 4: 27).
  • Yudas menghianati Gurunya dengan Ciuman. Yudas hidup bersama Yesus dan murid lainnya selama kira-kira 3 tahun lamanya, sehingga dia mengerti sekali ketika Yesus berkata tentang kematian dan penganiayaanNya, bahkan Yesus pernah mengajak mereka melihat taman Getsemani, dan Yudas mengerti perasaan Yesus saat Dia berkata tentang kematianNya. Tetapi semuanya ini bukan diterima oleh Yudas untuk dia bertobat, malahan pengetahuan ini dipakai oleh Yudas untuk merencanakan siasatnya bagaimana dia menghianati Yesus. Lukas 22: 4- 6, menulis bahwa setelah Yudas datang kepada Imam kepala dan penjaga Bait Allah untuk menyatakan siasat menyerahkan Yesus, mereka menjadi senang sekali dan menawarkan sejumlah uang. Bayangkan bagaimana pandangan mereka terhadap Yudas, tentu mereka memandang rendah kepada karakter Yudas. Ciuman yang biasanya dipakai sebagai tanda persahabatan untuk menunjukkan rasa intim, dipakai oleh Yudas untuk menghianati gurunya. Dosa yang paling keji adalah dosa penghianatan! Mengapa demikian ? Untuk bisa berkhianat, seseorang harus punya hubungan erat terlebih dahulu dengan orang yang akan dikhianati. Ini syaratnya, dengan ada hubungan baik terlebih dahulu, baru terjadi penghianatan. Matius menuliskan, “ketika Yudas mencium Yesus, Yesus menyebutnya sahabat, tetapi Yudas tidak menanggapinya” (Mat. 26: 50). Disini ‘ciuman’ dipakai oleh surga dan neraka dengan tujuan berbeda. Yudas menjual Yesus seharga 30 uang perak. Didalam Perjanjian Lama apabila seekor lembuh membunuh budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus menggantikan seharga 30 syikal perak (Kel. 21: 32). Jadi buat Yudas, Yesus hanya berharga seperti seorang budak yang mati ditanduk lembu. Ingatlah bahwa Sex, ambisi, perbuatan baik bisa menjadi alat surga dan neraka.

8. Dari dua belas murid Yesus, ada dua orang yang mempunyai karakter yang menonjol, sangat berbeda dengan yang lain. Kedua murid itu adalah Petrus dan Yudas Iskariot. Petrus adalah seorang yang sangat sederhana, tidak berpendididkan tinggi, namun ia seorang yang sangat ekspresif, ia sangat transparan sehingga apa yang ada dihatinya sangat mudah ditebak orang lain, hatinya hangat maka ia dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan dalam hatinya. Sedangkan Yudas Iskariot adalah seorang yang pandai, kritis dan ambisius, dia licik dan tidak suka melihat orang lain sukses dan berbuat baik. Karena kesederhanaan dan ketulusan hati Petrus, maka Allah mempunyai panggilan besar untuk Petrus. Panggilan itu dapat terjadi dalam hidupnya, setelah melalui berbagai macam ujian yang terjadi di dalam hidup Petrus sampai ia menjadi orang yang diperkenankan Allah. Lukas 5:1-11, Dalam Injil Lukas ini diceritakan begitu banyak orang ingin mendengarkan pengajaran Firman Allah dari Yesus, maka Yesus meminjam perahu Simon untuk tempat Ia mengajar. Petrus segera meminjamkan perahu itu, ia tidak memperhitungkan kerugian yang dideritanya bila perahu itu tidak dapat untuk bekerja. Petrus tidak memperhitungkan dengan Tuhan soal materi, ia meminjamkan dengan tulus. karena Tuhan sumber segala berkat, maka hal itu sebagai taburan benih untuk menuai berkali lipat ganda, sehingga kita diberkati makin melimpah. Hal itu terbukti dialami Petrus, katika ia taat kepada Yesus bertolak ke tempat yang lebih dalam, ia memperoleh ikan sangat banyak, ia memperoleh berkat yang melimpah. Setiap taburan materi yang diberikan dengan tulus, untuk pekerjaan Tuhan, maka Tuhan pun tidak melupakannya, bahkan Dia mengembalikan berkali lipat ganda. Petrus tidak hanya berhenti sampai disitu, dengan meminjamkan perahu (persembahan materi) dan kemudian hanya terkagum-kagum dengan berkat yang ia terima, tetapi ia meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus untuk menjadi penjala manusia, Petrus memberikan hidup seluruhnya untuk Tuhan dan ia dipakai dengan luar biasa. hati Petrus tidak terikat dengan pekerjaan dan harta bendanya, ia percaya kepada Yesus, sehingga ia menganugerahkan hidupnya untuk Tuhan, justru pada saat ia diberkati dengan luar biasa, bukan pada saat ia bangkrut atau jatuh miskin, Petrus dipakai Tuhan bukan dengan harta materinya, tetapi ia dipakai sebagai rasul Allah dengan kuasa Roh Kudus yang luar biasa. Petrus menjadi kaya dihadapan Allah, ia kaya secara rohani, maka otomatis kekayaan materi akan mengikutinya. Banyak orang Kristen mengikut Tuhan dengan tujuan mengejar kekayaan materi bukan kekayaan rohani. Padahal sumber segala sesuatu adalah bila kita memiliki kekayaan rohani, karena dengan demikian segala yang kita perlukan Allah menyediakannya. Kita memiliki iman untuk percaya penuh dengan setiap janji Allah maka kita menjadi kaya didalam segala sesuatu. Kisah Para Rasul 3:6, hal ini salah satu manifestasi dari kekayaan rohani yang ada didalam diri Petrus, setelah ia menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Petrus menjawab pengharapan orang lumpuh itu sehingga orang itu mempunyai masa depan dan memuliakan Tuhan. Matius 16:22-23, Ketika Petrus mengungkapkan ekspresi kasihnya kepada Yesus, langsung Yesus menegur dia dengan keras dan menghardik Iblis yang mengecoh Petrus, karena apa yang dipikirkannya bukan pikiran Allah. Menerima Teguran itu meskipun di depan banyak orang Petrus tidak marah atau tersinggung, karena ia memiliki roh kerendahan hati, Ia mau diluruskan. Sejak kita menerima Yesus dalam hati, Roh Kudus ada dihati kita, buah roh ada didalam kita. Mengapa sering terjadi buah Roh tidak bermanifestasi dalam kehidupan anak-anak Allah ? Bila kita ditegur atau diluruskan acapkali kita marah, tersinggung atau kesal, hal itu karena kita membiarkan jiwa kita dikuasai oleh ambisi diri sendiri, kita mempertahankan ego kita. Yesus sendiri memberi teladan bagaimana Ia rela mengosongkan diri, menerima celaan dan siksaan bahkan mati untuk kita dengan tidak mempertahankan ke-Allah-an-Nya. Kesetiaan Petrus luarbiasa, ketika orang banyak meninggalkan Yesus karena tidak bisa menerima pengajaran yang keras, Petrus dan murid-murid yang lain tetap bersama Dia. Dan hanya Petrus pula yang berani menjawab, Yohanes 6:68-69 "Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.". Berbeda dengan Yudas, dalam perjalanan mengikut Yesus, akhirnya ia tergoda oleh harta benda dan ambisi pribadi sehingga akhirnya ia menjadi pengkhianat (Lukas 6:16) Yakobus 3:16 " Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." Yudas adalah seorang pencuri (Yohanes 12:4-6), marilah kita taat membayar persembahan yang adalah miliki Tuhan. Bila kita tidak taat berarti kita mencuri milik Tuhan. Murid Yesus yang sejati, belajar menjadi kaya dihadapan Allah, banyak memberi yang terbaik dalam hal rohani maupun bentuk materi. Alkitab sendiri mengingatkan bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kisah Para Rasul 20:35). Janganlah nama kita tidak termasuk dalam kitab kehidupan seperti Yudas. Hendaklah kita hidup kudus dan setia dalam iman kita mengikut Yesus dan hidup tidak bercela jangan suka berdusta (Wahyu 14:4-5) Kita harus belajar taat, setia dalam hal memberi, tertib dan jujur dalam hal keuangan, jangan mudah tersinggung, tetapi rendah hati dihadapan Allah dan dihadapan manusia, bebaskan Roh Kudus, memimpin hidup kita. Yang dikehendaki Allah pada saat kita berjumpa dengan Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua kali, adalah kita berkenan dihadapan-Nya, dengan melihat kehidupan kita. Oleh karena itu kita harus hidup benar dan setia dihadapan Tuhan, dalam segala hal baik dalam perkara kecil maupun besar.

9. Yudas mengikut Yesus dengan hati yang bercabang, walaupun dia bergaul erat dengan Yesus, bahkan dia berkotbah, menyembuhkan orang sakit dan mengusir Setan, tetapi karakternya tidak mau berubah, akibatnya dia mengakhiri hidupnya dengan sangat menyedihkan. Hati-hati dengan pelayanan kita, jangan sampai kita menjadi agen untuk mempromosikan Kerajaan Allah dan kasih anugerah Allah, tetapi kita sendiri tidak mendapat bagian didalamnya. Tuhan menghendaki kita untuk melayani, tetapi Dia juga menghendaki kita untuk berubah karakter. Yudas Iskariot, seorang murid yang berkhianat dan menyerahkan Yesus untuk disiksa. Yudas menjadi salah satu pelaku yang membuka jalan bagi seluruh perjalanan sengsara Yesus.Yudas menjadi salah seorang yang ikut ambil bagian dalam penyaliban Yesus. Yudas.... adakah dia di masa sekarang ini? Apakah Yudas itu ada di antara kita? Ya... tak jarang justru kitalah yang tanpa sadar telah menjadi Yudas - Yudas yang ikut menyalibkan Yesus. Dengan segala kelemahan dan dosa yang masih menguasai diri kita, maka tanpa disadari kita seringkali juga ikut menancapkan mahkota duri di kepala Yesus, atau menancapkan paku-paku tajam di tubuh nan Suci itu.